Home » Lectura » Mega Proyek PT SAE : Sumber Bencana Gunung Slamet.

Mega Proyek PT SAE : Sumber Bencana Gunung Slamet.

Seperti yang kita ketahui, Gunung Slamet adalah gunung tertinggi pertama di jawa tengah (3.428 mdpl) dan tertinggi kedua di pulau jawa, posisinya yang berada di tengah-tengah pulau jawa ini menjadikannya sebagai gunung yang menaungi lima Kabupaten yaitu  Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

Gunung Slamet memiliki kawah yang masih aktif sampai saat ini. Dengan posisi yang strategis dan panas bumi yang dimiliki Gunung Slamet, akhirnya beberapa investor melirik peluang tersebut. Tahun 2010 lalu, sebuah perusahaan bernama PT. SAE yang bekerjasama dengan perusahaan asing STEAG GmbH Jerman,telah mengantongi izin untuk pembangunan Mega Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). Saham yang diinvestasikan kedalam Mega Proyek tersebut adalah 75% dari STEAG Jerman, dan 25% dari PT.SAE.

PT.SAE sendiri sebelumnya bernama PT.Trinergy yang kemudian diakuisisi oleh PT. Adaro Energy. Perlu ditambahkan bahwa PT Adaro Energy  merupakan perusahaan tambang batubara terbesar ke 4 di dunia.

Mekanisme jalannya proses pembangunan Mega Proyek PLTPB yang 75% sahamnya adalah milik Jerman itu memakan waktu lama. Menurut J.V. Viole, seorang pegiat lingkungan dari Aliansi Selamatkan Slamet, ada beberapa tahapan proses penggarapan proyek. Yang pertama adalah proses eksplorasi, dimana proses ekplorasi ini membutuhkan lahan untuk keperluan pengangkutan infrastruktur dan pembangunan wellpad, kendati belum diketahui secara pasti berapa hektare lahan yang dibabad untuk eksplorasi Mega Proyek PLTPB ini, namun diperkirakan dalam prosesnya akan membabad habis hutan lindung Gunung Slamet hingga 675,7 hektare.

Menurut salah seorang warga Dusun Karang Gondang Cilongok Kabupaten Banyumas yang enggan disebutkan namanya, banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari proses eksplorasi atau pembabadan hutan sebagai lahan Mega Proyek PLTPB Gunung Slamet tersebut. Kesaksiannya menyatakan bahwa material berat berupa batang pohon, belukar, serta tanah dan batuan terbawa arus sungai Cipendok  yang meluap dari hulu ke kaki Gunung Slamet. Ia menuturkan bahwa tahun ini menjadi tahun terparah luapan sungai, hingga menghanyutkan satu jembatan penghubung di desa. Warga yang mayoritas pekerjaannya adalah petani dan produsen tempe  pun akhirnya kesulitan mendapatkan air bersih karena air sungai tercemar material dari proses eksplorasi.

Kini PT. SAE tengah membuat sumur injeksi dan produksi. Sampai saat ini sudah ada lima Kabupaten dan beberapa Kecamatan terdampak banjir dan air keruh yang berada di kawasan kaki Gunung Slamet,  di antaranya:

  1. KAB BANYUMAS

> Kec. Pekuncen: Tumiyang, Glempang

> Kec. Cilongok: Karangtengah, Sambirata, Gununglurah, Sokawera.

> Kec. Karanglewas: Sunyalangu.

> Kec. Kedungbanteng: Windujaya, Kalikesur, Kutaliman, Melung, Baseh, Kalisalak.

> Kec. Baturraden: Karangtengah, Kemutug Kidul, Kemutug Lor, Karangsalam, Karangmangu, Ketenger.

> Kec. Sumbang: Banjarsari Wetan, Sikapat, Gandatapa, Kotayasa, Limpakuwus.

  1. KAB. BREBES

> Kec. Paguyangan: Pandansari.

> Kec. Sirampog: Igirklanceng, Dawuhan.

  1. KAB. PEMALANG

> Kec. Pulosari: Clekatakan, Batursari, Penakir, Gunungsari, Jurangmangu.

  1. KAB. TEGAL

> Kec. Bojong: Dukuhtengah

> Kec. Bumijawa: Sigedong, Guci

  1. KAB. PURBALINGGA

> Kec. Kutasari: Cendana, Karangjengkol.

> Kec. Karangrejo: Serang.

Warga setempat mengaku tidak mengetahui akan adanya Mega Proyek PLTPB Gunung Slamet ini. Pihak perusahaan mensosialisasikan bahwa sedang ada pembangunan sebuah jalan tol. Sampai hari ini aktivis lingkungan, mahasiswa, warga, dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Slamatkan Slamet masih terus mengadakan aksi penolakan terhadap Mega Proyek PLTPB yang di galakkan PT. SAE.

Untuk warga terdampak, bantuan masih terus berdatangan dari Aliansi Selamatkan Slamet dan lembaga terkait.