Breaking News
Home » Lectura » Sejarah Seni Tutur Begalan

Sejarah Seni Tutur Begalan

Banyumas merupakan daerah wilayah Jawa Tengah yang terleak di perbatasan Jawa Barat yang dipengaruhi oleh kebudayaan Sunda dan Jawa menjadikan Banyumas memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah.Bahasa dan kebudayaan Banyumas dikenal dengan’’Banyumasan’’, yang saat ini masih tumbuh dan berkembang sampai sekarang misalnya kesenian Lengger, Aplang, Angguk, Buncis, Baritan,  Bongkel, Calung, Ebeg, Begalan dan lain sebagainya.

Kesenian tersebut pada awalnya memiliki fungsi untuk upacara keagamaan,upacara selamatan maupun upacara saat panen. Namun seiring berjalannya waktu,sekarang kesenian tersebut berubah sesuai perkembangan zaman, fungsi utama/awal dari kesenian tersebut sudah banyak dimodifikasi dan menjadi sarana hiburan. Ada beberapa kesenian yang masih dipercayai sebagai upacara penolak bala seperti Seni Begalan. Seni Begalan dilaksanakan pada saat upacara pernikahan.

Seni tutur Begalan sudah ada sejak zaman Adipati Wirasaba berhajat mengawinkan putra putrinya yang bungsu bernama Dewi Sukesi dengan putri sulung Adipati Banyumas yang bernama Pangeran Tirtokencono. (Hadi Mulyodiharjo dalam Kesenian Tradisional Begalan – Supriyadi. 1986: 5)

Seminggu setelah akad nikah, pengantin putri diboyong ke rumah pengantin pria atau dalam bahasa Jawa disebut Ngundhuh Manten. Perjalanan tersebut dilakukan dengan berjalan  kaki walaupun jarak antara  Wirasaba sampai Banyumas sekitar dua kilo meter.

Pada waktu perjalanan, salah satu dari rombongan teringat adakah barang atau perbekalan yang ketinggalan di Kabupaten Wirasaba. Perjalanan kemudian dihentikan dan mereka saling mengingat-ingat. Karena perjalanan sudah jauh, walaupun ternyata ada barang yang ketinggalan, mereka memutuskan untuk tidak kembali mengambil barang tersebut. Dan untuk memperingati peristiwa itu tempat tersebut diberi nama Palumutan.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan melewati sungai dengan menggunakan perahu. Perahunya masih sangat sederhana dan jalannya sangat pelan walaupun sudah didayung oleh beberapa orang. Hal tersebut oleh mereka dikatakan “Lakune perahu mandheng mangu”. Tempat ini dinamakan desa Jurangmangu.

Sampai di seberang perjalanan dilanjutkan dengan berjalan lagi, mulailah mereka masuk ke hutan belantara yang terkenal angker/wingit dan gawat sekali. Oleh karena itu, mereka berjalan berhati-hati.

Ketika sampai di daerah yang sekarang dinamakan desa Tenting, Tiba-tiba mereka dihentikan oleh Perampok. Mereka menggunakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala dan membawa golok dan bermaksud merampas semua barang yang dibawa oleh rombongan pengantin. Maka terjadilah perang antara rombongan pengantin dengan rombongan begal (perampok). Akhirnya begal dapat dikalahkan dan lari tunggang langgang. Disinilah letak inti dari kesenian tutur Begalan di Banyumas.

Perjalanan kemudian dilanjutkan sampai menjelang malam mereka melihat pemandangan yang berkesan, yaitu sinar lampu bagaikan kunang-kunang beterbangan di sawah. Mereka berharap bahwa tempat tujuan sudah akan sampai. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa derah tersebut dipandang wera yang berarti menyenangkan. Maka pantas kalau daerah itu disebut desa Sokawera.

Dalam perjalanan sampai ke perbatasan Banyumas, mereka merasa keder atau kehilangan arah, sehingga mereka tidak tahu sampai di mana dan jalan mana yang akan ditempuh. Oleh karena itu, mereka beristirahat di tempat ini sampai matahari terbit. Kemudian tempat itu diberi nama desa Kedung User.

Setelah pagi hari, rombongan ini baru tahu ke mana arah berjalan. Akhirnya sampailah mereka di Kabupaten Banyumas.

Cerita singkat ini merupakan bagian yang melatarbelakangi adanya tradisi begalan pada masyarakat Banyumas. Cerita ini juga terlihat dalam pementasan Begalan, yang diperankan oleh dua orang. Seorang berperan sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur) yang bernama Gunareka, dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok yang bernama Rekaguna.

Cerita ini juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Banyumas yang masih memegang kuat adat dan tradisi untuk menghindari bepergian jauh pada hari sabtu pahing.  Mereka percaya jika orang bepergian jauh pada hari sabtu pahing maka bisa  celaka. Karena kejadian begal tersebut terjadi di hari sabtu pahing.

Dalam pelaksanaan tradisi Begalan, seorang yang memerankan Gunareka akan membawa barang-barang yang dipikul. Barang-barang tersebut adalah peralatan dapur yang masing-masing alat memiliki makna dan pesan untuk pengantin pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

About firdha annisa

Mahasiswa aktif pendidikan Sosiologi-Antropologi. Tertarik kajian feminisme dan pemilik usaha Fortuna Online Shop. Temui saya di Instragram @firdha_nisa atau ajak ngopi aceh di sekitaran kota Surakarta.
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...