Breaking News
Home » Lectura » Olahraga Ekstrim Menyehatkan Fisik dan Mental

Olahraga Ekstrim Menyehatkan Fisik dan Mental

“Tren olahraga pada dekade ini berkembang ke kegiatan ekstrim. Tren olahraga ekstrim menjadi hobi sekaligus upaya mensehatkan jasmani.”

Olahraga atau latihan fisik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari  upaya peningkatan status kesehatan dan kebugaran. Seseorang dengan aktivitas fisik yang rendah (sedentary) memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap berbagai gangguan kesehatan. Selain berperan dalam upaya promotif dan preventif, olahraga juga penting dalam program terapi dan rehabilitasi berbagai jenis gangguan kesehatan.

Lebih dari 2 dekade terakhir, partisipasi rata rata dari olahraga ekstrim telah berkembang lebih pesat daripada perkembangan dari rata rata olahraga tradisional (American Sports Data,2002; Pain &Pain, 2005). Menurut Puchan (2004) olahraga ekstrim bukan hanya sebuah sebuah pelampiasan namun sebuah tanda unik dari suatu jaman. Mayoritas penggemar olahraga ekstrim adalah para pemuda dalam rentang umur 18 tahun hingga 35 tahun.

Terdapat perspektif dan teori mengenai persamaan olahraga ekstrim dengan kegiatan melampiaskan kekesalan dengan cara menguji adrenalin. Dari perspektif  tradisoonal seperti ini, partisipasi terhadap olahraga ekstrim banyak sekali dinilai sebagai sebuah hal yang negatif, patologikal dan tidak dapat diterima oleh masyarakat normal (Elmes and Barry, 1999; Monasterio, 2007; Pain and Pain, 2005; Self et al., 2007).

Partisipan dari olahraga ekstrim sering dinilai sebagai anak remaja yang egois yang terobsesi dengan individualitas, resiko dan ancaman dari olahraga” (Bennett, Henson, and Zhang, 2003, p. 98).Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja. Ciri-ciri masa remaja :

  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm dan stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.
  2. Perubahan dalam hal yang menarik bagi remaja dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi para remaja dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang.
  3. Perubahan nilai, hal yang remaja anggap penting pada masa kanakkanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  4. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi para remaja menginginkan kebebasan, tanpa adanya kekangan dan dapat menunjukkan jati diri dan eksistensi diri.

Namun beberapa teori dan perspektif diatas dibantah oleh M.T.G Pain (2005) yang menulis bahwa partisipan dari olahraga ekstrim adalah seorang yang teliti, berkewapspadaan tinggi, terdidik dan terlatih:

“Despite the public’s perception, extreme sports demand perpetual care, high degrees of training and preparation, and, above all, discipline and control. Most of those involved are well aware of their strengths and limitations in the face of clear dangers. Findings of extensive research in climbers suggest that the individuals do not want to put their lives in danger by going beyond personal capabilities. (Pain & Pain, 2005: S34)”

Masalah utama yang perlu dikaji lagi dalam olahraga ekstrim adalah selain dari resiko tinggi dibalik olahraga ini, aspek positif apa yang bisa diperoleh dari melakukan olahraga ekstrim ini sehingga banyak dari kalangan remaja yang tertarik pada olahraga ekstrim. Brymer & Schweitzer (2012) mengungkapkan bahwa terdapat hal positif dari olahraga ekstrim yang banyak membuat ketertarikan yang masif pada kalangan remaja:

  1. Olahraga ekstrim kebanyakan melibatkan hubungan antara partisipan dari olahraga ekstrim dengan alam. Seperti pada olahraga Surfing (Selancar), Rafting(Arung Jeram), Panjat Tebing dll. Sensasi yang diperoleh dari hubungan yang terjadi ketika partisipan olahraga ekstrim dan keadaan alam pada saat menjalankan kegiatan olahraga ekstrim sangat bermanfaat terhadap stres yang dialami oleh pelaku olahraga ekstrim, dimana sensasi tersebut dapat meredakan stres yang dimiliki oleh partisipan olahraga ekstrim.
  2. Olahraga Ekstrim memberikan pengalaman yang eksklusif bagi partisipan olahraga ekstrim. Pengalaman ekklusif disini dapat dikaitkan dengan rasa keingintahuan kalangan remaja yang masif terhadap hal hal yang berifat baru.
  3. Olahraga ekstrim mempunyai tingkat resiko yang tinggi juga memiliki prosedur pengoperasian yang tidak mudah. Teknik pengoperasian yang tidak mudah serta resiko yang tinggi ini dapat dikaitkan dengan perasaan remaja yang haus akan tantangan.
  4. Olahraga Ekstrim memberikan eksistensi unik yang berbeda dengan olahraga lain. Pencapaian dalam olahraga ekstrim yang sejati bukanlah pencapaian dalam bentuk piala maupun mendali namun dalam bentuk eksplorasi untuk menaklukan medan medan baru yang belum pernah orang lain jamah. Dengan perolehan eksistensi yang unik ini menarik para kalangan pemuda untuk membutikan eksistensi diri maupun kelompoknya melalui olahraga ekstrim.

Nietszche (Filsuf Perancis) dalam buku yang ia tulis di tahun 1974 pun menyatakan bahwa kegiatan kegiatan yang mempunyai resiko yang tinggi akan meningkatkan kebermakanaan hidup seseorang manusia:

“Believe me, The secret of the greatest fruitfullness and the greatest enjoyment of existence is to live dangerously! Build your cities under Vesuvius! Send your ships into uncharted seas!” (Nietszche,1974, p 228)

Setiap orang mempunyai persepsinya tentang olahraga ekstrim, namun fenomena maraknya olahraga ekstrim di kalangan remaja dunia internasional tetap layak dikaji dari segi kebudayaan. Olahraga Ekstrim yang merupakan sebuah hasil dari kebudayaan adalah cerminan dari kompleksitas sebuah peradaban dalam memperoleh kepuasan dalam kehidupan.

 

About Gama Prabowo

x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...