Breaking News
Home » Lectura » Mahasiswa, Riwayatmu Kini

Mahasiswa, Riwayatmu Kini

Mahasiswa terlalu egois untuk membangun kebudayaan yang sesuai dengan zaman bersama masyarakat. Organisasi menjadi harapan untuk mengajarkan empati dan membangun modal sosial.

Ketika melihat korelasi hubungan mahasiswa dengan masyarakat pada saat sekarang,  ada perbedaan dengan kondisi dulu pada zaman pra kemerdekaan. Dahulu, mahasiswa melalui organisasi di kampus, rela turun gunung untuk membantu memberi pendidikan ke masyarakat, baik itu melalui forum-forum diskusi maupun mimbar bebas di alun – alun desa / kota. Ada hubungan yang bisa dikatakan erat antara mahasiswa dan masyarakat pada saat itu.Akan tetapi sekarang ini, kita bisa melihat orientasi perjuangan dan pergerakan organisasi mahasiswa sangat jarang kegiatan – kegiatan bersama masyarakat dilakukan. Kalau pun ada, hanya pada  sebatas Praktik Kerja Lapangan (PKL)  atau pun Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Hal ini adalah bentuk pergeseran paradigma yang semakin menambah dalam gap antara dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Dari kaca mata idealnya, hubungan organisasi mahasiswa dan masyarakat adalah hubungan saling membutuhkan dan mengembangkan. Ilmu pengetahuan yang diproduksi di kampus dapat ditransformasikan kekehidupan bermasyarakat.

Sejatinya mahasiswa melalui wadah organisasi kemahasiswaan tidak menjadikan angkuh di tengah sulitnya masyarakat. Untuk itu, organisasi mahasiswa sudah waktunya kembali sebagai pengayom dan selalu hadir di masyarakat serta melaksanakan fungsinya sebagai  social control termasuk terhadap kebijakan menindas. Mahasiswa dalam hal ini sudah menunjukkan diri sebagai salah satu potensi yang dapat diandalkan dalam upaya menuju tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Bentuk keberhasilan dalam mewujudkan sebuah tatanan masyarakat berkeadaban di Indonesia adalah dengan semakin kecilnya angka kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, peningkatan taraf ekonomi dan pendidikan, dan lain sebagainya. Namun, itu semua hanya akan menjadi mimpi belaka manakala semua konsep-konsep yang dibangun dan berbasis kerakyatan tersebut tidak dibarengi dengan strategi yang matang ke arah tujuan tersebut. Sekali lagi, peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat diharapkan mampu memainkan peran yang strategis.

Organisasi sebagai Modal Sosial

Banyak sekali pelajaran dan pendidikan yang didapatkan dalam berorganisasi. Di dalam organisasi kita bisa belajar disiplin, menghargai waktu, menghargai orang lain, kita dapat mempelajari teknik berkomunikasi dan bersosialisasi dengan berbagai macam tipe manusia dan budaya yang kelak akan berguna bagi diri kita, kita juga dapat mengaplikasikan segala ilmu yang telah kita dapatkan, implementasi ilmu dalam bentuk konkrit bukan sekedar teori.

Mahasiswa tanpa organisasi tak ubahnya seorang pelajar tanpa pengalaman lapangan. Mereka tak lain kecuali siswa lanjutan yang hanya belajar materi akademik. Mereka hanya mementingkan bagaimana menjadi orang pintar tanpa merenungkan bagaimana mentransformasikannya dalam kelangsungan hidup masyarakat. Bagaimanapun pandainya seorang mahasiswa berteori, belum tentu dia bisa memecahkann persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Pada titik inilah, organisasi tidak bisa dihindari oleh mereka yang mengaku betul-betul mahasiswa. Kalau hanya ingin mencari ilmu pengetahuan, seseorang tidak perlu repot-repot menjadi mahasiswa. Dia bisa belajar autodidak dengan membaca koran dan buku ilmiah serta internet atau menyimak diskusi yang dipublikasikan oleh media televisi, misalnya.

Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah “peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu”. Mahasiswa menurut Knopfemacher adalah insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi (yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-clon intelektual. Dari pendapat tersebut bisa dijelaskan bahwa mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual.

Pada saat ini mahasiswa  merupakan harapan terbesar bagi masyarakat menjadi penyambung lidah rakyat utamanya pembawa perubahan di masyarakat (Agen social of cahange). Salah satu potensi, mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang  berperan langsung dalam tiap fenomena sosial, harus mampu mengimplementasikan kemampuan keilmuannya dalam  perubahan masyarakat kearah yang lebih baik. Peran  mahasiswa dalam setiap perubahan sosial selama ini menjadi jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah ketatanegaraan yang demokratis. Semua itu tak terlepas dari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang merupakan sebuah alur pembelajaran diri dan wadah pendewasaan.

 Dewasa Bersama Ormawa

Selain berfungsi sebagai pembelajaran diri, organisasi mahasiswa merupakan wahana bagi mahasiswa berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara Indonesia, banyak dihadapkan dengan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kesenjangan ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik. Disitulah Organisasi Mahasiswa (Ormawa)  bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan tersebut, sehingga menemukan solusi atas apa yang terjadi.

Disamping untuk melatih dan mengajarkan diri mahasiswa untuk menjadi mahluk sosial yang peka terhadap lingkungan disekitarnya, organisasi juga menjadikan mahasiswa lebih mandiri dan disiplin. Mahasiswa yang aktif berorganisasi secara konsisten semata – mata memiliki pemahaman bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah sarana yang efektif dalam mengkader dirinya sendiri untuk ke depan.

Kampus merupakan tempat menimba ilmu yang tidak terbatas hanya kepada pelajaran akademik saja. Dengan bergabung aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang bersifat intra ataupun ekstra kampus berefek kepada perubahan yang signifikan terhadap wawasan, cara berfikir, pengetahuan dan ilmu – ilmu sosialisasi, kepemimpinan serta manajemen kepemimpinan yang tidak  diajarkan dalam kurikulum Perguruan Tinggi.

Melihat realitas bahwa banyak mahasiswa yang berkeinginan bergabung di organisasi tertentu, hal ini disambut positif oleh para senior mahasiswa yang telah lebih dulu bergabung dalam organisasi sebagai sebuah langka awal bagi mahasiswa baru (MARU) untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Disadari atau tidak potensi yang ada dalam diri setiap manusia sulit untuk berkembang ketika tidak ada wadah atau medium untuk mengaktualisasikannya karena itulah organisasi menjadi sangat penting untuk diikuti oleh setiap mahasiswa. Organisasi merupakan kegiatan positif yang mestinya tiap mahasiswa harus aktif di dalamnya. Kehidupan kampus bukan hanya diisi dengan kuliah di kelas, tapi juga belajar lewat organisasi.

 

Daftar Pustaka

Bourdiau, P. And Wacquant, L. 1992. An Invitation to Reflexive Sociology.  Chicango.  University of Chicango Press.

Francois, P. 2003.Sosial Capital and Economic Development. London: Routledge.

Rosyadi, S. 2003.  Community-Based Forest Management in Java, Indonesia:  The Issues of Poverty Alleviation, Deforestation and Devolution. Socioeconomics Studies on Rural Development vol. 135 Wissenshaftsverlag Vauk Kiel KG. Germany.

 

 

 

 

 

About firdha annisa

Mahasiswa aktif pendidikan Sosiologi-Antropologi. Tertarik kajian feminisme dan pemilik usaha Fortuna Online Shop. Temui saya di Instragram @firdha_nisa atau ajak ngopi aceh di sekitaran kota Surakarta.
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...