Breaking News
Home » Pilihan » Tensi

Tensi

Adanya dinamika masyarakat Indonesia merupakan indikator kedewasaan bangsa ini ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Kehidupan berdemokrasi tak lepas dari konflik-konflik yang menjadi bumbu penyedap kehidupan masyarakat. Konflik tersebut dicipatakn oleh golongan-golongan yang mampu mendapatkan sorotan oleh publik. Mereka merupakan figur ditengah masyarakat yang memiliki tingkat kecemasan beragam, sehingga konflik tercipta oleh figur dalam golongan yang marah dan melampiaskannya pada ruang publik. Hasilnya publik terbagi oleh opini masing-masing golongan yang menghidupkan demokrasi  di negeri ini.

Taquiri dalam Newstorm (1977) mengemukakan bahwa konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku –dalam berbagai keadaan, akibat dari bangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Respon berbentuk ketidaksetujuan muncul oleh sesuatu yang dianggap memancing emosi dan menciptakan tensi dalam konflik.

Pada era demokrasi digital pada dekade ini, tren konflik didasari oleh tensi bertema agama dan ras. Masyarakat tersedot dalam perdebatan budaya keislaman dan budaya lokal. Apapun perihal yang menyangkut keislaman cenderung mendapat dukungan dan penolakan dari pihak yang mengaku peserta, pendukung dan pengamat golongan yang disimbolkan oleh gerakan bela islam 212 di Jakarta.

Perkembangan tensi konlik dalam dekade ini dapat di cerminkan pada kolom komentar di akun media daring tirto.id beberapa waktu silam. Akun tirto.id dalam akun instagramnya mengunggah infografis yang memuat sudut pandang ‘Santai’ menurut berbagai tinjauan kebudayaan bangsa di dunia (30/11). Infografis tersebut merupakan bentuk visual dari atikel berjudul ‘Nikmatnya Tak Melakukan Apapun’ oleh Arman Dhani yang diterbitkan tirto.id pada 9 Mei 2017.

Infografis tirto.id memuat kalimat ‘Orang Arab mengenal shalat malam. Berdzikr dan berdoa di tengah keheningan, mengambil jeda dari keramaian dan menikmati waktu sendiri.’ Sontak warganet tersedot dalam menanggapi kalimat tersebut. Akun @gamelanaf berkomentar “gue orang indonesia tapi kok ritual gue kayak orang arab yah bukan kayak orang indonesia”. Ada pula komentar “Tirto dalam misi tersembunyi” oleh @kurniadi_sputra, berikut komentarnya “Tirto sedang memecah belah ni, memang kalo media non islami ini misinya ngeri kali.”

Pola Tensi Publik

Tren tensi publik beragam dalam setiap rezim yang berkuasa. Selama pemerintahan Soekarno, Konflik muncul pada golongan progresif-revolusioner. Figur yang berhasil mendapat sorotan publik masa ini berkumpul dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI melakukan perlawanan terhadap golongan yang tidak melakukan progres dalam pergerakannya. Semisal Konflik budaya selama dekade 1960, PKI menunjukkan keberpihakannya kepada Lembaga kebudayaan rakyat (lekra) yang melakukan perlawanan terhadap golongan Manifesto kebudayaan (Manikebu). Konflik tersebut dilandasi atas aliran Realisme-sosialis yang dianut Lekra yang berseberangan dengan gerakan Humanisme universal yang diusung Manikebu.

Konflik pada rezim selanjutnya, –rezim orde baru dalam pemerintahan soeharto, berpusat oleh kaum kiri, mahasiswa dan aktivis demokrasi. Dua konflik yang mengemuka pada masa ini adalah konflik Malari dan Reformasi. Pada aksi Malari (1974) mahasiswa melakukan aksi penolakan atas modal asing yang disimbolkan oleh kedatangan perdana menteri jepang. Sedangkan aksi reformasi (1998) menuntut kebebasan berpendapat dan politik demokrasi diterapkan di Indonesia. Maka dapat disimpulkan bahwa konflik sepanjang dekade ini berkutat pada tensi demokratisasi dan ekonomi sosialis.

Sedangkan selama dekade 2000, dimana pimpinan politik indonesia mengalami pergantian antara Gus Dur, Megawati dan SBY, tensi publik mengarah pada lingkup harga pokok dan aksi melawan korupsi. Pergerakan pada dekade ini menciptakan upaya good government bagi negara Indonesia. Pergerakan pada dekade ini menciptakan pembaharuan dalam segala bidang dan merevisi kehidupan otokratik masyarakat pada masa orde baru.

Tiga tahun sepanjang pemerintahan Jokowi, masyarakat berkembang dengan aksi bela islam dan upaya pertahanan lingkungan atas perkembangan ekonomi yang massif. Tensi dalam konflik di pemerintahan ini cukup memberikan dampak yang signifikan. Aksi atas nama bela islam muncul dan sering mendapatkan sorotan opini publik. Sepertinya perkembangan tensi publik dalam konflik yang muncul di Indonesia memiliki khas masing-masing. Pola perkembangan menunjukkan kesamaan antara PKI, Kaum Demokrat dan Simpatisan Aksi Bela Islam. Namun terlepas dari itu semua, figur yang mendapat sorotan publik memiliki satu kesamaan, sama-sama aktor kerusuhan.

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Kekerasan Menjad Solusi Bagi Kaum Terdidik

(Catatan bagi mereka kaum terdidik yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah) Oleh:Ibrahim Yakub Mahasiswa Unkhair ...