Breaking News
Home » Lectura » Multi Level Marketing Syar’i

Multi Level Marketing Syar’i

“Meningkatnya intensitas pola ekonomi rakyat untuk membuka usaha menjadikan model bisnis Multi Level Marketing (MLM) menjamur diberbagai sektor ekonomi. Tak pelak, MLM pun hadir dalam versi branding Syar’i.”

Bagi pengusaha (baik produsen maupun perusahaan) MLM bermanfaat dalam penghematan biaya iklan,  Bisnis ini juga menguntungkan para distributor yang berperan sebagai simsar (Mitra Niaga) yang ingin bebas (tidak terikat) dalam bekerja. Tetapi pengenalan sistem MLM yang mulai massif di Indonesia memunculkan perspektif konsumen mengenai model bisnis berbasis MLM. Hal tersebut dikarenakan cacat sistem yang merugikan member maupun konsumen.

MLM mendapatkan perspektif negatif karena masyarakat yang menjadi bawahan (Down line) sering dirugikan, sedangkan Atasan (Upline) mendapat pendapatan yang jauh lebih menguntungkan. Sistem ini mendekati model ekonomi kapitalis yang memunculkan jurang diskriminasi ekonomi.

Cara-cara pengusaha pun mulai kreatif dengan menjanjikan MLM berbasis syar’i atau dengan lebel islami. Kajian ini dianggap semakin penting setelah lahirnya perusahaan MLM yang menamakan perusahaannya dengan label syariah.

Dewan Syariah Nasional MUI telah mengeluarkan fatwa terkait MLM, Nama fatwa DSN tersebut adalah Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS) atau at-Taswiq asy-Syabakiy, Hingga saat ini MUI menjelaskan hanya ada lima perusahaan yang disahkan oleh DSN-MUI. Perusahaan tersebut telah teruji sistemnya secara Syar’i dalam Surat Keputusan No. 03/DSN-MUI/VII/2016 sejak Juli 2016.

Sistem Pemasaran MLM

Don Failla selaku Pakar ekonomi Marketing, membagi marketing menjadi tiga macam. Pertama, retail (eceran), Kedua, direct selling (penjualan langsung ke konsumen), Ketiga multi level marketing (pemasaran berjenjang melalui jaringan distribusi yang dibangun dengan memposisikan pelanggan sekaligus sebagai tenaga pemasaran).

Sistem marketing MLM yang lahir pada tahun 1939  merupakan kreasi dan inovasi marketing yang melibatkan masyarakat konsumen dalam kegiatan usaha pemasaran dengan tujuan agar masyarakat konsumen dapat menikmati tidak saja manfaat produk, tetapi juga manfaat finansial dalam bentuk insentif, hadiah-hadiah, haji dan umrah, perlindungan asuransi, tabungan hari tua dan bahkan kepemilikan saham perusahaan.(Ahmad Basyuni Lubis, Al-Iqtishad, November 2000).

Sudut Pandang Islam

Islam mengemukakan bahwa hukum mualamah bersifal fleksibel. Kaedah Fiqh yang membahas muamalah menyatakan,”Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hatta yadullad dalilu ‘ala tahrimiha (Pada dasarnya  segala hukum dalam muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil/prinsip yang melarangnya). Maka bisnis yang termasul dalam urusan muamalah harus terbebas dari unsur terlarang yang meliputi, Maysir (judi), Gharar (penipuan), Haram, Riba (bunga) dan Bathil. Sedangkan secara pengembangan bisnis, islam memiliki prinsip yang harus dihindari yakni dharar (bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan zhulm ( merugikan atau tidak adil terhadap salah satu pihak).

MLM yang menggunakan strategi pemasaran secara bertingkat (levelisasi) mengandung unsur-unsur positif –asalkan diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya disesuaikan dengan syari’ah Islam. MLM dipandang memiliki unsur-unsur silaturrahmi, dakwah dan tarbiyah melalui jaringan yang dibangunnya. Tetapi ketika teknis sistem MLM terindikasi menyimpang dari prinsip islami maka MLM tersebut tidak patut menggunakan label Syar’i.

Bukan hanya islam saja, strategi MLM dalam berbagai label harus memenuhi etika  jual beli yang baik dengan saling keterbukaan dalam keuntungan.. MLM tidak boleh memperjualbelikan produk yang statusnya tidak jelas atau menggunakan modus penawaran (iklan) produksi promosi tanpa mengindahkan norma-norma moral dan kesusilaan. Secara islami, komoditas yang dijual harus halal (bukan haram maupun syubhat),serta memenuhi kualitas dan bermafaat bagi ummat.

Syarat MLM dapat dikatakan Syari’ah

Sebagai masyarakat awam, patut kiranya kita mewaspadai kerugian yang ditimbulkan oleh MLM. Berikut adalah dasar analisa untuk bisnis marketing MLM menurut Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dalam situsnya iaei-pusat.org :

  1. Produk yang dipasarkan harus berkualitas, halal, thayyib dan menjauhi syubhat (Syubhat adalah sesuatu yang masih meragukan).
  2. Sistem akadnya harus memenuhi kaedah dan rukun jual beli sebagaimana yang terdapat dalam hukum Islam (fikih muamalah)
  3. Operasional, kebijakan, corporate culture, maupun sistem akuntansinya harus sesuai syari’ah
  4. Strukturnya memiliki Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) yang terdiri dari para ulama  yang memahami masalah ekonomi.
  5. Formula intensif harus adil, tidak menzalimi dan berorientasi kemaslahatan/falah.
  6. Tidak ada excessive mark up atau kenaikan harga jual barang (harga barang di mark up sampai dua kali lipat), sehingga konsumen dan anggota terkana praktek terlarang dalam bentuk ghabn fahisy dengan harga yang amat mahal, tidak sepadan dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh.
  7. Bonus yang diberikan harus jelas angka nisbahnya sejak awal.
  8. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara  orang yang awal menjadi anggota dengan yang akhir.
  9. Pembagian bonus harus mencerminkan usaha masing-masing anggota.
  10. Tidak menitik beratkan  barang-barang tersier ketika ummat masih bergelut dengan pemenuhan kebutuhan primer.
  11. MLM tidak boleh menggunakan sistem piramida yang merugikan orang yang paling belakangan masuk sebagai member.
  12. Cara penghargaan kepada mereka yang berprestasi tidak boleh mencerminkan hura-hura dan  pesta yang tidak syari’ah.

 

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...