Breaking News
Home » Lectura » Biografi Mohammad Sjafei

Biografi Mohammad Sjafei

Mohammad Sjafei adalah salah satu tokoh pendidikan yang hidup pada masa penjajahan kolonial Belanda. Mohammad Sjafei bukanlah seorang politikus,  namun karena tuntutan dan pengaruh dari ayahnya menjadikan  Mohammad Sjafei untuk mengabdikan hidupnya di bidang pendidikan yang tujuannya untuk dapat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Masa muda yang dilalui Mohammad Sjafei adalah masa dimana penjajahan Belanda menjadikan masyarakat Indonesia semakin melarat. Hal ini dikarenakan hasil kekayaan alam Indonesia dieksploitasi secara besar-besaran oleh pemerintah Belanda untuk kepentingan bangsa Belanda.

Mohammad Sjafei merupakan salah satu tokoh pelopor gerakan perubahan di bidang pendidikan, dengan memiliki sistem pendidikan yang berorientasi pada keterampilan tangan dalam pemanfaatan kekayaan alam yang merupakan kunci utama dalam pendidikannya. Berdasarkan keyakinan itulah Mohammad Sjafei mendirikan sekolah yang khusus mendidik pribadi yang baik melalui pelajaran keterampilan tangan. Menurut Mohammad Sjafei, keterampilan tangan memiliki beberapa kebaikan, selain bersifat produktif, juga dapat memupuk watak yang baik dalam diri manusia.

Mohammad Sjafei lahir pada tanggal 31 Oktober 1893 di Sambas, Kalimantan Barat. Dia hidup bersama ibunya Sjafiah sedangkan ayahnya sudah lama meninggal ketika Mohammad Sjafei masih kecil. Mohammad Sjafei hanya tamatan sekolah rakyat,  keseharianya diisi dengan membantu menjualkan kue buatan ibunya kesekolah dimana dia selalu mengikuti pelajaran setiap guru yang mengajar di kelas dari jendela. Mohammad Sjafei diangkat menjadi anak pada saat Ibrahim Marah Sutan berada di Kalimantan. Ibrahim Marah Sutan adalah seorang pendidik dan intelektual,  beliau sudah mengajar di berbagai daerah di nusantara, termasuk di Sambas dan pindah ke Batavia pada tahun 1912 dan aktif dalam kegiatan politik pada Indische Partij (IP).

 

Pada tahun 1908, Ibrahim Marah Sutan mengirim Mohammad Sjafei ke Bukitinggi untuk menempuh pendidikan di Sekolah Raja (Kweek School). Ibrahim Marah Sutan adalah almumni dari Sekolah Raja (Kweek School) Bukittinggi, dan beliau tahu bagaimana keadaan sekolah tersebut. Ibrahim Mara Sutan menginginkan Mohammad Sjafei untuk sekolah di Ranah Minang dengan harapan agar Sjafei dapat mengetahui dan paham denganalam Minangkabau yang salah satunya tradisi yang suka merantau.

 

Di Sekolah Raja Bukittinggi, Mohammad Sjafei tinggal di asrama, pendidikan yang diterimanya sama dengan pendidikan yang diberikan oleh Andung Chalidjah. Andung Chalidjah adalah istri Ibrahim Mara Sutan. Andung Chalidjah seorang yang tidak pernah menempuh pendidikan tinggi, namun beliau, memiliki pemikiran yang rasioanal dan sikap cermat yang artinya segala sesuatu yang dikerjakan harus teratur, rapi, dan bersih. Baginya setiap yang dikerjakan harus sampai selesai, dan tidak ada istilah pekerjaan yang terbengkalai. Mohammad Sjafei tertarik pada pelajaran seni lukis dan menggambar.

 

Selama menuntut ilmu di Sekolah Raja Bukitinggi, Mohammad Sjafei tidak dibiarkan bersentuhan dengan kebudayaan Barat oleh Ibrahim Marah Sutan. Maka secara tidak langsung Ibrahim Marah Sutan memantau perkembangan jiwa dan membangkitkan rasa nasionalisme Mohammad Sjafei melalui surat-surat percakapan antara Ibrahim dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional diantaranya Cipto Mengoenkoesomo, dan Douwes Dekker.

Pada tahun 1914, Mohammad Sjafei menamatkan pendidikannya di Sekolah Raja dan memperolah ijazah guru dan Mohammad Sjafei mendapat tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk mengajar di sekolah rendah Hollandch Inlandch School(H.I.S) Padang. Namun tawaran tersebut di tolak oleh Mohammad Sjafei, alasannya dia tidak menyukai sistem pendidikan Hindia-Belanda yang diterapkan pada rakyat Indonesia.

Maka atas saran bapaknya, Mohammad Sjafei mengikuti kursus menggambar pada Bataviasche Kunsktring di Jakarta, dan juga mempelajari ilmu keterampilan dan seni. Pada tahun 1916, Mohammad Sjafei menyelesaikan kursus tersebut dan memperoleh akta tanda lulus serta mendapat hak untuk mengajar pada sekolah menengah swasta yang di Jakarta yakni Sekolah Kartini. Selain mengajar Mohammad Sjafei juga aktif di dunia politik salah satunya dia menjadi anggota dari Budi Utomo dan menjabat sebagai pemimpin majalah bulanan dari perkumpulan BU dan majalah anak-anak Bumi Putera yang bernama “Sulu Pelajaran”.

Pada tahun 1922 Mohammad Sjafei berangkat ke Negeri Belanda dan kedatangannya ke negeri ini bukanlah pergi ke salah satu perguruan tinggi yang terbaik di Belanda, namun Mohammad Sjafei mengambil privat-privat khusus untuk pelajaran seni dan keterampilan tangan dan selain itu waktu Mohammad Sjafei juga dimanfaatkan untuk mengunjung sentral perindustrian yang ada di Belanda.

Pada tahun 1925 Mohammad Sjafei menyelesaikan pendidikannya dan sekembali dari Belanda Mohammad Sjafei mendapat tawaran dari pemerintah Hindia Belnda untuk menjadi Ajunct Inspektur pendidikan, namun tawaran tersebut ditolak Mohammad Sjafei alasan karena dia ingin mendirikan sekolah yang sesuai dengan jiwa dan kebudayaan Indonesia.

Saat berada di Jakarta Mohammad Sjafei dan kedua orangtuanya sepakat melanjutkan kembali rencana mendirikan sekolah untuk bangsa Indonesia. Berdasarkan keputusan bersama maka lokasi yang paling baik untuk mendirikan sekolah jatuh padadaerah Sumatera Barat, tepatnya Nagari Kayutanam.

Alasan Nagari Kayutanam ditetapkan sebagai lokasi berdirinya RuangPendidik INS Kayutanam dikarenakan. Pertama, sekolah yang akan dibangun sebaiknya di tanah Minangkabau, hal ini dikarenakan sifat orang Minangkabau yang memiliki tradisi merantau yang nantinya akan mudah menyebarkan paham  nasionalisme kepelosok Indnesia. Kedua, dilihat dari geografisnya Nagari Kayutanam terletak dipusat Pulau Sumatera Barat, selain itu nagari Kayutanam dilalaui transportasi kereta api. Ketiga,  suatu kebetulan bahwa organisasi perkumpulan buruh kereta api dan tambang ombilin berencana mendirikan sekolah untuk anak-anak Indonesia terutama anak mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda dengan alasan ekonomi.

Adapun tujuan dari sekolah yang akan didirikan Mohammad Sjafei dengan kedua orangtuanya adalah untuk: mendidik anak Indonesia agar mereka dapat berpikir secara rasional, mendidik murid bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh, membentuk anak-anak agar menjadi manusia yang berwatak baik serta menanamkan perasaan kesatuan pada diri anak-anak.

Sedangkan menurut pribadi, Sjafei memiliki pandangan sendiri tentang murid didikanya. “Murid yang ideal ialah ia yang memilki cinta kebenaran dalam hatinya, pengetahuan dalam otaknya. Antara keduanya terjadi timbal balik; kegembiraan kerja, yang memerlukan otot-otot bekerja dan memberikan kesehatan; mencintai tanah airnya, tetapi selalu sadar sebagai bagian dari dunia” Demikian Mohammad Sjafei. (Albert De La Court, 1945 : 57)

About Kanal Baca

x

Check Also

Memperpanjang Umur di Orde Media Sosial

Penghujung tahun 2017 di awal abad 21 ditutup (dan dibuka) dengan angka-angka fantastis dari jagat ...