Breaking News
Home » Lectura » Gerakan Feminisme Via Vallen

Gerakan Feminisme Via Vallen

Namanya kian melambung pasca sebuah tembang milik grup vokal NDX AKA yang dinyanyikannya dengan judul “Sayang” kini menjadi hits di kalangan anak muda, lansia, bahkan balita. Via Vallen, Gadis asal Jawa Timur yang kini chanel youtubenya sudah ditonton lebih dari 75 juta. Bahkan pada tahun 2016, ia telah berhasil membawakan tembang-tembangnya di Tiongkok dan Hongkong.

Jika dilihat secara empirik, Via Vallen telah berubah menjadi seorang tokoh Feminis dalam dangdut. Bagaimana tidak?

Begini, pertama ia adalah seorang penyanyi dangdut yang memiliki sub genre koplo. Yang dalam sejarahnya, dangdut koplo adalah aliran musik dangdut yang bertendensi Erotisme, dengan penyanyi yang sarat binal dan tarian-tarian yang membuat penontonnya –jika normal, akan menimbulkan teng-tengan. Musik kerakyatan ini banyak digandrungi para lelaki-lelaki hidung belang.

Kedua, bila dilihat dari perjalanan dangdut koplo, tercatat aliran ini memang tidak murni berasal dari Jawa Timur saja, seperti kota asal gadis kelahiran tahun 1991 di Mojokerto, Jawa Timur itu. Dangdut koplo banyak di bumbui musik-musik tradisional sunda, madura, indramayu, bahkan Pantai Utara Jawa.

Seiring perkembangan zaman, serta kebosanan terhadap aransemen musik dangdut oldschool, akhirnya pada tahun 2000-an muncullah sub-genre baru dengan istilah Koplo. Dengan melihat dari sejarah perkembangan tarian daerah, serta diadopsi dari musik lokal, dangdut koplo tak bisa dipungkiri telah berintegrasi dengan nuansa seronok dan erotisme kaum laki-laki.

Oleh sebab itu, peran wanita sebagai objek dan alat pemuas libido lelaki sejak ratusan tahun lalu sama sekali belum benar-benar hilang sampai saat ini. Ditambah ada beberapa kaum hawa yang malah ikut nyawer biduan. Aktivitas tersebut adalah dimana para wanita biasanya naik keatas pentas, ikut njoget dan ikut nyawer, hal tersebutlah yang semakin memojokkan citra kaumnya sendiri sebagai manusia yang setara dan merdeka dari otoritarian maskulin dan budaya patriarkri. Memang kaum hawa yang seperti ini hanya ada beberapa –dihajatan atau pentas-pentas pelosok kampung yang kebanyakan penduduknya belum melek kesetaraan gender. Namun dengan adanya hal seperti itu maka paradigma wanita sebagai objek kian sulit dirubah.

Meruntuhkan Citra Wanita Erotis

Kembali kepada Via Vallen, dalam perjalanan kariernya bersama grup Orkes musik (O.M.) Sera, Soneta, Palapa dan lain sebagainya, Via telah puluhan kali pentas di berbagai daerah. Dalam hal ini, Via tentu saja tak menampik kesempatan tersebut. Tentu ada kiat dan manuver untuk merubah pandangan bahwa para Biduan Dangdut nggak harus Binal. Dengan pemikiran semacam itu, mulailah Via mengcover beberapa lagu pop Domestik dengan aransemen dangdut koplo, bahkan lagu Eropa sekalipun ia cover dengan aransemen dangdut koplo. Mengagumkan, bukan?

Dengan kata lain, Via Vallen secara tak langsung telah melakukan sebuah perlawanan terhadap stigma biduan dangdut koplo yang erotis. Dengan gaya kekinian ala-ala artis pop korea, ia membawakan dengan gaya elegan lagu bergenre dangdut koplo dengan hentakkan khasnya. Bisa kita lihat figur Bapak Proklamator kita Ir. Soekarno pada masanya, ia selalu menginginkan bangsanya setara dengan bangsa-bangsa eropa, menggunakan baju ala eropa, berdialektika secara eropa, namun dengan tak menghilangkan nilai-nilai kedaerahannya. Hal inilah yang bisa kita lihat juga dari Via Vallen.

Lalu dari kemandirian, ia sudah sangat melawan, hal ini dibuktikannya sebagai seorang wanita dan penyanyi dangdut koplo, ia kini telah memiliki sebuah rumah mewah dan mobil pribadi. Dan ia pernah mengatakan bahwa ia ingin benar-benar mendapat hasil dari berkarir sebagai penyanyi dangdut.

Tentu saja dalam hal ini budaya patriarkri, atau stigma terhadap penyanyi dangdut erotis akan hilang dengan kemandirian dan penampilan cantik khas Via Vallen.

Pada akhirnya lelaki benar-benar tidak bisa menjadikan wanita sebagai objek. Bisa dikatakan kini Via Vallen sedang melakukan perlawanan dengan bala tentara dan para kameradnya, dari orkes musik, penari panggung, hingga sekumpulan manusia yang menamakan diri mereka “Vianisty”.

Vianisty adalah fans club dari Via Vallen, yang entah sejak kapan mulai dideklarasikan, namun kini hampir disetiap aksi panggung Via Vallen selalu ada Vianisty, ini adalah sebuah mobilisasi massa. Dan Via Vallen akan benar-benar menjadi simbol bahwa wanita bisa berprestasi lewat dangdut koplo tanpa harus “saru” dan berkarya jadi dirinya sendiri tanpa merubah apa yang ada dalam dirinya. Nah, itulah perlawanan yang secara implisit telah Via lakukan melalui sikap dan panggungnya.

Dan tentu saja, hal ini kembali lagi kepada diri wanita itu sendiri. Via disini selain merepresentasikan progresifitas wanita masa kini melalui dunia musik, ia juga menjunjung tinggi citra dirinya sebagai penyanyi dangdut. Dengan sikap dan kemandirian yang dipegang teguh, serta tak meninggalkan idealismenya sebagai penyanyi dangdut, Via seolah mengajak kaum hawa untuk saling merangkul dan menyadarkan, bahwa ngehits tak harus dengan cara-cara yang kurang baik.

About Khairil Anhar

Saya Khairil Anhar, sekarang saya mengelola organisasi Perpustakaan Jalanan bersama kawan-kawan saya. Yang memiliki sekretariat dan aktif dalam gelaran setiap Sabtu malam atau Minggu pagi di Taman Kota. Kami menamai organisasi ini dengan nama Pojok Pustaka. Alamat saya dan kepengurusan organisasi ada di Jl. Kantil RT 002/RW 002 Sindangsari, Majenang, Cilacap. Telpon :083112928782 Ig : memanusiakan_manusia email : Khairilanhar2015@gmail.com
x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...