Latest
Home » Uncategorized » Andai Aku Bisa Bicara

Andai Aku Bisa Bicara

Sekolah adalah mimpi dari setiap manusia untuk mendapatkan ilmu melalui pendidikan untuk masa depan yang lebih baik, aku pun terkadang menjadi impian bagi setiap manusia untuk dikenakan, mulai dari pelosok desa hingga kota. Sejak kecil ibu Darsan selalu sibuk tiap malam merangkai beberapa lembar kain menjadi sebuah seragam yang bisa Darsan kenakan dengan layak.

Merah adalah seragam pertama yang pernah Darsan kenakan ketika Darsan mengenal bangku sekolah dasar. Malam itu ibu menyibukkan dirinya bersama mesin jahit yang usianya sudah tidak muda lagi, merangkai beberapa logo,sleting,saku diantara baju dan celana.

Terkadang ibu merasa malu ketika Merah kisut saat di pakai oleh Darsan kala ia bersekolah.  Setiap hari senin ibu selalu merawat Merah dengan penuh kasih sayang, bahkan tak pernah lupa untuk menyemprotkan wewangian padanya. Aku selalu terlihat rapi ketika di pakai oleh Darsan saat bersekolah, begitu harum nya aku sampai setiap orang sangat betah ketika berada di samping Darsan. Aku selalu menemani Darsan saat bersekolah, bahkan ketika upacara, Merah dengan bangga bercerita padaku bahwa ia sangat rapi dan wangi diantara seragam murid-murid yang lain.

Panggil aku Abu. Aku telah menjadi bagian dari jasa setiap manusia yang kini menjadi orang-orang hebat di negeri ini, saat lagu wajib nasional di nyanyikan aku pun ingin bernyanyi bersama Darsan. Terpa angin pagi mengelus tubuhku, mengajak ku bernyanyi dan memaknai warna tubuh ku ini.

Aku telah menyaksikan perjuangan setiap manusia di atas bangku sekolah, hingga kini mereka terlahir menjadi sosok manusia yang sangat tinggi. Mulai dari pejabat, presiden, menteri  hingga petinggi yang lain. aku tak pernah menyesal ada sebagai seragam, namun terkadang aku merasa sedih ketika semua melupakan ku, kini aku telah jauh dari mereka yang pernah mengenakan ku. Terkadang pula usiaku tak terlalu panjang, mereka memilih menghanguskan ku dan kawan kawan dari pada memberikan ku kepada orang lain. Beruntunglah, Aku, Biru dan Merah masih tersimpan di Almari lawas peninggalan Ibu Darsan.

Saat Darsan disibukan mencari sekolah menengah pertama yang berkualitas, Biru diajak Darsan untuk mendaftar ke setiap sekolah menengah pertama di kota Cahaya ini. Darsan telah mendapatkan mimpinya untuk bersekolah di sekolah SMP Mutiara 17, Sekolah yang Darsan inginkan. Merah pun telah di gantikan oleh Darsan dengan si Biru. Biru juga sering kali merasa bangga bisa mengantarkan Darsan hingga sekolah menengah pertama yang telah lama ia impikan. Sedangkan Merah yang memiliki logo tutwuri handayani itu menjadi pendahulu kami sebagai penghuni lemari berdebu Ibu.

Hari demi hari, Sosok Darsan telah tumbuh besar. Darsan menjadi salah satu siswa yang pandai di kelas VIII A, hingga ia menjadi seorang pemimpin dalam kelasnya. Biru selalu menceritakan bahwa ia selalu menemani Darsan ketika ia mengayuh sepeda yang ayah berikan.

Nasibnya si Biru tak jauh beda dari nasibku. Tetes keringat Darsan membasahi tubuh kami, harum tubuhku berubah menjadi bau keringat yang tak sedap untuk di cium, terkadang pula aku menjadi tempat curahan para siswa yang menuliskan dan menggambarkan berbagai macam dengan tinta bolpoin diatas tubuh ku. Aku sangat merasa ternodai, apa lagi ketika saku ku di isi dengan berbagai macam benda yang menodai tubuhku. namun ibu selalu merawatku dengan ketulusan nya, mencuci tubuhku hingga bersih dan menyemprotkan kembali wewangian diatas tubuh ku yang mulai pudar.

* * *

Biru menceritakan saat ia bersamanya. Saat itu Darsan sudah menjadi pribadi nya sendiri, ia sudah tidak pernah lagi diantarkan oleh ibunya menuju sekolah, Darsan menggunakan sepeda kesayangan nya untuk bersekolah. Sayangnya Darsan mulai jarang mematuhi perintah ibu, kadang juga Darsan tak jujur bahkan tak segan ia berbohong, setelah ia mendapatkan teman-teman yang beragam dari sudut pandang pola berfikir. Aku merasa malu ketika diajak Darsan membolos sekolah, belum lagi ketika aku diletakan di tempat yang tidak semestinya.  Aku selalu mendapatkan perhatian setiap orang yang melihat ku dijalanan.

Saat Darsan menduduki bangku kelas 3 SMP, Darsan sudah dua tahun mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dalam kelasnya. Namun kini Darsan sudah tidak dipercaya lagi oleh kawan-kawan sekelasnya, juga wali kelasnya. Reputasi Darsan menjadi pemimpin di dalam kelasnya dan menjadi anak yang pandai dalam kelasnya kini sudah tiada.

Darsan di kenal sebagai murid yang kurang sopan, kerap kali membolos jam pelajaran sekolah. Ibu pun harus berulang kali menghabiskan waktunya untuk menemui guru Darsan untuk mendengar tindakan dan perilaku Darsan yang sudah di luar batas wajar aturan sekolah.  Tanpa jemu, ibu selalu menasehati Darsan untuk merubah perilakunya, namun Darsan tetap saja bersikukuh dan mengeyel kepada ibu nya.

Hingga Darsan akan menghadapi ujian kelulusan sekolah menengah pertama untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.  Kini Darsan sering mendapatkan ancaman dari pihak sekolah yang akan mengeluarkannya dari sekolahan. Apabia Darsan selalu melanggar peraturan sekolah, Darsan pun tak mau jika ia akan di keluarkan dari sekolahnya.

Dalam kesendirian dan kesunyian, aku sebagai seragam yang telah menyaksikan perjuangan manusia dalam menimba ilmu merasa sedih jika aku tidak bisa di jaga oleh Darsan. Seperti Biru, saat Darsan telah menyelesikan pendidikan nya di bangku sekolah menengah pertama. Biru masih di gunakan oleh Darsan untuk mencari dan mendaftar sekolah menengah atas oleh darsan. Darsan sudah menemukan sekolah yang ia inginkan, di sana lah Darsan akan meneruskan sekolah menangah atasnya. Kini sepeda yang sering kali Darsan gunakan di bangku sekolah menengah pertama sudah berubah, ia digantikan sepeda motor yang sangat bagus, lebih kencang larinya, lebih gemilau tampaknya. Seperti Sepeda itulah nasib kami.

Lalu aku, Di tahun ajaran pertama di bangku sekolah menengah atas, aku jarang merasakan bangku kelas yang nampak rapi dan buku-buku pelajaran yang di sodorkan oleh para guru.  Aku lebih banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat yang sangat memalukanku. Bau asap rokok kerapkali membuatku risih, belum lagi tubuh ku yang semakin kisut, ketika aku di letakan dalam tas tanpa di lipat.

Aku sudah tak tahan lagi dengan perilaku Darsan yang memperlakukan ku dengan caranya sendiri. Saku ku kini bukan lagi ternodai oleh tinta bolpoin yang meluap, namun kini saku ku seringkali di isi oleh beberapa batang rokok dan barang-barang yang tak pantas lainnya. Aku hampir mati tanpa daya, hakekatku menjadi seragam sekolah sudah tak berguna lagi.

Tahun ini Darsan akan mengakhiri pendidikan nya selama 12 tahun. Desing suara knalpot motor membuatku bising, belum lagi noda warna pilok yang membuatku kehilangan martabat sebagai seragam.  Kini Darsansudah mengenal apa itu wanita,cinta dan pergaulan yang semakin bebas. Aku sering kali di bawa oleh Darsan bersama wanita yang tak aku kenal, aku merasa sendiri berada di dalam kost, walaupun ada Darsan bersama wanita yang ia cintai. Sering Aroma alkohol menempel di atas tubuhku, aku di letakan diatas lantai yang kotor, akulalu dipaksa melihat Darsan bersama wanita yang ia bawa tanpa mengenakan ku. Mereka sudah tak membutuhkan ku, telanjang di hadapan pandanganku, melakukan hubungan yang belum pantas untuk Darsan lakukan.

Aku seperti telah mati, tak berguna. Dalam kesendirian waktu, aku teringat perjuangan ibu melawan malam, menahan kantuk hanya untuk menjahitku ku sebagai pakaian generasi bangsa,  agar menjadi manusia berguna dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan alam semesta. Kini pupus sudah mimpi ibu, mengharapkan ku menjadi pengantar Darsan menjadi siswa yang berbudi.

Apalah daya jika kami ada hanya sebagai pakaian seragam, kami tak bisa berbicara melawan apa saja yang menodai ku.  Kami terlalu lemah menjadi seragam, menjadi hina dan ternodai. Andaikan saja waktu mengizinkan kami untuk berbicara diantara lemahnya tubuh yang di hinakan, tak ingin kami dicipta sebagai pengantar generasi yang hidup tanpa moral, budi dan nurani.

Hakekat kami hanyalah sebagai seragam yang diam tanpa suara. Segala daya upaya sudah kami lakukan dalam perjalanan setiap manusia untuk mengantarkan mereka menjadi manusia yang berbudi luhur. Kehidupan hanyalah kehidupan, yang tak mungkin dapat mengubah kami menjadi hidup selayaknya manusia. Jasaku telah di gunakan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia untuk mengantarkan mereka menuju pintu gerbang pembebasan kebodohan. Kini aku, merah dan biri sudah digilas oleh zaman. Mereka sudah menjadi manusia yang hebat bagi diri mereka sendiri, sedangkan aku masih saja tetap menjadi seragam, dimana hakekatku memanglah sebuah seragam yang dilupakan tanpa daya upaya.  Kini kami kesepian didalam lemari, bahkan kemarin Istri Darsan bilang kalau merah akan di binasakan dalam sejarah peradaban Darsan, lalu Biru, lalu Aku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*