Latest
Home » Lectura » Akar Pemikiran Pergerakan Mahasiswa Indonesia

Akar Pemikiran Pergerakan Mahasiswa Indonesia

Kehidupan berdemokrasi merupakan anugrah yang sepatutnya disadari oleh masyarakat suatu bangsa dengan segala bentuk apresiasi terhadap pendahulunya. Indonesia yang sejak awal tumbuh dan berkembang serta didesain dalam bentuk republik mencerminkan tingginya sikap sadar asas kerakyatan oleh para tokoh pendiri bangsa. Pandangan J. J Rousseau yang diutarakan dua abad sebelumnya perlu diungkapkan disini bahwa “Negara Republik-lah (res publica: urusan umum) yang sah. Sebab hanya rakyat yang berdaulat, karena itu segala wewenang harus berasal dari rakyat dan segala kekuasaan harus identik dengan kehendak rakyat.” Tampaknya paradigma tersebut telah mengakar kuat dalam pemikiran para Founding Fathers bangsa kita melalui proses pendidikan yang diterima masyarakat.

Pertalian antara kaum terdidik –dalam hal ini direpresentasikan oleh golongan mahasiswa, dengan fenomena sadar kerakyatan memang menjadi dua unsur utama yang menyertai perjalanan sejarah Indonesia. Hubungan itu mencitrakan wujud marwah mahasiswa yang berada pada lapisan eksklusif masyarakat serta membawa pengaruh besar bagi arah kehidupan bangsa dan negara.

Jika sejarah mencatat itu semua, apakah kita yakin kalau pergerakan mahasiswa masa kini masih relevan dengan fakta-fakta tersebut? Dalam hal ini, perlu kita menyelami lebih dalam arah pemikiran dan ragam orientasi kaum terdidik dalam kerangka historis. Dengan melihat melalui latar belakang sejarah semestinya kita menyadari akan beragamnya pemikiran mahasiswa yang sering menimbulkan benturan pandangan di dinamika pergerakan mahasiswa dewasa ini.

Aktivisme kampus yang berjalan seringkali justru menuai polemik dan mengundang iklim saling kritik –bahkan hampir mendekati kadar saling menghujat, di kalangan mahasiswa. Usaha mobilisasi dalam ranah demonstrasi misalnya, tidak dibarenginya antusiasme dan menurunnya jumlah massa dalam aksi mahasiswa yang turun ke jalan mengindikasikan semakin membekunya peran aktivis kampus.

Para pengemban pergerakan seolah kian menyadari tentang keberadaanya yang berbeda serta terasingkan dari lingkungannya sendiri. Akibatnya timbul berbagai reaksi regresif berupa cercaan apatis dan anti gerakan. Di lain sisi muncul tudingan belum adanya konsep pergerakan yang jelas, nirfaedah (baca: tidak berfaedah), bahkan terdapat berbagai serangan ditujukan pada kredibilitas organisasi mahasiswa. Lalu muncul pertanyaan yang mengikuti serangkaian realitas di atas adalah; apakah pergerakan mahasiswa saat ini masih mewakili aspirasi masyarakat secara luas?

Melalui kaca mata historis, ada dua variabel utama yang membentuk beragamnya pemikiran mahasiswa yang menjadi pangkal dari perdebatan yang terjadi. Pendekatan yang digunakan disini adalah melalui dua tokoh periode awal ketika program pendidikan kebangsaan dicanangkan di Hindia-Belanda (sebutan bagi Indonesia di masa Kolonial Belanda), oleh Abdul Rifai (1871-1932) dan Hoesein Djajadiningrat (1886-1960). Meski tidak dengan penjelasan yang lebih variatif, menurut hemat saya dua tokoh ini secara garis besar dapat memproyeksikan ragam mahasiswa Indonesia secara umum.

Mahasiswa tipe abdul Rifai merupakan kelompok yang masih tersemat nilai sadar kerakyatan dalam dirinya. Idealisme yang diyakini di tengah arus diskursus pergerakan yang mulai luntur bersama dengan ambiguitas dukungan masyarakat seolah menjadi suatu agenda yang harus tetap dipertahankan. Biasanya tipe Rifai menganggap tujuan akademis sebagai bagian inferior dari esensi status mahasiswa.

Rifai berkonsentrasi pada usaha memajukan rakyat Hindia-Belanda dari pada memfokuskan diri dalam gelimang proyek akademis. Tokoh-tokoh aktivis mahasiswa yang berkecimpung dalam kegiatan organisasi, baik internal maupun eksternal kampus, adalah contoh konkret dari intelektualitas tipe Rifai. Disadari atau tidak, mahasiswa tipe inilah yang bisa kita jumpai telah memiliki berbagai pemikiran kritis dan tajam sekitar permasalahan sosio-politik dan ekonomi masyarakat.

Tidak mengherankan apabila terlihat lebih kaku dan paradoks di tengah masyarakat yang sedang digandrungi oleh citra pemerintah melalui paket-paket kebijakannya. Karena sifat paradoks itulah sehingga memacu proses dialektika pergerakan mahasiswa, yang mengundang pro dan kontra serta respon berupa dukungan moral atau cacian personal.

Sedangan bagi mahasiswa tipe Hoesein, hasil akademis merupakan tujuan tunggal selama mengemban status mahasiswa. Dalam kedudukan arus pemikiran seperti itulah nilai sadar kerakyatan sulit ditemukan dari mahasiswa tipe ini. Sejalan dengan paradigma tersebut pernahkah sejarawan kita berfikir mengapa gelombang pergerakan justru begitu gencar timbul dari siswa-siswa STOVIA (sekolah pelatihan dokter) dan bukan dari kalangan OSVIA yang sengaja disiapkan untuk menjadi pegawai kolonial (ambtenaren)? Tampaknya hal ini membuktikan bahwa orientasi pendidikan sangat mempengaruhi alur pemikiran seorang mahasiswa.

Melalui rumusan dua variabel yang bertolak belakang atas pergerakan mahasiswa di atas, Saya berharap dapat memberikan landasan untuk menjawab pertanyaan sebelumnya. Pemikiran kritis terhadap permasalahan negara adalah penopang sistem demokrasi yang perlu dilestarikan. Maksudnya, apa yang diserukan oleh para mahasiswa adalah aset dari keberlangsungan sistem kenegaraan yang harus kita apresiasi bersama.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika mahasiswa Indonesia benar-benar kehilangan daya kritisnya, toh pemikiran seperti itu masih dapat ditemukan pada segelintir mahasiswa sekarang ini. Segala bentuk kritik tetap diperlukan bersama kekuasaan pemerintah. Terkait masih-tidaknya mewakili aspirasi masyarakat, tentu keberadaan mahasiswa-mahasiswa tipe Rifai sangat dibutuhkan bagi masyarakat. Sejarah menjadi saksi bahwa berawal dari pemikiran mereka kesadaran akan penindasan, tindakan represif, dan despotisme (baca; Absolutisme/otoratik) berkembang.

Produk paling berharga bagi perjalanan bangsa kita dari proses tersebut adalah national awareness. Barangkali sebagian kalangan saat ini tidak memberikan tanggapan positif terhadap cara yang mereka tempuh, namun dalam keberlangsungan suatu sistem tidak terdapat jaminan bagi arah perkembangan yang akan terjadi. Maka aset bangsa sangat perlu melakukan pergerakan yang berkelanjutan secara beriringan bersama dengan sistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*