Breaking News
Home » Lectura » ‘Pah Troeno’ Menjelaskan Kondisi Petani pada Era Kolonial

‘Pah Troeno’ Menjelaskan Kondisi Petani pada Era Kolonial

‘Max Havelaar’ telah menunjukan realitas penundukan sistem indonesia. Sedangkan ‘Pah troeno’ menjelaskan kondisi penundukan belanda terhadap petani perkebunan. Kedua Novel inilah yang mengguncang kolonialisme di Indonesia.

Pada era kolonial Hindia-belanda, muncul berbagai masalah yang ditimbulkan oleh pemerintah kolonial hindia-belanda. Masalah yang terjadi di hindia-belanda sering disembunyikan dengan tanpa adanya laporan resmi. Kondisi naas hindia-belanda disembunyikan dari dunia. Namun di lain sisi, kemajuan pesat negara belanda mulai berkembang sebgai salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan hindia-belanda sebagai penyokong utama. Maka realitas sosial yang dikemukakan lewat sastra patut dijadikan acuan kondisi pada masa itu.

Konflik antara kelas sosial Bumi Putera, Koloni belanda, Cina dan para Bangsawan Bumi Putera banyak dikemukakan lewat karya-karya sastra. Karya sastra muncul sebagai pembanding antara dokumen resmi koloni hindia-belanda dengan kondisi yang terjadi. Karya sastra semacam ‘Max Havelaar’ sebagai contohnya mampu memberikan gambaran kondisi sosial feodalistik di Hindia Belanda. Kemudian muncul pula ‘Pah Troeno’ yang memberikan gambaran tentang kondisi seorang petani dari kelas rendah yang kecanduan Opium dan melakukan aktivitasnya dalam lingkaran feodalisme kolot jawa dan kolonialisme bangsa Belanda.

Penulis ‘Bebas’ Belanda  

Penulis ‘Pah Troeno’ yang dikenal sebagai Boeka, merupakan nama samaran dari P.C.C. Hansen (1867-1930) ia memiliki nada pemahaman simpatik dan empatinya pada penduduk pedesaan Jawa. Karya sastranya mampu memberikan gambaran realistis tentang kehidupan seorang petani Bumi Putera. Sehingga karya sastranya mampu memberikan opini pembanding antara dokumen resmi dengan kondisi yang terjadi. Lewat garis imajinernya, P.C.C Hansen menawarkan metode kritik sastra untuk menjadi sumber sejarah sosial yang terjadi di era kolonial Hindia-Belanda.

Novel ‘Pah Troeno’ memiliki nada pemahaman simpatiknya atau empatinya pada rakyat di Jawa umumnya, penduduk pedesaan Jawa pada khususnya. Dia penuh semangat membuat permohonan untuk nasib rakyat jelata yang rendah hati yang terus-menerus menjadi objek ekstraksi yang berlebihan, eksploitasi, intimidasi, dan penindasan oleh majikan mereka. Sangat berbeda dari Multatuli, Boeka mampu mengungkapkan semua situasi yang mengerikan, dengan cara yang realistis, hanya karena Boeka hidup sebagai “penanam kopi” di tengah-tengah mereka selama bertahun-tahun.

Dalam posisinya itu Boeka memiliki banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan mereka, mendapat informasi melalui pelayannya dan para mandor. Secara singkat, ia tenggelam dalam dunia kehidupan rakyat jelata di pedesaan sehingga ia harus tahu “perspektif batin” mereka, perasaan mereka, pikiran, sikap dan mentalitas. Dibandingkan dengan penulis novel tentang kehidupan masyarakat adat, Boeka tidak tinggal dengan pria sesama negara dan karena itu bisa mengamati kehidupan petani dari dalam. Selain itu, karena Boeka adalah seorang partikelir (seorang pria di bisnis swasta) ia tidak diikat dengan pandangan resmi dari pejabat pemerintah, sebaliknya, ia menikmati kebebasan untuk melihat hal-hal menurut pandangannya sendiri dan mengekspresikan dirinya secara bebas, atau bahkan kritis jika perlu.

Boeka memiliki maksud untuk menulis “cenderung berbau roman”, sebuah novel dengan tujuan untuk mempengaruhi orang untuk tujuan tertentu. Akibatnya retorika dalam novel-novelnya terganggu oleh ayat-ayat panjang permohonan, argumentasi penilaian moral dan kritik berlimpah -sementara sering mengisyaratkan pada penyakit-penyakit sosial, perbuatan salah dan pelanggaran yang menimpa orang-orang yang mengajukan kasasi ke pejabat pemerintah dan pembuat kebijakan kolonial untuk memperoleh wawasan adat yang lebih dalam dan untuk menunjukkan empati kepada orang-orang sehingga kesalahan dalam pemikiran dan penganiayaan bisa dihindari.

Untuk prasangkanya atas masyarakat adat masih menjulang besar antara Belanda. Citra umum masyarakat Jawa adalah malas, tidak giat, pasif, Jawa fatalistik masih dominan. Sebuah melihat dari dalam mengungkapkan bahwa karakteristik tersebut adalah karena tekanan pada orang yang dibuat gila oleh tirani tuan mereka, baik Bumi Putera maupun kolonial. Dia mengungkapkan bahwa dalam hati mereka penduduk asli yang sakit hati oleh ketidakadilan yang dilakukan kepada mereka dan bahwa mereka membenci penguasa kolonial.

Kritik Sang Partikelir

Boeka memiliki cukup kesempatan untuk menyuarakan protesnya terhadap komitmen malpraktek oleh pejabat Belanda dan juga kaum priyayi Jawa, dan kutukan tata krama mentahnya dari Belanda dalam hubungan mereka dengan penduduk asli. Boeka sepenuh hati bergabung dengan kelompok atau oposisi kolonial atau disebut kritikus kolonial.

Boeka memiliki standar relevansi tinggi untuk perhatian utama studi ini, yaitu rekonstruksi realitas sosial seperti yang tercermin dalam genre tulisan. Kisah “‘Pah Troeno’” adalah pendekatan yang tajam dari kehidupan sehari-hari dunia asli. Ini adalah fiksi yang ditulis dengan rasa yang kuat dari fakta-fakta. Imajinasinya terjebak oleh pengalaman sehari-hari dalam hidup di tengah-tengah penduduk asli. Dia telah melihat dari dalam semua kehidupan dunia Bumi Putera meskipun dia tidak bisa memperoleh perspektif batin mereka dengan cara yang sempurna. Ada firasat bahwa ia tidak menguasai bahasa Jawa dan karena itu memiliki beberapa kesalahpahaman atau salah tafsiran tentang mentalitas Jawa. Dia tidak bisa memahami nuansa perasaan halus dan motivasi di balik perilaku terang-terangan formal, dalam interaksi dan hubungan sosial.

Dalam mengkritik sistem kolonial dan membuat permohonan untuk perbaikan kondisi hidup masyarakat asli, Boeka masih tetap percaya terhadap misi suci ras kulit putih. Belanda harusnya mengambil kepemimpinan dalam mengembangkan negara dan membimbing orang-orang menuju kemajuan. Di masa mendatang hal tersebut tidak keluar dari pertanyaan untuk meninggalkan hal-hal kepada penduduk asli itu sendiri. ‘Pah Troeno’ benar-benar mengungkapkan semangat paternalistik dalam periode tersebut. Dalam konteks ini, itu berarti bahwa kita harus memahami maksud dari Boeka, yang mengakui keyakinannya dengan itikad baik.

Pada kenyataannya, oposisi kolonial tidak pernah meragukan hak keberadaan kolonialisme, itu hanya pertanyaan tentang bagaimana untuk menjalankan pemerintahan kolonial. Memang, gagasan mengenai beban orang kulit putih masih terus terlintas di pikiran orang-orang Belanda. Hanya kebijakan kolonial cerah dan progresif dapat membawa perbaikan nasib masyarakat adat. Boeka tidak memiliki keyakinan terhadap Bumi Putera bahwa mereka bisa memperbaiki kehidupan diri mereka sendiri.

Boeka sangat bersemangat berusaha untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik di kalangan masyarakat pembaca di Belanda tentang dampak buruk dari sistem kolonial Belanda. Dalam tulisan-tulisannya Boeka memperjuangkan resiko terhadap pembentukan kolonial dengan norma-norma dan nilai-nilai yang diterima. Dia tahu masyarakat Bumi Putera cukup baik dan bisa menangkap rincian kehidupan dunia yang penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan penduduknya. Sebuah novel seperti “‘Pah Troeno’” yang signifikan melebihi nilai sementara, ia membantu kita untuk memahami kerja internal masyarakat kolonial pada tingkat yang lebih rendah. Karya ini dengan penggambaran kehidupan sehari-hari berakhir bagi dirinya untuk melakukan analisis teks sastra yang berhubungan dengan nilai-nilai dan struktur sosial masyarakat kolonial kontemporer.

Realitas Yang dibangun oleh Novel ‘Pah Troeno’

Jelas kita tidak bisa mengambil konstruksi realitas Boeka untuk diberikan kita harus mengajukan pertanyaan sampai sejauh mana realitas di atas dapat dianggap sebagai realitas objektif. Di sini pertama kita harus mengaitkan dengan realitas sosial dan budaya yang diamati melalui karakteristik mereka, misalnya aspek struktural yang mempunyai hubungan timbal balik dan diwujudkan dalam pola perilaku sikap dan interaksi jaringan. Struktur dan pola dilihat dari perspektif Boeka dapat dianggap sebagai realitas intersubjektif karena sesuai dengan penerimaan dan pengalaman diri mereka. Realitas intersubjektif ini relevan dengan dunia kehidupan rakyat, sehingga dunia dunia itu sendiri menjadi objektif.

Terminologi Karl Mannheim, penulis terikat waktu sampai saat ini (Zeithgebunderheit) atau budayanya (Kulturgebunderheit). Kita harus membuat jelas semua subjektivitas itu sehingga realitas sosial dapat dibedakan dari realitas subyektif penulis.

Pemisahan dari penguasa kolonial, pada umumnya terjadi dengan “pekebun” ataupun pemerintah “penjajah” ini memperkuat indikasi dengan para kritikus kolonial, menjadi pengelompokan kaum liberal, sosialis, religius-humanis, dan lain – lain. Dari awal juga novel sejarah pada dasarnya harus menunjukkan untuk menjadi kenyataan yang sebenanrnya, Boeka memunculkan individu-individu tertentu dalam situasi yang konkret dan tentu saja dengan sangat rinci.

Seperti semua penulis novel sejarah, Boeka mencoba untuk menyampaikan ide – ide dan pesan dalam tulisannya yang berjudul “‘Pah Troeno’”. Dia menggambarkan setting masyarakat kolonial di mana ‘Pah Troeno’ memainkan peran khas seorang petani kecil yang kecanduan opium dan karena itu hidup dalam kemiskinan yang ajeg. Penelitian ini tidak akan berurusan dengan kritik sastra, melainkan akan dikonsentrasikan terutama dengan jaringan antar kelompok atau kekuatan – kekuatan sosial yang dapat di lihat tidak hanya struktur sosial kolonial tetapi juga hirarki feodalistik yang kaku dan keras atau struktur kekuasaan.

Di dalam novel tersebut terdapat sejumlah besar interaksi simbolik yang dihubungkan dengan sistem nilai yang terkait, misalnya keotoritarian sebagai sebuah hal yang bersamaan dari sifat feodal birokrasi kolonial; pemberian hormat yang berlebihan; penindasan di satu sisi dan perbudakan yang atas orang lain; dan lain – lain. Secara sadar atau tidak, penulis menggambarkan bagaimana masyarakat kolonial bekerja melalui ekonomi, lembaga-lembaga sosial dan politik, proses sosial yang berkaitan dengan diskriminasi rasial, ekspliotasi ekonomi dan korupsi yang menjadi tinjauan penuh.

Dalam kenyataannya, sangat berbeda dari laporan resmi yang ditulis oleh aparat pemerintah banyak informasi tentang praktek-praktek birokrat kolonial di belakang layar muncul ke permukaan. Dalam kenyataannya, karya Boeka termasuk dalam genre yang dapat diperlakukan sebagai sumber sejarah, khususnya yang memiliki relevansi dengan pedesaan yang berkitan dengan sejarah sosial. Melalui lembaga sosial berbagai konflik sosial dapat terpecahkan, konflik cenderung muncul diantara kelas – kelas, kelompok dan individu.

Kita sejak awal prihatin dengan berbagai macam aspek kehidupan sosial yang terungkap dalam novel, penelitian ini membahas makna yang ditujukan dalam simbol atau interaksi simbolis dan pengekspresian nilai-nilai oleh mereka, perilaku dan struktur masyarakat. Pendekatan yang diusulkan di sini mencoba untuk menggabungkan tingkat pribadi, sosial dan budaya dilihat dari perspektif fenomenologis, sosiologis dan antropologis.

Kita telah melihat di atas bahwa idealisme ini cenderung untuk mengantarnya ke arah yang lebih menekankan hal-hal, misalnya perilaku kasar pengawas, kelemahlembutan ‘Pah Troeno’; sikap tunduk pejabat rangking rendah, dll. Menjadi seorang penanam perkebunan dan orang asing Boeka memiliki mata lebih terbuka pada fenomena. Selain itu, rasa realisme akan mempertajam fokus pada realitas-realitas, khususnya yang berkaitan dari posisi rakyat biasa.

Realitas subjektif seperti yang dibangun oleh Boeka dalam novel-novelnya tidak hanya menunjukkan koherensi citra dunia aslinya, tetapi juga sama dan sebangun dengan gambar sebagai tercermin dalam bahan literatur lainnya. Dalam membaca novel Boeka tidak memerlukan banyak usaha untuk membedakan realitas obyektif, seperti norma-norma, nilai-nilai, dan institusi. Ini akan berkolaborasi lebih panjang di di bagian lain dari tulisan ini.

 

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik. Literature and History : Papers of Fourth Indonesian-Dutch History Conference, Yogjakarta, 24-29 july, 1983, Vol.2 : Gadjah Mada University Press

Kartodirjo, Sartono. 1988. Modern Indonesia Traditional and Transformation : A Sosio-Historical Perspective. Yogjakarta : Gadjah Mada University Press.

Zurich, Nurul. 2007. Metodologi penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : Bumi aksara

 

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...