Breaking News
Home » Lectura » Membubarkan Perpustakaan Jalanan, Membodohan Publik

Membubarkan Perpustakaan Jalanan, Membodohan Publik

Pada Maret 2016 lalu Central Connecticut State Univesity (Amerika) merilis hasil kajian minat baca penduduk dunia. Studi “Most Littered Nation In the World” menunjukan indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Indonesia diapit olehThailand (59) dan di atas Bostwana (61). Namun dilema terjadi pada hasil penilaian dari segi infrastuktur pendukung budaya literasi. Indonesia berada di atas negara-negara Eropa seperti Jerman dan Portugal. Kondisi infrastruktur pendukung budaya literas Indonesia dinilai relatif lebih tinggi dengan berada pada peringkat 34 Dunia diatas Selandia Baru dan Korea Selatan.

Maka mulai daripada hasil studi itu, Indonesia mencangkan program literasi yang diterapkan tahun 2017. Banyak diantara lembaga pendidikan mulai menggerakan budaya literasi untuk mengejar ketertinggalan Indonesia diantara negara-negara dengan minat baca yag lebih baik. Diantaranya pula mulai populer gerakan pembukaan lapak baca yang akrab disebut Perpustakaan jalanan.

Anies Baswedan mengatakan bahwa sifat gerakan (movement) lebih memiliki dampak meluas dibandingkan dengan sebuah program. Menurutnya, efek dari sebuah gerakan biasanya lebih cepat menyebar dibanding program. “Movement (gerakan) kalau sudah menular maka akan unstoppable, sebab menularnya bukan karena perintah, dana, dan program tapi karena ada penularan,  Demikian kutipan pernyataan dari Anies yang dilansir Kompas.com pada Agustus 2016 Silam.

Sepanjang tahun 2017 mulailah berbagai aksi masyarakat berupa pembukaan lapak baca di penjuru Indonesia menjadi populer. Baik berupa perpustakaan sederhana maupun penggelaran lapak di area publik. Gerakan ini memiliki konsep sederhana, membuka lapak baca sesuai waktu yang disediakan dan memberikan layanan gratis –segratis gratisnya kepada publik. Kegiatan ini menyebar di berbagai wilayah seperti Lampung, Tanjung Pinang, Banjarmasin, Bandung, Purbalingga, Yogjakarta, Surakarta dan sebagainya. Bahkan bukan hanya berbasis kota atau wilayah, ditemukan pula berbagai gerakan perpustakaan jalanan yang berada di satu kota atau wilayah.

Lapak baca atau perpustakaan jalanan menjadi salah satu rumah kegiatan literasi yang meramaikan sisi literasi publik. Lapak baca seperti Perpus Jalanan DIY yang mulai membuka lapaknya sejak  Mei 2017 di penjuru pelosok Desa provinsi Yogjakarta menyasar para warga desa yang minim fasilitas bacaannya. Ada pula Perpus jalanan Pojok Pustaka di Cilacap Barat yang membuka basis lapak baca di daerahnya sendiri, sembari membuka kegiatan bimbingan belajar kepada anak-anak kampung dan kegiatan lomba bernuansa literasi. Sementara di Surakarta, Kawula Baca Smelah membuka lapak baca di ruang publik Universitas Muhammadiyah berikut kegiatan diskusi yang terbuka untuk civitas akademika.

Selayaknya perpustakaan, Buku-buku yang ditampilkan perpustakaan jalanan pun beragam. Buku bacaan mulai dari fiksi hingga buku-buku akademis disajikan oleh para ’Pustakawan Jalanan’ kepada publik. Kebanyakan diantaranya dipenuhi buku-buku novel, biografi, hingga buku-buku sejarah dan pergerakan.

Sayangnya, Perpustakaan jalanan merupakan organisasi nirlaba yang lebih mengandalkan buku-buku dari donatur atau buku bekas. Mereka berbentuk komunitas-komunitas sehingga agenda bacaan cenderung mengikuti buku yang diberikan oleh donatur, kondisi yang kontras dengan perpustakaan daerah maupun perpustakaan instansi akademis yang masuk dalam kategori infrastruktur pendukung budaya literasi.

Respon

Lapak baca yang digelar diberbagai daerah memberikan manfaat yang signifikan. Aulia Zahra, Perempuan kecil  yang ikut meramaikan lapak perpustakaan jalanan menuturkan bahwa ia sangat merasakan manfaat dari bacaan-bacaan yang disediakan oleh Perpustakaan Jalanan DIY. Meskipun Aulia baru pertama kali berkunjung, buku-buku yang disediakan berhasil memenuhi harapannya.

“Buku-buku di Perpustakaan Jalanan DIY rata-rata bukan seperti buku-buku yang disediakan di perpustakaan biasa. Dengan datang ke lapak baca ini, bahan bacaan saya jadi bertambah dan hal itu membantu saya untuk membuka wawasan lebih luas. Terlebih lagi buku-buku di sini dapat dipinjam dengan prosedur yang tidak ribet,” kata Aulia yang dikutip dari liputan wargajogja.net pada September silam.

Aulia dapat dikatakan sebagai contoh dari para pembaca di perpustakaan jalanan. Ia bersama anak-anak lain yang asing dengan suasana literasi formal seperti di Perpustakaan daerah dan instansi, justru mendapatkan nilai kedekatan dengan budaya literasi bersama para pelaku perpus jalanan. Tak heran mengapa  perpustakaan  Indonesia yang memiliki infrastruktur memadai malah memiliki peringkat rendah di aspek minat baca.

Selain respon berupa penerimaan, respon berupa penolakan pun juga terjadi. Pada April 2016 silam, Perpustakaan Apresiasi yang dikelola Komunitas Literasi Anak Semua Bangsa membuka lapak baca gratis seperti biasanya di Gedung FEB, Telkom University. Namun kegiatan mereka malah dibubarkan oleh Rektor dan Wakil Rektor IV pada November 2016.

Komunitas Literasi Anak Semua Bangsa FEB Telkom University dianggap  menyebarkan paham komunisme karena menjajakan buku paham kiri. Lintang Raharjo, Fidocia Wima, dan Lazuardi Faris yang mengelola perpus apresiasi didatangi langsung oleh rektor dan wakil rektor IV pada saat menjajakan buku, 6 November 2016. Wakil Rektor IV juga membawa buku berjudul Manifesto partai komunis dan dua buku ‘Seri buku Tempo : Orang kiri Indonesia’ edisi Njoto dan Musso.

Respon penolakan juga terjadi kepada  Kawula Baca Smelah yang membuka lapak di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mereka dipaksa menghentikan diskusi dan membubarkan aksi pembukaan lapak baca oleh pihak Dekanat fakultas psikologi. Komunitas ini memiliki alasan penolakan yang sama, membuka buku yang dinilai berpaham kiri. Namun lebih spesifik, komunitas ini mendapat penolakan karena mencantumkan kutipan dari pernyataan dari tokoh Komunisme Rusia, Vladimir Lenin yang tertera pada undangan yang disebarkan. Diskusi mereka bertema ‘Asal usul penindasan perempuan’ yang dilaksanakan bersamaan dengan gelaran lapak pun diberhentikan.

Perpus Jalanan dan Buku Kiri

Menguatnya isu kebangkitan komunisme di Indonesia memberikan imbas pada perpus jalanan.  Perpustakaan dengan buku-buku yang selayaknya menjadi konsumsi publik malah mendapatkan respon penolakan. Buku yang didalamnya merupakan memori bangsa sudah mendapatkan kembali tempatnya di ranah terbuka publik, namun sayangnya buku masih kalah dengan kuasa stigma ‘hantu’ PKI.

Bacaan yang bernuansa non-islami menjadi momok tersendiri bagi para pelaku negara. Sementara Buku kiri dinilai sebagai jembatan penjajahan komunisme atas ideologi pancasila, bacaan agamis pun tak kalah parah. Buku-buku yang memuja Erdogan dan budaya arab tak mendapat penolakan. Padahal Saudi Arabia yang sedang melakukan Reformasi sosial pada tahun ini sedang meneliti arah perkembangan demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998.

Penolakan gerakan perpustakaan jalanan dengan alasan memuat buku-buku bacaan kiri selayaknya dipandang sebagai upaya bunuh diri bangsa. Sayangnya Ketakutan yang berlebihan itu tidak diimbangi dengan wacana yang mumpuni . Perpustakaan jalanan yang dengan gerakan penyadaran minat baca pada publik dibiarkan kesusahan mencari donatur, bukannya diberdayakan oleh perpustakaan formal dengan anggaran negara tanpa pegawai yang memiliki ruh literasi.

Publik sekarang sudah terdidik, menyadari mana buku layak baca dan buku yang selesai sebagai pemukul lalat.

Sayangnya perkembangan nafsu baca publik terjegal harga buku –apalagi pasca penetapan pajak penulis. Sementara  area bacaan gratis malah mendapat penolakan karena stigma, perpustakaan formal semakin mempersopan bangunan –padahal hal itu berefek sungkan pada publik berkaos dan bersandal.

Pemerintah harus berani melakukan PHK besar-besaran pada pegawai Perpustakaan daerah, menggantinya dengan para pelaku perpustakaan jalanan. Memberikan ruang publik selebar-lebarnya daripada gedung setinggi-tingginya. Masalah utama disini adalah minat baca. Bukan infrastruktur. Maka sekiranya Infrastruktur dengan peringkat -34 dicukupkan dulu supaya anggaran negara bisa menaikan derajat ketertinggalan minat baca di posisi -60 dari -61 negara.

Jika perpustakaan jalanan dengan buku dan gerakan progresifnya terus mendapat penolakan, jangan kaget jika masyarakat melakukan revolusi literasi. Perpustakaan dapat dipandang sebagai alat produksi yang seharusnya dapat dimiliki dan dimanfaatkan publik. Namun dengan publik yang haus bacaan — sedangkan lapak baca gratis dijegal, publik bisa nekat dan melakukan pengrusakan perpustakaan. Lalu membawa keluar buku-buku mahal itu untuk dikonsumsi bersama kopi dan rokok diwarung, tanpa harus kedinginan udara AC serta dibatasi jam buka pelayanan.

About Buchory Masrury

Penikmat kajian Sejarah, Agraria dan Demokrasi. Pecandu Film Aksi superhero. Sangat perhatian pada penetapan hukum dan hal-hal berbau kriminalitas. Sedang belajar menulis Investigatif report --yang masih bingung sampai sekarang. Kesulitan menikmati sastra apalagi dalam bentuk kode-kode wanita. Bermasalah dengan otoritas dan mencintai kucing. Temui saya di Instagram @buchory.masrury atau baca karya saya di aksiranabaca.tumblr.com
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...