Breaking News
Home » Lectura » Merancang Kurikulum Manusiawi

Merancang Kurikulum Manusiawi

“Melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang”  –Israel Scheffer

Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu pendidikan dapat mengubah manusia dalam pikiran, perasaan dan perbuatannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendidikan mempunyai peranaan dalam mengubah masyarakat serta memberi warna baru kepada masyarakat dan kebudayaan yang hidup di dalamnya.

Pendidikan ditujukan untuk memiliki keterampilan bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut ke masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan mucul manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu, mengerti dan mampu membangun masyarakatnya.

Merancang Kurikulum

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Pendidikan bukan hanya untuk pelajaran semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan berkelanjutan bagi masyarakat.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat, maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

Perkembangan Kurikulum

Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang

Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.

Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir serta belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan memiliki upaya antisipatif terhadap ketidakpastian.

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Konflik dalam Kurikulum Indonesia

Indonesia telah mencanangkan beberapa kali kurikulum sejak pertama kali dicanaangkan pada sekolah-sekolahnya. Sejarah kurikulum di Indonesia dimulai dari Rentjana Pelajaran Terurai 1957, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 alias Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum 2006 yang dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan kini Kurikulum 2013.

Titik tekan pada Kurikulum di Indonesia mengarah pada perkembangan Teknologi. Sejak Kurikulum Pada tahun 1994, sesuai dengan tradisi sepuluh tahunan, Pemerintah meresmikan kurikulum baru untuk merevisi kurikulum 1984. Tetapi pada dasarnya antar kedua kurikulum tersebut tidak memiliki perbedaan yang mendasar.

Orientasi pendidikan pada pengajaran disiplin ilmu menempatkan kurikulum 1994 sebagai instrumen untuk ”transfer of knowledge”. Penyempurnaan 1994 terjadi pada materi pendidikan sejarah karena materi pendidikan sejarah yang tercantum dalam kurikulum SMA 1984 (nama baru SMA berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 adalah SMU) dianggap tidak lengkap, maka kurikulum SMU 1994 menyempurnakannya.

Perubahan lain yang terjadi adalah penghapusan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Konten kurikulum yang berkenaan dengan masalah sosial dan sejarah semakin berkurang sementara itu konten kurikulum yang berkenaan dengan IPA dan matematika semakin bertambah.

Konsekuensinya, kurikulum 1994 tidak mampu mempersiapkan generasi muda bangsa sebagaimana seharusnya. Sejarah masih diberikan dalam kurikulum SMU jurusan IPA. Selain dari itu, permasalahan kurikulum 1994 baik dalam desain kurikulum mau pun dalam impelementasi masih sama dengan kurikulum sebelumnya. Maka mulai dari Kurikulum inilah ketimpangan ilmu sosial-budaya dan Ilmu teknologi dimulai.

Apa yang terjadi jika Pendidikan sosial-budaya dan teknologi dipisahkan? Maka akan muncul kemungkinan terjadinya konflik antar konsentrasi ilmu. Ilmu Sosbud akan menjadi milik para sosiokrat dan Ilmu teknologi hanya kan menjadi milik teknokrat.

Secara utopis, Pendidikan gotong-royong selalu digembor-gemborkan sebagai solusi. Logikanya, ada yang bekerja ranah teknologi, ada yang bekerja ranah sosial. Namun disamping itu, kenyataan bahwa konflik antar keduanya juga memiliki kemungkinan yang sama.

Sosiokrat tanpa bekal teknologi akan menjadi manusia culas. Memanipulasi para pekerja teknologi untuk bekerja padanya –seperti Alienasi/Keterasingan yang digambarkan Karl Marx. Para kaum Borjuis yang memiliki sumberdaya modal akan membeli para teknokrat-teknokrat untuk menghidupkan pabrik dan dengan segala keuntungan bersama yang didominasi seorang kapital.

Pun Teknokrat tanpa bekal sosial akan menjadi para teror. Hacker dan teroris yang menciptakan teknologi tanpa memikirkan imbasnya kepada masyarakat akan menjadi berbahaya. Sejarah mengenal Nicholas Tesla atau Thomas Alva Edison sebagai teknokrat bersosial. Tapi dunia lebih mengenal Albert Einstein yang menemukan Bom Atom sebagai manusia tercerdas. Penemuan berbahaya para teknokrat yang tak bisa ditangani oleh penemunya sendiri rentang disalah gunakan.

Kemungkinan antara pola gotong-royong dan saling memperalat memiliki kemungkinan sama besar. Tetapi keseimbangan antara keduanya harus ditanamkan sejak dari pendidikan. Kurikulum yang menjadi sebuah rancangan pendidikan selayaknya bisa memberi bekal antara dua sudut pandang Sosial-Budaya dan Teknologi.

Kesepahaman antara dua golongan inilah yang harusnya menjadi titik tekan. Para Sosiokrat mampu mandiri dengan menciptakan teknologinya sendiri serta memahami kerja keras teknokrat, Pun Teknokrat mampu menganalisis bagaimana memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...