Breaking News
Home » Wahana » Percuma Melarang Pram

Percuma Melarang Pram

Ketika terjadi pelarangan pada gelaran taman baca buku di UMS Surakarta beberapa hari silam, saya hadir  dan menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan salah satu  dosen di suatu fakultas. Kami memperbicangkan banyak hal, termasuk tentang buku-buku yang sekarang ini menjadi santapan favorit aktivis mahasiswa. Dosen itu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap jenis-jenis bacaan yang dilahap oleh kalangan mahasiswa peduli literasi saat ini.

Menurutnya, novel-novel sastra karangan Pramoedya Ananta Toer dianggap berbahaya. Pram dianggap tokoh kiri yang memiliki catatan kelam dan dimusuhi banyak orang di masa lalu karena pandangan politiknya.

Memang di satu sisi ia mengakui karya-karya Pram memuat kalimat-kalimat bernas yang dapat membangkitkan gairah saat membacanya. Namun yang membuatnya gelisah adalah, karena dalam karya sastra terdapat celah untuk menyodorkan sebuah gagasan yang terselubung, ia menjadi antipati dengan karya-karya Pram. Apalagi jika mengingat latar belakangnya pernah menjadi pentolan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berhaluan kiri.

Saya lalu menyampaikan padanya bahwa Pramoedya Ananta Toer telah diakui sebagai maestro sastra Indonesia oleh dunia sastra internasional. Karyanya telah diterjemahkan lebih dari 20 bahasa. Namanya sudah mengguncang jagad sastra dunia sebelum nama Eka Kurniawan yang kini ditasbihkan sebagai maestro baru sastra dari Indonesia mengemuka. Saya juga memberitahu bahwa sesungguhnya tak ada konten agitatif dari Pram. Dalam buku Tetralogi Buru yang tenar karena pernah dibredel itu misalnya, Pram tak pernah menulis sepatah kata pun ihwal PKI, komunisme, ataupun segala hal yang bermuatan komunis.

Namun, karena labelling terlanjur melekat di nama Pram, bagaimanapun dosen tersebut bersikukuh untuk menolak buku-buku Pram digelar di kampusnya. Pram adalah Lekra, dan Lekra adalah PKI. Jika tak ada tujuan konkret untuk membaca Pram, maka tak perlu dibaca, begitu katanya. Sampai di sini, saya pun tertegun. Bagaimana bisa ketika hari ini buku-buku Pram dikaji oleh banyak akademisi, seorang dosen masih menolak sebuah buku untuk dibaca mahasiswanya.

Pram dan Gerakannya

Memang tak dapat dipungkiri lagi, buku-buku karya Pram telah mendapat tempat di hati kalangan aktivis mahasiswa sampai sekarang ini. Bahkan terdapat doktrin tak resmi yang beredar di kalangan mahasiswa jika belum membaca buku karya Pram, maka aktivisme belum afdhal.

Pram memang dekat dengan mahasiswa. Sebelum ia dibuang menjadi eksil di Pulau Buru, ia pernah mengajar di Universitas Res Publica (sekarang Trisakti). Ia pernah pula berkecimpung dan terlibat dalam lingkaran diskusi dengan banyak mahasiswa saat menjabat sebagai penghela lembar kebudayaan Bintang Timoer.

Rekam jejaknya sebagai seorang budayawan yang dekat dengan mahasiswa maupun pemuda tak bisa ditampik lagi. Bahkan dalam karya-karyanya termasuk di opus magnum Tetralogi Buru, ia mengangkat cerita tokoh Minke sebagai perwujudan fiksi dari figur Tirto Adhi Soerjo ketika masih menginjak masa remaja.

Kepeduliannya terhadap kaum muda sangatlah besar. Ia sering menyinggung peranan pemuda khususnya mahasiswa di setiap tulisan-tulisannya. Pernah ia menulis sebuah ungkapan yang membuat hati banyak pembacanya terhenyak sadar, ”Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.

Pram juga sempat memberi anjuran tersirat kepada pembacanya untuk menulis, dalam Bumi Manusia ia memakhtubkan, ”Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”Coba bayangkan, bagi mahasiswa yang terjebak dalam dinamika perkuliahan yang menjemukan, tulisan Pram ini jelas menggugah hati pembaca untuk memulai petualangan literasinya.

Sekarang ini orang tak lagi membaca Pram hanya semata untuk memuaskan gairah membaca. Para akademisi kondang dari Amerika seperti Clifford Geertz bahkan sampai menuliskan kiprah Pram beserta kritik sastra karyanya dalam sebuah bentuk kajian akademik yang diterbitkan di Amerika. Sedangkan Max Lane, sejarawan dan Indonesianis asal Australia menerbitkan buku khusus untuk mengupas perihal pemikiran seorang Pram dan karya-karyanya. Dalam satu bab bukunya yang berjudul Indonesia tidak hadir dalam Bumi Manusia (2017), ia memberi saran kepada pemuda Indonesia saat ini untuk mulai membaca Bumi Manusia.

Menurut Lane, Bumi Manusia dan rangkaian cerita dalam tetralogi buru lainnya perlu dibaca karena memberikan pelajaran yang cergas ihwal bagaimana sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan belenggu kolonialisme. Buku itu ringkasnya memberikan gambaran jelas tentang pembentukan cikal bakal bangsa yang kemudian menjadi Indonesia yang kita kenal sekarang ini.

Karya-karya sastra Pram memang kental dengan nuansa sejarah. Ia berdiri di antara sastra dan sejarah. Tentu itu adalah sebuah tanggung jawab moral dan sosial yang berat. Dan dengan sentuhan khasnya, ia menaruh nilai-nilai kemanusian yang universal dalam karya-karyanya. Sehingga seakan sekat antara sastra dan sejarah itu dapat luruh di tangannya.Para akademisi yang membaca, membahas, dan mengkaji karya-karya Pram sepertinya perlu memastikan bahwa tak ada yang salah dengan karya-karya ini. Seperti karya-karya sastra lainnya, narasi sastra gubahan Pramoedya Ananta Toer tak ubahnya sebuah karya yang dapat merangsang kesadaran sosial di masyarakat.

Di luar itu, ada banyak yang tidak kita ketahui tentang Pram. Oleh karenanya, membicarakan masalah pribadi dan keputusan politiknya di masa lalu jelas sebuah pemikiran yang terlalu jauh. Pram telah wafat sebelas tahun yang lalu. Rekam jejak buruk dan kesalahannya tak perlu lagi diungkit-ungkit lagi sekarang ini. Lagipula seturut Roland Barthes, penulis telah mati saat karyanya dibaca. Lalu sekarang, apa yang perlu digugat lagi dari seorang Pram? Ia telah membantu tugas para dosen dan akademisi untuk membangkitkan minat baca kepada mahasiswa-mahasiswanya. Apa masih perlu buku-bukunya ditolak, dilarang, dan disia-siakan begitu saja?

Perlu diketahui, ide-ide Pram tak pernah menua meski tubuhnya semakin renta, lapuk sampai akhirnya meninggal dunia. Ketika kecenderungan saat ini dosen-dosen semakin jauh dengan mahasiswa, hanya memaksakan kehendak dan menjejalkan keinginan institusi ke benak para mahasiswa, pemikirannya telah melampaui zamannya.

Aforisma yang ia dendangkan tak pernah surut dimakan waktu. Nama dan karyanya telah abadi bersekutu dengan masa. Jika kemudian maksud melarang buku Pram adalah untuk menghalau pemikirannya, itu hanya akan jadi kesia-siaan belaka. Sebab cepat atau lambat, buku Pram akan dibaca. Dan dalam waktu yang singkat, orang pun akan mafhum jika melarang adalah sikap yang konservatif-destruktif.

About Taufik Nandito

x

Check Also

Kekerasan Menjad Solusi Bagi Kaum Terdidik

(Catatan bagi mereka kaum terdidik yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah) Oleh:Ibrahim Yakub Mahasiswa Unkhair ...