Breaking News
Home » Wahana » Kontradiksi Sistem Rayon pada Pendidikan SMA/SMK di Indonesia

Kontradiksi Sistem Rayon pada Pendidikan SMA/SMK di Indonesia

Sistem Rayon SMA/SMK diluncurkan secara online dan serentak pada Rabu, 7 Juni 2017 melalui situs resmi Kemendikbud.go.id. Banyak pro dan kontra sebagai tanggapan atas diluncurkannya sistem rayon yang memiliki tujuan awal untuk meratakan persebaran siswa yang akan mendaftar SMA/SMK. Harapannya, siswa-siswa pintar tidak berkumpul di suatu sekolah tertentu dan tersebar secara merata di setiap daerah yang berdekatan dengan sekolahan yang dituju.

Tidak semua yang diharapkan sesuai dengan kenyataan, yang ada hanyalah semakin banyaknya dana yang dibutuhkan karena terbatasnya siswa disetiap rayon untuk masuk ke sekolahan yang berada di rayon tersebut. –Lha wong lebih banyak sekolah di kota daripada di desa dan penduduk kota lebih sedikit daripada penduduk desa. Alhasil sekolahan harus membuka lebih dari 2 gelombang untuk pendaftaran para siswa yang akan memasuki sekolahan tersebut.

Tapi penulis menjadi tertarik untuk membahas apakah sistem ini memperbaiki atau bahkan memperburuk sistem pendidikan di SMA/SMK. Jelas untuk mengetahui hal ini, perlu banyak hal untuk dibandingkan. Pertama, dari tenaga pendidik. Jelas sekali guru sebagai orang tua di sekolahan pasti akan terlihat kualitasnya ketika mereka memiliki SDM yang tidak seperti biasanya. Banyak guru yang pasti harus menyesuaikan kondisi sekarang ini dengan keterbatasan SDM yang bisa dibilang jauh berbeda dari sebelum adanya sistem rayon ini. Kedua, dari kurikulum. Beberapa sekolahan yang dulunya memiliki standar tertentu, sekarang ini harus menurunkan atau menaikkan standarnya untuk mengantisipasi ketimpangan SDM yang ada di sekolah tersebut. Ketiga, administrasi atau biaya sekolah. Dikarenakan banyaknya strata dan kemampuan ekonomi orang tua, maka siswa pun akan semakin bervariasi tingkat ekonominya yang menyebabkan biaya sekolah turun atau bahkan naik. Keempat, fasilitas sekolah. Fasilitas sekolah sangat berpengaruh pada pengembangan pendidikan di sekolah. Pelajaran yang terserap tidak akan bisa berbanding lurus dengan fasilitas sekolah yang tidak memadai. Alhasil sekolah sekolah yang dulunya tidak lengkap fasilitasnya akan mengeluarkan banyak dana untuk melengkapi fasilitasnya. Tentu tidak memakan waktu yang singkat.

Banyak guru yang pasti harus menyesuaikan kondisi sekarang ini dengan keterbatasan SDM yang bisa dibilang jauh berbeda dari sebelum adanya sistem rayon ini.

Sebagai contoh penulis sekolah di salah satu SMK Teknik ternama di kota Magelang. Disana dulu menjadi pusat setiap sekolah Teknik untuk melakukan praktek dikarenakan fasilitas di sekolahan penulis lengkap. Gurunya pun sangat menguasai setiap alat dan mesin praktek untuk memfasilitasi semua SMK yang melakukan praktek di sekolah penulis. Pendidikan di SMK penulis menggunakan standar internasional dimana setiap siswa diajarkan untuk dapat mengoperasikan mesin dengan standard operasional procedure yang diterapkan. Biaya pendidikannya karena sekolahan bertaraf internasional, maka mencapai angka Rp 354.000,00.

Sekarang mari kita bandingkan dengan sekolah rayonisasi. Fasilitas akan semakin jarang dipakai karena siswa setiap sekolah akan lebih sedikit daripada sebelumnya. Sekolah sekolah yang tidak memiliki fasilitas dan mencoba untuk mendapatkan fasilitas sendiri di sekolahannya akan juga susah untuk menyesesuaikan pengoperasian alat dan fasilitas yang baru, tentu akan memakan waktu yang cukup lama. Biaya sekolahpun akan semakin tidak stabil, kebutuhan merawat fasilitas sekolahan pasti akan menaikkan jumlah biaya sekolah sesuai banyaknya fasilitas yang dirawat.

Penulis menarik kesimpulan, bahwa untuk mencapai sistem rayon yang efektif, maka sebelum dicoba perlu ditinjau ulang dan disiapkan secara matang sistemnya seperti apa. Karena ketika sistem yang belum matang ini diterapkan begitu saja, maka hasilnyapun tidak akan efektif dan semakin memperburuk sistem pendidikan di Indonesia. Padahal, ketika sekolah memiliki kekhasan dan keistimewaan yang berbeda, maka akan semakin memacu siswa untuk berprestasi. Anak desa yang bersekolah di kota pasti akan giat dan rajin karena ia tidak mau ketinggalan dengan temannya yang di kota. Lha wong sekolah aja dibatasi, bagaimana negara kita ini memiliki kaum muda yang cerdas dan berprestasi untuk masa depan bangsa kita?

About Henry Prabowo

x

Check Also

Tensi

Adanya dinamika masyarakat Indonesia merupakan indikator kedewasaan bangsa ini ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Kehidupan berdemokrasi tak ...