Breaking News
Home » Lectura » Menghayati Penghayat Kepercayaan

Menghayati Penghayat Kepercayaan

Kura fungga no lowo-lowo/ Ro’a loka no keli-keli (Udang merangkak di kali-kalinya sendiri/ Kera hidup di hutan-hutannya sendiri). Ajaran Kepercayaan Lokal Lio, Folres, Nusa Tenggara Timur.

Penghayatan lintas iman yang ada di Indonesia sama saja dengan menghayati budaya sendiri. Pada 23-25 November2017 Borobudur Writers and Cultural Festival mengambil tema Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-Agama Nusantara, waktu yang sakral untuk membahas karena maraknya isu-isu perbedaan agama Indonesia tahun ini. Sebagai bangsa yang lahir di bumi nusantara ini, banyak diantara kita seakan lupa pada keadaan dirinya sendiri. Masyarakat sibuk dengan Tuhan mereka yang dianggap paling benar dan menganggap Tuhan agama lain itu salah.

Lupa untuk mencapai penyucian diri, pencerahan, dan penyatuan (Manunggaling Kawula Gusti). Seperti yang dikatakan Bhikkhu Santacitto, “Sibuk mengurusi Tuhan-Tuhan tidak mementingkan kondisi terbentuknya batin bebas dari luka dan penderitaan agar mencapai Nirwana.”

Gandawyuha merupakan sebuah relief sebanyak 460 panel yang terdapat pada lorong 2, 3, dan 4 di Candi Borobudur yang menceritakan seorang tokoh bernama Sudhana dalam menggapai spiritual tertinggi dalam keyakinan Budha. Relief Gandawyuha jelas menggambarkan bahwa keberagamaan adalah keniscayaan dalam laku spiritual.

Sudhana sebagai tokoh utama dalam Gandawyuha digambarkan telah belajar dari banyak orang dengan latar belakang dan pengetahuan yang berbeda-beda. Ia belajar dari para Bhiksu, raja, pria, dan wanita, orang dewasa dan bahkan belajar dari anak kecil. Kisah perjalanan Sudhana dalam Gandawyuha ini menginspirasi kita bahwa seseorang harus berpikir terbuka dan menerima kebenaran apapun sebagai kebenaran meski dari manapun kebenaran itu berasal. Ide pokok kisah ini mengajarkan sikap rendah hati, menjunjung toleransi dan harmoni terhadap siapapun.

Dialog-dialog spiritualitas yang dilakukan kemarin juga memunculkan ajaran Katholik dengan pandangan Budha. Penemuan mistik kristen dengan bantuan Budhism–Vipassana atau bisa dikatakan Post-Vipassana karena sudah dilepaskan dari doktrin-doktrin Buddhisme untuk terbebas dari dukkha yang berarti berakhirnya konsep diri (atta) secara radikal (Sirnaning Kawula Gusti) sehingga dia menganggap dirinya tumbuhan, menurut Romo Sudrijanta.

Diskriminasi Agama Lokal

Diskriminasi agama lokal muncul ketika agama itu didefinisikan oleh Kementrian Agama yang didominasi oleh kelompok Islam, satu keyakinan dikatakan sebagai agama apabila memenuhi kriteria “ada nabi, ada kitab suci, dan pengakuan internasional”. Definisi ini tentunya hanya menguntungkan bagi agama Islam, Kristen dan agama yang dikenal dunia internasional.

Secara implisit, pemerintah indonesia tidak mengakui aliran Kepercayaan lokal sebagai agama. Aliran Kepercayaan lokal dianggap membahayakan perjuangan politik Islam dan penuduhan penghayat Keperyacaan sebagai pendukung utama Partai Komunis yang tentunya berseberangan dengan ideologi Islam (Sudarto, 2017). Hal tersebut menjadi penyebab diadakannya pertemuan pada 19-20 Agustus 1955 oleh Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI).

Pertemuan tersebut mendefinisikan kebatinan sebagai “Sepi ing pamrih, rame ing gawe, hamemayu hayuning bawono”. Yang selanjutnya mengalami perubahan “Sumber asas sila Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk mencapai budi luhur guna kesempurnan hidup”.

Para penghayat kepercayaan memiliki ajaran hidup yang meyakini bahwa manusia harusnya menyatu dengan alam semesta, selain menyatu dengan Tuhan yang dasarnya ajaran ini terdapat pada semua agama manapun. Seperti ajaran konfisius atau Khonghucu sebagai agama di Indonesia “Apa yang ada dalam diri manusia, juga ada dalam alam semesta. Ada baiknya manusia mengikuti jalan alam semesta” dalam Islampun ketuhanan harusnya menampakkan diri disemua alam–Tajali. Paham ini juga diyakini oleh Parmalim (kepercayaan di Batak) dengan perlakuan sehari-hari kepada alam dengan melakukan doa jika akan menebang pohon dan menanam pohon sebagai pengganti.

Konsep agama Nusantara juga berdasar pada struktur sosiologis seperti Kepercayaan Kahariangan yang memiliki tiga ajaran yaitu hidup beradat pada penciptamu, beradat terhadap sesama, beradat pada diri sendiri. Etika kehidupan warga Sapta Darma juga memilki moto “Ing ngendi bae, marang sapa bae, warga Sapta Darma kudu sumunar pindha baskara” artinya “Di mana saja, dengan siapa saja, warga Sapta Darma harus bersinar laksana surya”. Sesuatu “Yang Kudus” terhadap agama-agama lokal haruslah diterima secara religius atau berdaya mengkarakterisasi kehidupan suatu komunitas masyarakat.

Kepercayaan “Yang Kudus” ini ada baiknya dihormati, dijaga, dan difasilitasi dalam beribadah. Menyadari terhubungnya sifat-sifat makro kosmos (alam semesta) dan sifat-sifat mikro kosmos (manusia) akan membawa diri kita pada jalan tarikat–wahdatul wujud. Sehingga setiap manusia dari penghayat Kepercayaan manapun dapat melakukan Sumarah yaitu penyerahan diri dan sadar dari ego atau penyerahan total hidup kepada Yang Ilahi di dalam dan di luar diri kita. Lalu, kemudian akan mencapai inti keAllahan, dengan berbagai cara yang diyakininya agar mereka tidak perlu merasa terancam sepanjang hidup, karena setiap komunitas disapa Tuhan tanpa ada label kafir di jidatnya.

About Thea Arnaiz

x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...