Breaking News
Home » Lectura » Sinisme : Pemikiran para penolak Dunia

Sinisme : Pemikiran para penolak Dunia

Para Penganut Sinisme Menolak Konvensi Masyarakat. Mereka yang pertama dari empat aliran besar filsafat Yunani yang muncul setelah ruhtuhnya Athena.—Bryan Magee.

Sinis berarti “seperti anjing” Filsuf Diogenes memberikan pengertian; “aku dijuluki anjing karena aku menjilat mereka yang memberiku apa saja, menggonggongi mereka yang menolak dan menancapkan gigiku pada mereka yang bebal. Kata sinis masih tetap digunakan hingga saat ini. Namun telah mengalami pergeseran makna menjadi orang yang selalu mengambil sudut pandang terburuk tentang motivasi orang lain.

Kamus Bahasa indonesia mengenal Sinisme sebagai pandangan atau pernyataan sikap yang mengejek atau memandang rendah. Namun dalam aliran filsafat, Sinisme merupakan mazhab/aliran filsafat Yunani yang tidak mempunyai cita-cita dan selalu menganggap orang lain lebih buruk. Penganut Sinisme menekankan bahwa kebahagiaan sejati merupakan ketidaktergantungan kepada sesuatu yang acak atau mengambang. Maka kaum Sinis menolak kebahagiaan dari kekayaan, kekuatan, kesehatan, dan kepamoran.

Christopher Rowe menyatakan bahwa Aliran ini tidak pernah menjadi mazhab filsafat formal; juga, tidak pernah mempunyai, dan tidak pernah dapat memiliki, bangunan sekolah filsafat secara fisik; demikian juga tidak akan pernah memiliki doktrin filsafat.Tetapi para filsuf saat itu meyakini bahwa Sinisme memuat semacam proyek filsafat, Plato menjulukinya aliran ini sebagai “Socrates yang gila”.

Sedangkan Lorens Bagus berpendapat Kata-kata seperti sinis, sinisme, mempunyai konotasi negatif (peioratif) terhadap kemurungan, pesimisme, keraguan, peremehan; penghinaan terhadp pendapat orang lain; tidak yakin akan hal-hal ideal dan kemanusiaan. Sinisme juga dianggap sebagai suatu keyakinan bahwa manusia melulu terpusat pada diri sendiri, munafik, tidak tulus, dan hanya baik kepada diri sendiri.

Kaum Sinisme

Aliran filsafat Sinis pertama kali didirikan oleh Antisthenes yang hidup pada 445-365 SM, ia merupakan salah seorang pengikut setia Socrates. Antisthenes dalam bahasa dan logika secara empatis tidak berifat sinis; dan asosiasi langsung antara Diogenes dan Anthistenes secara kronologis agak problematik.

Tokoh sinis yang juga terkenal adalah Diogenes, yang tinggal di dalam sebuah tong. Menurut catatan hidup Cicero (Cic. Tusc. V.92) Diogenes diperkirakan lahir dan mati kira-kira 412/403-324-321 SM, berasal dari Laut Hitam. Ayahnya bernama Herecias, bertugas di tempat pembuatan uang; ia diasingkan; dan dia menghabiskan sisa hidupnya di Athena dan Korintus.

Diogenes secara agresif mencemooh pelbagai kebiasaan kan konvensi, dan sering sengaja mengejutkan orang, misalnya tidak pernah mandi, berpakaian compang camping, tinggal di peti jenazah, makan makanan kotor, atau melakukan tindakan yang dianggap tidak pantas dilakukan dimuka umum. Ia hidup seperti anjing, dan karena itu orang-orang menjulukinya “Sinis” (bahasa yunani kynikos; Seperti anjing).

Diogenes memiliki seorang penerus bernama Crates. Crates berasal dari Boeoti, dari Thebes, yang menolak kemakmurannya, dan bergabung dalam aliran Sinis. Dia tampak lebih bergembira daripada Diogenes; menurut beberapa laporan, setiap rumah di Athena terbuka untuknya, dia bahkan dijuluki pembantu rumah tuhan. Yang mengherankan, Crates menjalani hidup dengan menikah, yaitu dengan Hipparchia, yang seolah bertentangan dengan prinsip anti-kemapanan Sinisme Diogenesis, ia bahkan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja menenun.

Penolak Dunia

Sinisme Diogenes menyerang monarki dan tirani dengan sangat keras. Mazhab ini meluapkan ketidakpuasan mereka terhadap hukum-hukum negara yang tak kunjung memberi rasa aman dan kebebasan bagi masyarakatnya.

Para penganut Sinisme merupakan Kosmopolitan yang pertama dikenal. Semenjak Sokrates mencetuskan konsep Kosmopolitan, hanya Diogenes yang pertama dikenal mempraktekannya secara langsung. Diogenes melecehkan pembedaan antara orang Yunani dengan orang asing. Diogenes akan selalu menjawab bahwa “Aku adalah Warga Dunia” ketika ditanya identitas warga negaranya. Dan ia menjalani hidupnya memang tanpa kemapanan tempat tinggal.

Diogenes dan para pengikutnya bukanlah orang-orang yang sinis dalam pengertian di KBBI. Mereka tetap meyakinin adanya keutamaan atau kelebihan dari setiap individu. Akan tetapi, mereka adalah orang yang mementingkan pembedaan terhadap nilai-nilai yang benar dan mengesampingkan nilai-nilai yang palsu.

Para penganut sinisme adalah mereka yang merasa berkecukupan menjalani hidup sebagai manusia dengan kebutuhan Primer dan mengesampingkan kemewahan. Semua konvensi sosial, semisal pembedaan antara milikmu dan milikku, antara publik dan privat, antara telanjang dan berpakaian, antara mentah dan matang, semua itu tidak ada artinya.

Alexander dan Diogenes

Alexander Agung, seorang murid Aristoteles yang juga dikenal sebagai penguasa dan ilmuwan mengakui jalan hidup Diogenes sebagai jalan hidup manusia terhormat. Alexander memandang bahwa Diogenes merupakan wujud ketulusan manusiawi seutuhnya. Bahkan Alexander mencetuskan pernyataan “Andai aku bukan Alexander, aku ingin menjadi Diogenes”

Kisah pertemuan antara Alexander dan Diogenes menjadi wujud dari pelecehan paling terkenal diantara filsuf-filsuf pada masa itu. Ketika Alexander datang mengunjungi Diogenes di Suatu lubang yang digunakan Diogenes untuk tidur, Alexander berdiri di pintu lubang dan menanyakan apakah ada yang dapat dilakukan untuk sang filsuf. Diogenes pun menjawab, “Ya, Tolong menyingkir agar tidak menghalangi cahaya masuk.”

Tidak diragukan lagi bahwa Diogenes memaksudkan kalimatnya secara simbolis dan harfiah sekaligus. Ketika ditanya kebutuhannya, Diogenes hanya membutuhkan cahaya karena itu kebutuhannya saat itu. Diogenes juga meminta Alexander untuk menyingkir karena itu caranya ia mendapatkan kebutuhan dan menjawab penawaran Alexander sekaligus.

Gagasan

Gagasan utama adalah bahwa Sinisme memiliki tujuan hidup kebaikan dan kebijaksanaan. Sinisme adalah jalan hidup yang membuat klaim filsafat (tidak memisahkan filsafat dan jalan hidup).

Sinisme mengklaim “kemandirian”, “kebebasan”, “dan hidup tanpa nafsu”, dan menggambarkan cara hidupnya sebagai sederhana. Oleh karenanya bangsa Sparta yang hebat itu menghormati Diogenes. Sinisme sebagai ejekan tampak pada ajaran yang tidak menyukai kalangan elit dan mapan, menganggap para pemikir sebagai sia-sia, jika tanpa praktik.

Pola hidup aneh yang dipraktikan Diogenes diyakini tersusun dari beragam elemen, dan sebagian besar memboikot gaya hidup konvensional, menolak tradisi, membantah ajaran konstitusi dan masyarakat ideal. Sinisme merupakan tradisi bijak yang menjanjikan kebahagiaan atau penyelamatan; dan berbagai tradisi humor (praktik melawak dan humor verbal); Komedi Tua yang terus terang kasar; kejenakaannya serio-cosmic Socrates.

Jelas bahwa Sinisme hidup anti politik, dalam arti tidak ingin terlibat dalam urusan sistem pemerintahan, mereka melawan norma, standar sosial, kebiasaan, tradisi, aturan, hukum, dan pendidikan formal. Para penganut aliran ini memprovokasi oposisi baik dalam masyarakat Yunani maupun Romawi. Pada umumnya kaum Sinisme merupakan orang-orang asketis, anti-intelektual, non-akademis, non-sistematis dan individualis.

Sehubungan dengan hukum (nomos), ia berpandangan bahwa di sana tidak mungkin ada pemerintahan politik (politeusthai) tanpa hukum, karena itu ia berkata, “Tanpa kota tidak ada manfaat dalam sesuatu yang dijadikan beradab; Dan kota adalah beradab; Tanpa hukum tidak ada manfaat dalam sebuah kota; Karena itu hukum adalah sesuatu yang beradab.

  • Ia akan mengejek jabatan, kekayaan, dan reputasi dan semua jenis hal-hal semacam itu, dengan mengatakan bahwa semuanya adalah ornamen dari perbuatan jahat (prokosmemata kakias).
  • Dia dia berkata bahwa satu-satunya negara-kota (polis) yang benar adalah hanya satu di dalam semesta (kosmos).
  • Bahwa wanita sebaiknya dimiliki bersama, mengakui tidak ada perkawinan, tetapi ia mengatakan bahwa laki-laki yang mengajak harus pergi dengan wanita yang mengajak. Dan karena ini ia berpendapat bahwa anak-anak juga harus dimiliki bersama.

 

Daftar Pustaka

Christoper Rowe, Malcolm Schofield, Simon Harrison, and Melissa Lane., Sejarah Pemikiran Politik Yunani Romawi, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2001.

Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy, Edinburg: Cambridge University Press, 1995.

David Mazella, (2007), The Making of Modern Cynicism, University of Virginia Press.

Lorens Bagus., Kamus Filsafat, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000,

 

About Kanal Baca

x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...