Breaking News
Home » Wahana » Humaniora dan Pendidikan Memanusiakan Manusia

Humaniora dan Pendidikan Memanusiakan Manusia

Pendidikan seharusnya menjadi hak bagi manusia secara keseluruhan. Baik itu manusia dengan latar belakang Ras, Agama, Suku dan Kondisi tiap individu. Pendidikan dapat diibaratkan  selayaknya suatu kekayaan dalam ranah perekonomian, namun pendidikan dalam ranah intelegensi. Keadilan atas hak kepemilikan  kekayaan intelektual ini harus merata tanpa memiliki timpang dalam usaha-usaha mendapatkannya.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 IV pasal 5 ayat 1 dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan yang bermutu, dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah anak yang berkebutuhan khusus (ABK).

Sistem Pendidikan Inklusi memberikan kesempatan belajar pada anak-anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak-anak pada umumnya, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata sehari-hari. Secara kemasyarakatan, Tamatan SLB tidak mudah diterima oleh masyarakat, hal ini antara lain disebabkan oleh penyelenggaraan pendidikan yang terpisah dari anak-anak pada umumnya sehingga kurang sosialisasi. Dengan adanya Sekolah Penyelenggara Pendidikan ini akan dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar di sekolah umum yang dekat dengan tempat tinggalnya, dan diharapkan upaya menuntaskan wajib belajar yang di dalamnya termasuk anak berkebutuhan khusus akan dapat terlaksana.

Pendidikan inklusi memiliki prinsip dasar bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Sementara itu Sapon-Shevin ( O Neil, 1995 ) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat.

Melalui pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus di didik bersama-sama anak lainnya ( normal ) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya ( Freiberg, 1995 ). Hal ini dilandasi oleh suatu kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak tidak normal ( berkebutuhan khusus ) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas sosial. Dalam rencana aksi nasional, difabel telah dicanangkan mulai tahun 2003, yang salah satu butir dari rencana aksi nasional difabel adalah pendidikan inklusi. Yang dimaksud dengan pendidikan inklusi atau inklusif adalah pendidikan yang dapat dijangkau oleh semua orang dan tanggap terhadap semua peserta didik termasuk difabel secara invidual

 Pendidikan Humaniora

Pengetahuan manusia umunya dapat diklasifikasikan atas tiga kelompok besar, yaitu ilmu-ilmu alamiah, ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan atau sering disebut dengan istilah humaniora. Pada mulanya sejarah merupakan bagian dari ilmu humaniora dan kemudian sejarah menjadi bagian dari disiplin ilmu- ilmu sosial. Pengertian humaniora sampai saat ini masih belum baku, menurut Ralph Barton Perry (Sjamsuddin, 2007: 274) menyebutkan bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan itu adalah cabang-cabang dari pengetahuan santun. Ilmu kemanusiaan merupakan cabang-cabang dari kajian-kajian tertentu yang mempunyai kecenderungan untuk memanusiakan manusia (humanize) sebagai lawan dari ilmu fisika yang cenderung untuk mengembangkan kemampuan- kemampuan intelektual manusia.

Pokok-pokok kajian humaniora ialah filsafat, interpretasi tentang sastra dan sejarah, kritik tentang seni, musik dan teater yang semuanya membahas tentang batas-batas, kedalaman-kedalaman dan kapasitas-kapasitas dari semangat manusia, termasuk juga didalamnya pendidikan liberal yang merupakan lawan dari pendidikan praktis.

Sejarah dan Humaniora erat hubungannya dengan pendidikan, sebab digunakan untuk kepentingan pendidikan. Humaniora menekankan kepada kedua hal, yang pertama keunikan manusia di dalam alam dimana manusia sendiri, melalui intelegensinya, mampu mengontrol perkembangan fisik dan mental. Kedua, pencarian manusia akan nilai- nilai (values), dalam pencarian ini manusia mempergunakan daya-daya kreatifnya.

Mengenai alasan dilakukan pendekatan humaniora dalam pendidikan di sekolah-sekolah berpangkal pada kebutuhan-kebutuhan hidup modern yang mutakhir dari masyarakat yang sudah sangat industrialistis. Perkembangan ilmu alam dan teknologi telah meningkatkan taraf hidup, produksi, distribusi dan konsumsi barang- barang telah mencapai suatu puncak tertinggi. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tersebut bisa menjadi pemberontak akan kemapanan nilai-nilai keluarganya, sekolah, lingkungan hidup dan keagamaannya. Tetapi dalam peranannnya sebagai pemberontak, personalitasnya yang menonjol mendesaknya untuk bertindak, merasa, berpikir dan percaya kepada visi pribadinya tentang dunia. Keadaan ambivalensi terhadap masyarakat yang seperti ini, para siswa acapkali menolak tujuan-tujuan dan isi dari mata pelajaran yang diberikan.

Hal ini menjadikan manusia membutuhkan suatu pengetahuan tradisional yang relevan  sebagai tambahan terhadap pengetahuan yang diberikan setiap hari sebagai tuntutan untuk dapat hidup layak dalam suatu masyarakat industri. Dengan demikian, sebagai alasan utama dan sederhana dari humaniora adalah bahwa humaniora dapat mengisi kebutuhan pengetahuan tradisional dan mengingatkan mereka, bahwa dalam zaman mesinpun, mereka tetaplah manusia (Sjamsuddin, 2007: 279).

Fungsi Sejarah Secara Humaniora

Sejarah mempunyai fungsi dalam humaniora, seringkali sejarah disebut sebagai seni dan ilmu. Sejarah sebagai ilmu karena sejarah termasuk dalam disiplin ilmu-ilmu sosial yang memiliki metodologi dalam penulisan sejarah. Sedangkan sejarah sebagai seni terlihat pada tahap penafsiran atau interpretasi dan penulisan sejarah, dimana sejarawan harus menggunakan bahasa dan retorika. Deskripsi tentang peristiwa-peristiwa, tentang pelaku-pelaku sejarah, semuanya menggunakan media bahasa sehingga menghasilkan  suatu narasi (cerita) sejarah yang menarik. Penggunaan retorika membuat membuat sejarah erat sekali hubungannya dengan sastra sehingga sejarah dianggap sebagai suatu “seni” dan karena itu termasuk ke dalam ilmu humaniora atau artes liberales. Yang membedakannya dengan sastra murni adalah sejarah merupakan produk rekonstruksi sejarawan atas dasar sumber- sumber sejarah yang ada.

Selain sejarah sebagai seni dan ilmu, fungsi sejarah juga terlihat dari ungkapan latin, Historia Magistra Vitae yang artinya “sejarah adalah guru kehidupan”. Sebagaimana sebuah tulisan karya Andrik Purwasito yang berjudul “Menggugat Historiografi Indonesia” dalam Jurnal Sejarah vol. 13, beliau mengemukakan bahwa:

Sejarah adalah memori kesadaran yang mampu membentuk watak dan jati diri bangsa. Sejarah yang salah (dalam memaknai evenement) akan membentuk watak dan jati diri yang menyimpang juga. Demikian saya katakan, bahwa sejarah adalah ibu kandung  dari sejatinya kehidupan rohani bangsa. Artinya sejarah yang benar akan membawa  kita ke dalam situasi yang penuh persaudaraan, kebebasan tanpa kecurigaan, dan kesederajatan yang tidak memandang suku, ras, agama, golongan, partai atau kekayaan…

Ketika merujuk definisi tersebut, maka tidak salah jika para sejarawan dahulu memasukan ilmu sejarah ke dalam ilmu humaniora atau ilmu mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, bahwa sejarah mempunyai kecenderungan untuk memanusiakan manusia dengan memasukan unsur- unsur yang mengandung nilai nasionalisme, patriotisme yang mampu memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Pendapat ini sama halnya dengan yang dungkapkan oleh John Tosh (Sjamsuddin, 2007: 285), (Ismaun, 2005: 189) serta Trouillot (Nordholt, Purwanto dan Saptari, 2013: 1). Dengan fungsi tersebut, sejarah akan mampu menyiapkan generasi baru menjadi generasi emas bagi bangsanya, mengingat sejarah akan memberikan ingatan kolektif dan penguatan identitas sehingga mampu menguatkan watak dan jati diri bangsa.

Konklusi

Hakikat dari Pelaksanaan pendidikan inklusi akan mampu mendorong terjadinya perubahan sikap lebih positif dari peserta didik terhadap adanya perbedaan melalui pendidikan yang dilakukan secara bersama-sama. Pada akhirnya akan mampu membentuk sebuah kelompok masyarakat yang tidak diskriminatif dan bahkan menjadi akomodatif terhadap semua orang. Sartono Kartodirjo pun mengemukakan bahwa sejarah mempunyai kegunaan genetis dan kegunaan didaktik. Nilai-nilai luhur yang terdapat didalam setiap peristiwa masa lampau perlu diwariskan secara turun temurun, dipermasalahkan dan mendewasakan.

Pendidikan secara Inklusi dan  Sejarah secara Humaniora memiliki keterkaitan satu sama lain. Keterkaitan antara keduanya memberikan sinergi terhadap kesadaran kolektik ilmu kemanusiaan. Pendidikan Inklusi merupakan ilmu praxis dimana teori-teori humaniora dapat diterapkan. Kajian mengenai ketimpangan hak mendapatkan pendidikan secara layak akan diselesaikan dalam praktek pendidikan inklusi. Sehingga pendidikan inklusi memberikan alternatif bagi pelaksanaan. Sementara itu, Munculnya pendidikan inklusi merupakan produk dari asas pemikiran humaniora yang juga dikaji dalam kesejarahan mengenai ketimpangan kesempatan belajar.

Bagi Pendidikan Sejarah secara Humaniora, Pendidikan Inklusi memberikan kesadaran terhadap konsepsi praktek penerapan pendidikan. Pendidikan Inklusi merupakan tesis terhadap permasalahan penerapan pendidikan sejarah dengan berbagai aspek kondisi individual. Sehingga kajian mengenai pendidikan inklusi akan mendorong pemikiran bagi sejarah untuk merasakan dan menyesuaikan konsep pendidikan Sejarah secara lebih humanis.

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Tensi

Adanya dinamika masyarakat Indonesia merupakan indikator kedewasaan bangsa ini ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Kehidupan berdemokrasi tak ...