Breaking News
Home » Wahana » Penetrasi Sastra

Penetrasi Sastra

Sejarah, Kajian yang Universitas Cambridge bahkan menggolongkannya sebagai Fakultas tersendiri, Memiliki guna yang signifikan bagi kemajuan peradaban. Sartono Kartodirjo pun mengemukakan bahwa sejarah mempunyai kegunaan genetis dan kegunaan didaktik. Nilai-nilai luhur yang terdapat didalam setiap peristiwa masa lampau perlu diwariskan secara turun temurun, dipermasalahkan dan mendewasakan.

Namun akan sayang sekali jika Sejarah disajikan terlampau kritis nirpuitis. Sejarah yang juga sebagai humaniora, bukan hanya sebagai sains -dengan segala lika-liku metodenya- perlu disuguhkan ringan, seringan permen kapas. Sehingga generasi termuda pun mampu mengkonsumsinya.

Literasi kesejarahan terlalu nampak serius jika tertulis sepanjang judul yang dibuat Lydia Kieven- Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit : Pandangan Baru terhadap Fungsi Religius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke 14 dan ke-15’-Seperti pil pahit, Judul sepanjang itu pun mampu membuat lidah anak-anak tergigit.

Tapi bukan itu permasalahannya, Sejarah tetap harus kritis! Hargai GWF Hegel yang mati-matian membela Metodis Sejarah Materialistik. Sejarah bukan kajian romantis yang sekedar memikat minat baca. Maka katakanlah, Literasi mengenai sejarah memang dilematis. Ada tuntutan faktual namun tetap menarik tanpa bumbu-bumbu. Pun harus Sastrawi dibarengi metodologi  historiografi.

Selanjutnya, Sjamsuddin berpendapat bahwa Humaniora dapat mengisi kebutuhan pengetahuan tradisional dan mengingatkan mereka, bahwa dalam zaman mesinpun, mereka (Manusia) tetaplah manusia. Earl C. Kelley bahkan mendukung  secara fundamental bahwa kajian Humaniora berasal dari kebutuhan untuk mendidik orang-orang untuk hidup dalam masyarakat demokratis.

Apa yang dilakukan oleh Pram, memperkosa biografi Tirto Adi Suryo dalam Tetralogi Buru ternyata sangat dibutuhkan dalam pencairan kakunya sajian sejarah. Pemaparan Sejarah Tirto Adi Suryo yang dijabarkan dengan sajian kritis, atau sajian singkat, padat, jelas dalam Lembar Kerja Siswa menjadi cair dengan Roman macam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta (Mas)Toer.

Kepenulisan sejarah mengenai dampak Opium zaman kolonial oleh TeMechlehen, yang disajikan kajiannya dalam buku ‘Candu Tempo Doeloe : Pemerintah, Pengedar dan Pecandu 1860-1910’ karya James J Rush pun akan tertelan pahit dan tidak menggigit mengenai nilai dampak peredaran Candu di masyarakat. Malah, Buku Sastrawi ‘Pah Troeno’ yang ditulis P.C.C Hansen alias Boeka mampu menjadi buku yang merubah paradigma Kolonial dalam memberantasi Opium.

Jangan lupa juga mengenai kritik tata kelola pemerintahan Inland Bestuur,  para sosialis Belanda tak mampu menggoyahkan kolonialisme di Jawa. Cukup Kisah Saijah dan Adinda dalam Roman Max Havelaar oleh Eduard .D Dekker  yang memukul kepala Gubernur Jendral dan jajarannya.

Sejarah, Sastra dan Humaniora menjadi segitiga saling silang. Sejarah membutuhkan sajian secara Sastrawi serta Humaniora dalam kajian. Sejarah perlu dikemukakan pada publik dengan ringan. Sejarah dengan nilai keguanaan genetis dan didaktis jangan sampai menjadi bahan ajar yang ‘angker’ oleh pemilik sejarah itu sendiri. Maka Sastra dengan daya pikatnya akan mampu melakukan penetrasi kajian sejarah pada setiap lapisan masyarakat, jika tak mampu tertulis satrawi Roman, menjadi buku dongeng anak-anak pun boleh lah. Asal tercerna nilianya itu lho!

 

 

 

About Kanal Baca

x

Check Also

Kekerasan Menjad Solusi Bagi Kaum Terdidik

(Catatan bagi mereka kaum terdidik yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah) Oleh:Ibrahim Yakub Mahasiswa Unkhair ...