Breaking News
Home » Wahana » Kekerasan Menjad Solusi Bagi Kaum Terdidik

Kekerasan Menjad Solusi Bagi Kaum Terdidik

(Catatan bagi mereka kaum terdidik yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah)

Oleh:Ibrahim Yakub

Mahasiswa Unkhair

 

Pada abad ke 21 ini sering kali kita mendengar berbagai macam kekerasan terjadi dimana- mana, baik di ruang lingkup mikro maupun makro. Namun mari kita klarifikasikan kembali kata -kata kekerasan  yang  tentunya  mempunyai  makna  tersendiri.  Kata-kata  kekerasan  secara  harafiah diartikan sebagai “sifat atau hal yang keras, kekuatan atau paksaan”. Kekerasan dalam konteks ini adalah merupakan kekerasan yang dilakukan secara sadar.

Adapun istilah kekerasan yang lain misalnya kekerasan berarti perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik ataupun barang orang lain. Disamping itu juga kekerasan sudah menjadi tradisi dikalangan kaum terdidik yang bisa kita sebutkan sebagai orang-orang yang berpengetahuan.

Situasi dan kondisi dilematis di ranah pendidikan inilah yang menyebabkan  keresahan  dikalangan  orang-orang terdidik, namun bukan berarti ketika  dilanda situasi dilematis dan resah, orang-orang yang berpengetahuan langsung melakukan kekerasan secara fisik.

Secara garis besar kekerasan dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu pertama kekerasan merupakan tindakan kelompok, kedua kekerasan sebagai produk dari struktur, dan ketiga kekerasan sebagai jejaring antara aktor dengan struktur. Lantas pertanyaannya, kekerasan yang terjadi saat ini dalam dunia pendidikan termasuk dalam poin keberapa? Mari sekilas kita melihat penjelasan poin per poin terkait dengan 3 kelompok kekerasan diatas.

Kelompok pertama, dipelopori oleh Gustave le bon (1895) deskripsikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh aktor atau kelompok aktor yang memiliki kekuatan menghancurkan. Jika kekerasan model ini berhubungan dengan persoalan politik, maka kekerasan didefinisikan sebagai tindakan aktor atau kelompok yang menentang rezim  yang  berkuasa.

Kelompok  kedua, kelompok  kedua  ini  sering  menggunakan  teorinya  Johan  Galtung  yang  menunjukan  bentuk kekerasan yang tidak langsung, dan tidak tampak. Dibandingkan yang pertama kekerasan ini lebih terselubung dan bisa dilakukan oleh banyak subjek, tidak terbatas kepada aktor dan kelompok aktor tertentu,   tetapi juga oleh struktur seperti aparatur pemerintah.

kelompok ketiga, kekerasan sebagai jejaring antara aktor dengan struktur, kelompok ketiga ini sering menggunakan teori dari jenifer turpin dan lester R.Kurtz, menurut kelompok ini, kekerasan adalah perpaduan antara kekerasan aktor (mikro) dan kekerasan structural (makro).

Dari ketiga penjelasan ini sudah bisa kita relevansikan dengan kondisi saat ini yang  sering menimbulkan kekerasan, baik di institusi pendidikan maupun di kalangan masyarakat. Sesungguhnya kekerasan ini dalam prespektif saya sudah menjadi tradisi kaum terdidik diperguruan tinggi yang sering membuat onar dan saling bera du fisik dalam menyelesaikan masalah. Padahal, sebenarnya dalam zaman kontemporer ini sudah tidak relevan lagi untuk berperang menggunakan fisik, Seharusnya sekarang ini  berperang menggunakan akal sehat yang di miliki oleh kaum terdidik.

Tetapi kejadian saat ini yang sering terjadi adalah perang secara fisik, yang lebih anenhya lagi, hal itu dilakukan oleh orang-orang yang sadar akan esensi dari ilmu pengetahuan yang dimilikinya, bahkan sering kali ada aktor -aktor yang sengaja mendesain konflik agar menciptakan kekerasan, Namun tidak menyadari bahwa akibat dari konflik tersebut menimbulkan korban.

Kecerdasan sering kali menciptakan ambisi dalam diri serta melahirkan egoisentrisme yang tinggi. Hal inilah yang menurut saya merupakan salah satu faktor pemicu yang melahirkan sifat kebesaran diri. Dalam hal ini, menganggap dirinya sebagai orang yang sudah tidak bisa tertandingi sehingga dengan     kemauan pribadi dia melakukan kekerasan dan menyengsarakan orang lain. Padahal hakikat dari pengetahuan adalah bukan saling menciptakan korban atau bisa dikatakan menindas manusia diatas manusia melainkan proses pembebasan.

Sering kali kekerasan yang terjadi juga merupakan perwujudan dari eksistensi mereka terhadap publik bahwa mereka adalah orang-orang yang hebat dan bisa ditakuti oleh orang lain. Padahal sebenarnya tindakan yang mereka lakukan bukan mendapat pujian dari masyarakat –baik masyarakat ilmiah maupun non lmiah. Tetapi sebaliknya, mereka akan mendapat nama buruk dimata publik.

Selanjutnya kekerasan dalam kelompok kedua diatas adalah kelompok kekerasan yang sangat sesuai dengan kondisi pendidikan diperguruan tinggi saat ini, karena dalam kelompok kedua ini kekerasan yang tercipta adalah kekerasan yang tidak tampak. Hal ini berangkat dari fenomena di perguruan tinggi negeri yang membuat kebijakan yang cukup menyulitkan kondisi kaum terdidik atau mahasiswa yang menuntut ilmu pengetahuan di perguruan tinggi negeri.

Sistem pendidikan yang diterapkan banyak menguntungkan  para pemegang-pemegang jabatan strategis dibandingkan kepentingan yang lebih mengutamakan kepentingan mahasiswa secara kolektif. Hal inilah yang membuat banyak kaum terdidik yang berkecimpung di perguruan tinggi mengalami dilema. Sehingga berbagai macam bentuk kekerasan akan terjadi, –baik itu kekerasan yang bersandar intelektual ataukah sebatas kekerasan secara fisik.

Selanjutnya, seringkali kekerasan terjadi akibat dari proses demokrasi yang tidak sehat misalnya dalam momentum pemilu dan sebagainya. Demokrasi yang tidak sehat ini muncul akibat kurang pemahaman mengenai nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya dan juga akibat dari kurang tersosialisasi mengenai demokrasi yang demokratis.

Memang benar bahwa demokrasi sudah biasa dilakukan oleh komunitas ilmiah maupun non ilmiah, namun perlu kita sadari bahwa  demokrasi  dalam  pemahaman  masyarakat, khususnya  masyarakat  non  ilmiah  adalah demokrasi yang berwawasan materi atau “demokrasi bisa jalan bagi siapa yang membayar dengan biaya yang besar”

Kondisi inilah yang membutuhkan hadirnya kaum terdidik untuk meluruskan pemahaman demokrasi dikalangan masyarakat. Namun perlu kita lihat secara nyata bahwa bagaimana kaum terdidik mampu meluruskan pemahaman tentang demokrasi dikalangan masyarakat.

Sementara, ada sebagian kaum terdidik yang tidak mampu menjalankan esensi dari demokrasi yang sesungguhnya. Bahkan seringkali terdapat demokrasi yang melahirkan kekerasan. Bukti konkritnya, kejadian ketika momentum pemilihan yang terjadi di dalam ruang lingkup kampus dan secara mikro lagi, dimasing-masing fakultas.

Memang benar bahwa demokrasi tidak ada dinamikanya ketika tidak ada oposisi, namun dalam pandangan saya bukan oposisi yang tampil dengan fisiknya, tetapi oposisi yang tampil dengan gagasannya yang bersaing secara demokratis. Inilah yang sangat dibutuhkan dalam kompetisi demokrasi yang ada.

Langkah untuk mencegah ataupun menjauh dari kekerasan adalah ada beberapa poin yang harus kita maknai secara bersama yakni memperbaiki tatanan politik, melakukan pendidikan karakter di kalangan generasi muda dan juga menciptakan sistem yang harmonis, humanis serta sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945. Dengan cara memperbaiki pola pikir dan pola tindak dari generasi muda yang terdidik.

 

About Ibrahim Yakub

x

Check Also

Tensi

Adanya dinamika masyarakat Indonesia merupakan indikator kedewasaan bangsa ini ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Kehidupan berdemokrasi tak ...