Breaking News
Home » Lectura » Pergerakan Kekinian

Pergerakan Kekinian

Aktivisme kampus yang berjalan, justru menuai polemik dan mengundang iklim saling kritik –bahkan hampir mendekati kadar saling menghujat, di kalangan mahasiswa. Usaha mobilisasi dalam ranah demonstrasi misalnya, tidak dibarenginya antusiasme dan menurunnya jumlah massa dalam aksi mahasiswa yang turun ke jalan mengindikasikan semakin membekunya peran aktivis kampus. Lalu, masih relevankah dengan perkembangan diskursus pergerakan era kekinian?

Kita perlu menyatukan persepsi tentang “pergerakan” yang selama ini menjadi alat legitimasi para aktivis mahasiswa. Mari mencoba untuk belajar dari konsepsi pergerakan tokoh-tokoh periode Kebangkitan Nasional kita. Kemudian memahami bahwa sejarah ternyata sama sekali tidak memotret unsur demonstrasi.
Memang sangat besar tingkat konsekuensi pada zamannya bila dibandingkan era sekarang, sehingga para pendahulu kita tidak melakukan mobilisasi massa dan sebaliknya justru mobilisasi intelektual. Untuk itu arti pergerakan tidak mesti diasumsikan tunggal melalui demonstrasi, tetapi dalam batas-batas tertentu, demonstrasi hukumnya adalah wajib.

Usaha mobilisasi dalam ranah demonstrasi misalnya, tidak dibarenginya antusiasme dan menurunnya jumlah massa dalam aksi mahasiswa yang turun ke jalan mengindikasikan semakin membekunya peran aktivis kampus.

Di sisi lain –diakui atau tidak, diskursus pergerakan mahasiswa saat ini sedang memasuki suatu zaman dimana romantika seremonial sedang hangat diperlombakan. Tidak heran jika para aktivis mahasiswa lebih sering menekankan kegiatan seperti Seminar Nasional, Workshop Kebangsaan, atau kegiatan positif sejenis yang bernuansa mengasyikkan dengan stan-stan bazar dan pentas seninya.

Tidak ada dasar untuk menyalahkan proses diskursus yang sedang berjalan. Tetapi apakah tepat jika demonstrasi disesuaikan dengan momentum agenda Tahun Pemerintahan seperti Hari Pendidikan Nasional, atau hari-hari peringatan yang lain? Menurut saya, dengan menjadikan demonstrasi sebagai ritus dalam sebuah siklus, tidak begitu efektif bagi evaluasi pemerintahan.

Bisa jadi malah semakin mengikis daya kritis mahasiswa itu sendiri. Demonstrasi harus diartikan dalam upaya responsif terhadap kebijakan yang ada, bukan gejolak agenda seremonial. Singkatnya, demonstrasi justru tidak tepat jika dihubungkan dengan pergerakan mahasiswa kekinian, namun sekali lagi saya tegaskan demonstrasi adalah wajib.

Satu lagi perkara yang tidak kalah pentingnya adalah sikap kritis mahasiswa terhadap persoalan kampusnya sendiri. Jangan sampai seperti yang diungkapkan oleh Soe Hok Gie dalam ikhtisarnya Kenang-Kenangan Bekas Mahasiswa: Dosen-Dosen Juga Perlu Di Kontrol. Gie mengkritik mahasiswa-mahasiswa pada zamannya dengan menyatakan “Kalau kita berani melawan Soekarno dan jendral-jendral korup, masak kita takut melawan dosen-dosen kita yang ngawur?”. Sekian.

About Yusuf Kurniawan

x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...