Breaking News
Home » Wahana » Daripada Demonstrasi Melulu

Daripada Demonstrasi Melulu

Demonstrasi atau aksi jalanan, tak bisa dipungkiri lagi, telah menorehkan tanda gilang-gemilang dalam perubahan sosial republik ini. Aksi heroik seperti menenteng megaphone, berteriak lantang mengumandangkan senandung perlawanan tak akan pudar dalam memori para pelaku aksi.

Ingatan menjadi saksi buram atas kesemena-menaan rezim yang dilawan. Memori demonstrasi, terpaksa akan bangkit lagi menjadi alat pegangan perlawanan. Sejarah seperti diagung-agungkan dan mesti ditiru untuk mengulang kejayaan. Apakah mesti terus-terusan berlaku seperti itu? Dan apakah hanya itu satu-satunya penyelesaian pergerakan mahasiswa?

Mungkin memang benar, nanti di suatu hari akan terjadi reaktualisasi sejarah. Mungkin memang masa lalu akan berulang dan terjadi kembali di kemudian hari. Kita perlu mengamini. Namun, sejarah tak melulu menjadi benar dengan mutlak sepenuhnya.

Perlu diingat, ada saat-saat sejarah itu terbit kembali sebagai refleksi. Itu terjadi bukan untuk membuat kita menggunakan masa lalu untuk menghadapinya. Adanya perulangan-perulangan kejadian itu bukan untuk menguatkan retorika, tetapi merumuskan ide-ide perlawanan yang baru.

Untuk masalah demonstrasi, memang aksi demonstrasi pernah dianggap sebagai salah satu aksi yang masif lagi efektif untuk menggawangi isu besar. Demonstrasi pernah mendapat tempat di hati  masyarakat.

Namun, perlu diingat, demonstrasi pernah juga hampir dicampakkan. Demonstrasi pernah dianggap usang hingga perlu ditinggalkan. Dan hal itu terjadi bukan di masa sekarang, namun di masa lampau, dalam sejarah.

Bila menyimak kembali beberapa aksi demonstrasi besar-besaran yang pernah digelar untuk dalih perubahan sosial. Maka kita dapat menempatkannya dalam beberapa babak sejarah republik ini.

Kita sebut saja mulai dari tahun 1966, 1974, 1978, hingga tahun 1998. Beberapa aksi memang akhirnya meraih tujuan atas momentumnya dengan gilang-gemilang. Namun di sebagian aksi memberikan kita permenungan bahwa memang demonstrasi dapat menjadi ajang senjata memakan tuannya.

Gerakan aksi demonstrasi 1966 memberikan catatan penting yang patut diingat. Pertama, adanya campur tangan militer dalam aksi demonstrasi mahasiswa. Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang terbentuk saat itu, tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Soeharto.

Majalah Tempo edisi khusus Soe Hok Gie (2016), mencatat bagaimana para aktivis-aktivis demonstrasi 1966 menggelar rapat bersama Soeharto dan rekan sejawatnya sebelum turun ke medan aksi. Kemudian secara implisit, aksi ini ibarat penyerahan panggung kekuasaan tanpa seremonial kepada militer. Kaum militer yang kemudian berkuasa selama 32 tahun itu bertransformasi simbol dari mitra menjadi tirani yang perlu dimusnahkan. Demonstrasi ’66 jadi aksi yang berkesan tunggangan militer untuk kepentingan kekuasaan mereka.

Lalu, aksi Malari 1974 jadi bukti bagaimana redupnya suara mahasiswa di bawah laras senapan para serdadu. Peristiwa Malari 1974 ini malah memberi Jenderal Besar Soeharto jalan lapang untuk mencengkeram kekuasaanya dengan menahan musuh-musuh politiknya. Lucunya, orang-orang yang ditahan itu malah tak terlibat dengan peristiwa Malari.

Momen Malari ini disebut oleh sejarawan Daniel Dhakidae sebagai momen Orwellian. Momen yang bermakna pelanggengan ataupun legitimasi rezim otoriter dengan sebuah pengondisian pada tahun tertentu. Nama simbol ini disadur dari pengarang novel 1984 yang bernama George Orwell.

Lantas aksi 1978 malah membuka peraturan NKK/BKK yang kelak benar-benar membatasi ruang gerak mahasiswa pada dekade setelahnya. Setelahnya kebebasan akademik benar-benar dirapatkan. Mimbar politik mahasiswa jadi mimpi yang didambakan aktivis mahasiswa.

Dan hal itu terjadi, tak lain tak bukan lantaran kegagalan aksi demonstrasi 1978. Semenjak itu, pakar-pakar pendidikan mulai mendengungkan wacana ”mengganti”. Mulai dari mengganti orientasi gerakan, mengganti penggalangan massa, hingga mengganti aksi demonstasi itu sendiri.

Dalam laporan berita yang dimuat oleh Jurnal Prisma edisi Juni 1987, dipaparkan kesimpulan para pakar bahwa aksi 1974 dan 1978 dianggap tidak mencapai hasil yang diharapkan. Dua aksi ini dinilai hanya mengundang militer masuk ke dalam kehidupan kampus.

Namun sisi baiknya, dengan adanya NKK/BKK peluang untuk menjadi serba alternatif menjadi terbuka. Mahasiswa dipaksa untuk mencari ruang-ruang baru untuk berkarya. Tidak melulu mengandalkan cara lama yang telah layu

Sampai di situ, demonstrasi seperti kehilangan tuahnya. Aksi demonstrasi mulai dianggap sebagai hal yang sia-sia dan menyusahkan diri sendiri. Aksi dengan skala sekecil apapun pada masa Orde Baru diberangus sampai ke akarnya.

Aksi demostrasi kehilangan taji, –kalau dalam bahasa Jawa: laksana ra eneng ajine. Hingga 20 tahun kemudian, momen 1998 datang dan menyelamatkan muka demonstrasi dengan dramatis.

Akan tetapi, contoh kegagalan itu tak berhenti di peristiwa 1998. Perlu diingat lagi, gerakan demonstrasi mahasiswa di luar negeri juga pernah mengalami kegagalan. Contoh yang paling mencolok ialah tragedi Tiananmen (1989), tragedi demonstrasi mahasiswa Tiongkok dalam skala massa yang raksasa.

Saat itu mahasiswa Tiongkok membawakan isu publik yang kurang lebih sama dengan di Indonesia. Tuntutan pergeseran kekuasaan, demokratisasi, serta akses informasi publik yang terbuka bebas dan luas. Banyaknya tuntutan berbanding lurus dengan aksi massa yang meluap-luap di jalanan.

Namun, meski disokong dengan kuantitas yang melimpah, aksi itu tetap gagal. Lagi-lagi, yang jadi kambing hitam kegagalan aksi itu adalah penunggangan kepentingan kelompok luar. Selain itu, disinyalir kekompakan mahasiswa yang tak bersatu jadi salah satu faktor kegagalan lainnya.

Mencari Pola Gerakan

Demonstrasi sempat mengalami masa yang banyak mendapat resistensi dari pelbagai pihak. Mulai dari kalangan pengajar, sebagian mahasiswa yang dianggap apatis, sampai dengan militer.

Demontrasi memberikan citra yang frontal bagi publik. Gaya dan sifatnya terbuka. Cenderung frontal. Dan kadang menurut generasi tua terkini, terkesan;  impulsif.

Temuan demonstran bayaran kini bahkan sudah tak jarang lagi ditemukan. Mengingat saat ini adalah era kebebasan berpendapat, demonstrasi menjadi hal yang bakal sering ditemui. Esensi gerakan pun lambat laun jadi tereduksi.

Dengan melihat sifat-sifat itu, kini perlu ada skema yang digeser dalam gerakan mahasiswa. Okol atau jumlah massa yang mewakili ciri demonstrasi perlu diganti dengan akal, pokok tujuan, data dan urgensi. Kaum cendekiawan yang berciri dekat dengan apa yang disebut oleh Ali Syariati sebagai Rausyan Fikr ini perlu mengedepankan semangat intelektual nan cermat.

Dan tak kurang jua, aktivis-aktivis insan cerdik cendekia ini perlu menuntaskan masalah dengan penghitungan yang teliti. Sehingga daripada itu gerakan demonstrasi kurang tepat mencerminkan hal itu.

Daya kognitif mahasiswa –yang merupakan salah satu kemewahan mahasiswa itu, perlu dirawat, bukan dicederai. Kognitif atau kecerdasan yang setidaknya relatif dimiliki oleh setiap mahasiswa perlu diberdayagunakan melalui banyak langkah. Namun tak perlu dan melulu dengan jalan demonstrasi. Masih banyak cara untuk mewadahi daya kognisi mahasiswa agar aksinya tak lapuk dihembus sejarah.

Salah satunya menempuh lewat Jaringan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dalam ranah-ranah advokasi masyarakat. Jaringan LSM bisa jadi tapak lanjutan pasca-para calon intelektual ini digodok di lingkar studi atau forum diskusi kampus.

Dengan dua hal yang saling bersinergi ini, para aktivis dapat mengaplikasikan segala rupa pengalaman yang direngkuh di lingkar studi tanpa meninggalkan kognitivitasnya.

Di dalam ranah kampus, misalnya, kita dapat memanfaatkan keberadaan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti, beladiri, pecinta alam, pers kampus atau gerakan kepanduan untuk memaksimalkan semua potensi diri dalam setiap diri para aktivis. Kegiatan itu dapat diiringi dengan kegiatan studi lainnya. Sehingga kecerdasan emosi dan pikir aktivis sanggup diseimbangkan.

Jalur lainnya, bisa melalui organisasi profesi atau bisnis. Menempa diri di organisasi semacam ini bukanlah suatu kesia-siaan. Justru hal itu akan mengolah semua ide yang ditanam diri kita di lapangan pekerjaan dan medan permasalahan yang senyata-nyatanya.

Segala sarana yang disebutkan tadi tak cuma berguna untuk melatih solidaritas dan beraktivitas dalam berkelompok, tetapi juga menyuntikkan pola pikir yang matang tiap individu yang terlibat di dalamnya.

Kini, mahasiswa menghirup udara kebebasan berekspresi. Udara yang juga menuntut pola-pola hidup yang serba dinamis dan adaptif. Maka dari itu, ide, gagasan, dan fikiran sangat diperlukan untuk dapat bertahan di iklim seperti ini. Kreativitas pun jadi modal utama untuk menunjang aksi. Akan tetapi harus dan perlu diingat, kreativitas memerlukan akal, dan tidak melulu membutuhkan okol.

About Taufik Nandito

x

Check Also

Tensi

Adanya dinamika masyarakat Indonesia merupakan indikator kedewasaan bangsa ini ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Kehidupan berdemokrasi tak ...