Latest
Home » Wahana » Menikmati Ideologi Kelas Coro, Pancasila

Menikmati Ideologi Kelas Coro, Pancasila

Ketika anda membuka buku filsafat dunia versi apapun itu, anda pasti kesulitan menemukan ideologi Pancasila. Buku Story of Philosophy karya Bryan Magee yang tersohor itu misalnya, buku tersebut hanya berkutat pada ideologi hasil pemikiran  kelompok Benua Eropa macam Sinisme, Liberalisme, sosialisme dan ideologi dengan akhiran kata isme-isme lainnya. Banyak juga Buku Filosofi yang ditulis oleh nama arab, meski KTPnya orang indonesia, yang marak anda temui di pasar loak –kemungkinan sulit laku. Pada buku yang memenuhi pasar buku loak belakang taman Sriwedari Surakrata itu paling juga kepentok pada ideologi dengan awalan Al- atau berakhiran –iyah, Al Bodohhiyah misal. Tetapi Pancasila? Pernahkan anda menemukan ideologi Pancasila di kumpulan buku filsafat? Sepertinya tak mungkin ketemu sebelum ideologi ini diganti namanya menjadi Al-Pancasilaism(e)iyah.

Bukan hanya dikesampingkan, Pancasila di era reformasi Indonesia 1998 mulai mendapatkan serangan bertubi-tubi oleh ideologi luar. Bagi kaum kiri, mereka memulai gerakannya dengan menerbitkan buku-buku bersampul merah dengan bapak-bapak berjenggot tebal sebagai ikonnya. Kebanyakan buku tersebut merupakan buku terjemahan para filsuf yang tak laku di benua asalnya. Bahkan tak asing kita mendengar penulis macam Jean Paul Sarte, Albert Camus dan kawan-kawannya.

Sedangkan bagi kaum agamawan yang tak mau kalah dalam perang pemikiran ini, mereka membuat buku-buku bersampul putih atau hijau dengan judul fantastis –dengan penerbit yang diambil dari nama Arab pula tentu saja. Tak hanya itu, kaum hartawan semi-agamawan ini pun menerbitkan majalah-majalah dan media lain bernuansa ala-ala Muslim.

Buku yang benar-benar membahas mengenai pancasila sebagai ideologi baru saya temui di buku pendidikan pancasila karya Prof Kaelan. Selain itu, saya belum menemukan buku pancasila yang benar-benar pancasila. Mungkin anda beruntung dapat menemukannya, tapi saya belum.

Sepertinya Ideologi ini memang ditakdirkan untuk mati saja. Kalah keren dengan ideologi isme-isme dan Al-bodohhiyah. Pancasila telah kalah secara wacana dan popularitas pemeluk-pemeluknya, mereka yang dikata pancasilais adalah kaum tua yang dicap kolot oleh generasi sepantaran saya. Pancasila sebatas berkutat dibibir para perwira, Pemuda pancasila –yang sudah jarang ada pemudanya, dan para orang tua yang gelar pendidikannya tak lebih tinggi daripada anaknya.

Sebatas Slogan

Pancasila dirumuskan sebagai syarat negara ini didirikan. Bahkan kalimat Bhinneka tunggal ika hanyalah slogan pemersatu suku-suku yang ada di nusantara. Sedari pembentukannya ideologi ini tak memiliki tujuan hakiki seperti ideologi lain yang mendambakan kebebasan berpendapat, kesetaraan kelas masyarakat atau masyarakat madani versi salah satu tuhan dalam agama.

Sejarah mencatatkan bahwa ideologi pancasila merupakan rumusan dari pemikiran bapak-bapak yang nongkrong bareng di satu meja dengan mengatasnamakan bangsa indonesia. Bahkan Ideologi ini bukan hasil cipta sarjana filsafat atau sosiolog kelas wahid. Pancasila seperti buah pikir dari segelintir orang yang dipaksakan untuk dipertahankan seluruh bangsa di kawasan bekas jajahan belanda.

Ideologi kelas Coro

Seperti Coro (:Kecoak), kondisi Pancasila lebih layak ditinggalkan, tak pantas jadi bahan pembicaraan, bahkan menjijikan untuk dibayangkan. Lambang garuda yang gagah seperti lambang negara Nazi dan Amerika serikat itu perlu diganti lebih realistis, diganti lambang binatang coro saja. Apalagi bentuk perisai dengan lima sila itu sudah pas dengan bentuk sayap coro kan?

Tapi ideologi coro ini kok ya benar-benar bernasib seperti binatang aslinya. Pancasila sudah banyak diejek, bahkan ditendang-tendang oleh sepatu merah. Disiram berkali-kali oleh air suci tuhan. Tapi kok ya muncul melulu seperti coro yang kita siram di lubang kloset –yang 5 menit kemudian muncul lagi.

Apakah anda pernah mendengar gerakan pecinta coro? Yang memperjuangkan hidup serangga menjijikan ini? Saya belum. Ironisnya begitulah pancasila. Pernahkah anda mendengar Front pembela pancasila? atau gerakan nasional mahasiswa pancasila?

Menikmati Pancasila

Mengartikan pancasila menurut saya tak perlu serius-serius amat. Sudah mau memikirkan apa itu pancasila saja sudah menjadi nilai plus. Sepertinya Pancasila memang tak dilahirkan untuk diperjuangkan. Prof Kaelan dalam bukunya Pendidikan Pancasila menuliskan bahwa Pancasila merupakan ideologi terbuka. Ideologi yang bersumber dari rakyatnya. Ideologi yang merupakan cerminan dari masyarakatnya itu sendiri dengan berkembang mengikuti rakyatnya bukan sebaliknya, rakyat yang berkembang mengikuti arahan ideologi.

Pancasila pun lahir untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bangsa lain, supaya bangsa ini bisa menikmati hasil buminya sendiri. Pancasila tidak lahir dari buku filsuf dengan mencantumkan tujuan yang jelas mengenai negara dengan pancasila. Tetapi Pancasila lahir dari kepala berpeci dan kaki bersarung, lalu dibincang-hangatkan dengan nuansa budaya srawung.

Mungkin mereka yang melakukan gerakan liberalis, sosialis, agamis dan –is –is lainya merasa bahwa pemikiran tersebut lebih tinggi dari hasil pikir berupa pancasila. Mereka salah! Mengartikan bahwa tujuan ideologi pakar filsafat sebagai tujuan hidupnya merupakan bentuk lain dari penjajahan dimensi pikir manusia. Mungkin kaum pejuang tersebut ingin selalu berjuang tanpa ingin menikmati apa itu ideologi yang diperjuangkannya untuk menggantikan pancasila.

Tapi untuk pancasila, ideologi ini adalah bentuk kenikmatan paripurna. Ideologi ini telah memberikan kehidupan ideal tanpa pengarahan bagaimana hidup yang ideal itu. Lihat saja lima sila pancasila, kurang ideal apa coba? Ketuhanan, Kemanusian, Persatuan, Perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Lima poin itu sudah mencakupi seluruh aspek ideologi yang saya kemukakan sedang melakukan upaya untuk merebut dimensi pikir bangsa ini.

Kembali lagi pada coro dan pancasila. ideologi ini seakan tak ada yang menginginkan kehadirannya. Tapi dalam keberlangsungan eksistensinya, coro dan pancasila telah memberikan manfaat bagi manusia dan bangsa yang memeluknya, bangsa indonesia. Coro bermanfaat bagi kita karena berperan menjadi dekomposer sampah manusia. Justru coro akan menjadi masalah jika dipunahkan.

Maka mengenai eksistensi coro, sudah! Biarkan saja maka coro akan berguna. Begitulah pancasila, nikmati saja pancasila dengan berkumpul bersama kolega. Menikmati senja dengan teh hangat dan perbincangan saling pengertian, bukannya mendebatkan ideologi mana yang ideal untuk bangsa indonesia. Karena sejatinya pancasila merupakan cerminan dari setiap hal yang diperdebatkan dalam jagad pemikiran ideologi.

Pancasila telah bersifat demokratis dengan sifatnya sebagai ideologi terbuka. Pancasila juga sudah menyatukan dan memberikan porsi yang sama bagi setiap identitas individu maupun komunitas. Pun pancasila juga sangat agamis karena telah memberikan ruang selebar-lebarnya bagi setiap tuhan di setiap relung jiwa manusia, bahkan pancasila mewajibkan manusia untuk bertuhan dengan tak mempermasalahkan tuhan yang mana.

Lalu praktek seperti apa yang kita lakukan untuk membela ideologi bangsa ini? Kita harusnya membunuh para pembunuh coro itu, supaya coro dapat lestari dan masih memberikan manfaat hidupnya pada kita. Sedangkan pancasila,cukup kita nikmati saja sebagai bangsa paling ramah di dunia.

Artikel ini diterbitkan juga dalam majalah Novum Edisi Desembar 2107

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*