Breaking News
Home » Cerita » Togel

Togel

*Oleh; Khairil Anhar

Seperti biasa, Aku selalu menuruti perintah ibuku untuk belanja, belanjaan bakal warung ibuku di toko klontong Babah Embing.
Aku adalah anak SMA pindahan dari luar kota. Aku pindah beberapa bulan lalu karena permintaan dari kakek ku alias bapak dari ibuku. Dia menginginkan kami menetap disini, karena ibuku adalah anak terakhir dari empat bersaudara dan dimintanya untuk menemani kakek ku itu, sedang ayah bekerja di perusahaan Bea Cukai diluar kota.

Ketika itu di suatu senja, aku pun berpapasan dengan nya, seorang lelaki tua. Mungkin usianya sekitar delapan puluh tahun. Dan hampir setiap senja ku jumpai dirinya, berpapasan menaiki sepeda onthel tua miliknya denganku.

Sebagai anak baru, aku kurang mengenal orang-orang di daerah ini. Terkecuali teman-teman kecil yang dulu sering bermain bersama sewaktu libur panjang sekolah. Dengan keramahan, kucoba bersopan menegurnya.
Setelah aku coba, ia hanya tersenyum dingin dengan wajah yang tak hangat pula. Sempat kami dipertemukan takdir diwarung milik Babah Embing, saat aku belanja seperti biasa, dan dibelinya sebungkus rokok kretek. Ketika mulai menyulut rokok, ku coba untuk memasuki pedalaman nya, namun memang dia tak mengizin kan. Dia bergeming.

Sampai pada suatu waktu, aku dengan rasa ke-anakmuda-anku yang selalu ingin tahu ini, mengikutinya dan dengan penasaran aku cari tahu apa yang ia lakukan setelah keluar gang yang selalu mempertemukan kami.

***

Pun senja mulai merekah, dengan malas-malas menggantikan mentari sore yang masih ingin bertengger gagah di kaki langit. Setelah aku taruh belanjaan ku dirumah, tanpa mandi sore waktu itu aku langsung izin kepada ibu untuk keluar rumah. Tanpa mengatakan mau kemana aku , aku ikuti kakek itu.

Dengan langkah setengah berlari aku ikuti langkahnya, dan dengan terengah-engah sambil mulai memperlambat langkahku, ku temukan dia dalam gelap dan suasana sandekala di jalan desa. Kali ini ia tidak menaiki sepedanya,  didorong sejajar dengan langkah nya, mungkin karena ingin menikmati senja. Atau mungkin apa saja alasannya, yang jelas bukan tujuanku untuk mengetahui itu. Dengan baju kemeja warna putih lusuh yang sudah digagahi getah pisang dan membuat putihnya tak lagi putih, namun lebih terlihat cokelat muda.
Dan celana panjang di atas mata kaki, rambut uban yang lusuh, wajah keriput, hampir tak nampak pada wajahnya bahwa dia bisa tersenyum, mungkin terlalu berat di tarik keriput!
Dia berjalan lurus kedepan mendorong sepedanya, walau mungkin sebenarnya tahu bahwa sedang ada orang yang mengikutinya.

Setelah beberapa bentar berjalan melewati jalan desa, aku berhenti kira-kira seratus meter untuk dapat melihatnya di kejauhan, dia masuk melewati pagar teralis rumah seseorang.
Ya, tidak salah lagi, itu rumah Pak Yanto. Yang aku tahu dari obrolan bibir licin ibu-ibu yang kerap nongkrong di warung ibuku, dia adalah bandar Togel yang lumayan besar dan kawakan.

Dengan mula-mula memasuki pagar halaman dan menyenderkan sepeda onthel tua karatan miliknya di pagar bagian dalam halaman itu, dia masuk ke teras dan duduk lalu berbincang-bincang sambil memberikan secarik kertas dengan rumusan angka-angka setan. Aih! si kakek itu pasang togel rupanya.

Tapi terlepas dari semua itu, bukan pak Yanto dan bukan nomer setan itu pula yang sejatinya aku intip dan yang membuatku kaget. Tapi kenapa? Kenapa? Lelaki renta tua keriput dengan sepeda onthelnya yang tua itu, bertaruh dengan angka Togel? Nomor-nomor setan! Bukan dirumah dengan anak cucunya dan menikmati hari tua di tempat peribadatan seperti orang tua yang lain nya!?

***

Malam pun jatuh, bulan bertengger dengan malas berselimut awan hitam, ia mengintip dari kejauhan.

Dan seperti biasa di setiap senja menjelang maghrib aku melihatnya dengan pakaian yang sama dengan mimik yang sama. Tersenyum kosong, dengan kumis dan janggutnya yang kering, tua, dan mesum itu.
Aku semakin penasaran, dalam benak bertanya-tanya, siapa sebenarnya kakek tua itu? Usut punya usut, setelah aku tanya kepada ibuku sehabis belanja sore itu, aku tata belanjaan di atas meja “bu, tiap sore Dimas lihat ada kakek tua lusuh, dia bawa sepeda onthel lewat gang, tapi dingin sekali mimiknya. ibu tahu?” tanyaku penasaran. Dengan menata belanjaan tadi dia berkata “coba kamu tanya sama mbah kakung, mungkin dia tahu”

Di suatu malam santai, dengan rasa penasaran yang belum juga mau enyah dari tempurung kepalaku, aku beranikan diri untuk bertanya kepada mbah kakung.

Mbah kakung dikenal sebagai orang yang berwibawa, tegas, perawakan yang tinggi besar dan kumis bapangnya membikin orang tak berani menatap matanya. Maklum saja, dia bekas pejabat daerah. Dia mantan Camat dikota kami,
Seperti biasa, di sebelah kanan beranda rumah, dibawah lampu gantung dan di hadapan meja bundar dari kayu dan cangkir besar penuh teh manis panas dan sepiring goreng pisang kesukaan nya, dia duduk sambil membaca koran.
Aku dekati dia dengan kepolosan ku. Namun kakek ku tetap tak mau sedikitpun hilang kegagahan nya. Butuh waktu berapa lama lagi? Aku beranikan sekarang juga!

Prelahan ku tarik nafas, aku duduk di kursi kayu disampingnya. Aku ambil satu pisang goreng sebagai tanda dimulainya percakapan ini.
Dengan wajah yang menekur jauh kedalam koran, seakan kumis bapang kakek ku sudah menarik wajahnya dengan koran itu, tanpa menoleh dia menarik nafas dalam-dalam dan berkata dengan suara berat. Rasa-rasanya keluar langsung dari dalam dadanya “dari mana kamu Dim, tumben sekali?”. Sambil ku makan pisang goreng, yang memang cuma kering-kering nya saja yang aku makan, lalu aku pegangi dengan kedua tangan ku, nampaknya rasa panas masih betah dan belum mau menguap dalam udara dingin malam. Aku tiupi pisang goreng itu. Lalu ku jawab kakek dengan mulut yang kepanasan mengunyah pisang goreng “habis mandi kek, terus sholat maghrib, he he. Cuma mau ngobrol aja, kek.” Kakek ku tersenyum dengan kumis tebalnya yang menatap koran.
Aku ajak dia ngobrol jauh, muter-muter, ngalor-ngidul tapi palsu dan ada maunya.
kami pun akrab. Dengan masih menjaga wibawa kakek ku ini.

Belum lagi lama keakraban menjamah obrolan kami. Aku bertanya kepada kakekku. “Kek, setiap Dimas belanja ke toko Babah Embing, Dimas lihat  lelaki tua. Potongannya lusuh, selalu papasan di gang depan rumah, kakek tahu siapa dia?” sambil menghela napas dia seruput lagi teh di cangkir jumbo nya “yang mana?” kakek menjawab dan menaruh cangkir di tatakan di atas meja. “Kakek tua, yang berjanggut dan kumis tua dan bawa sepeda onthel itu.” Tiba-tiba suasana tegang, kakek ku diam sejenak memandang lurus kedepan dirasainya sekarang kumis itu sudah tak berat lagi. Dia menengok ke arahku dan  memandangku, ketika itu pula aku tahu sama sekali bahwa kumis bapang kakek ku benar-benar lebat dengan sulaman uban yang tumbuh jarang-jarang. “Kenapa kamu tanya begitu?” dia katakan sambil menatap ke arahku.  Aku kikuk! “Dimas cuma ingin tahu, kek.” Ku jawab dengan kikuk. “tak usah kamu ingin tau, sekolah saja yang rajin!”
Aku menekur dalam ke arah kakiku yang bergelantung di atas lantai dan di gigiti nyamuk malam, seolah menari-nari dengan  rasa gatalnya.

Kenapaaa?… Siapa kakek itu sebenarnya? Suatu malam dingin dengan terang bulan menyertai, aku melamun menatap langit-langit kamar.

***

Berhari-hari ku pendam, disertai rasa gelisah membayang-bayang, seperti wajah kakek tua renta yang selalu memberi mimik dingin itu selalu hadir dalam lamun ku. Pun berhari-hari aku menata hati dan mengatur manuver untuk memberanikan diri menyelidiki siapa sebenarnya dia. Akhirnya, dengan penuh  kekuatan dalam batin ku dan setelah aku meminta ridhlo dari Allah SWT, aku beranikan diri!
Suatu sore menjelang malam, ku ikuti lagi dia. Sampai pada saatnya tiba, aku ikuti dia sampai ketika keluar dan mulai menuntun sepedanya dari rumah bandar Togel itu.
Aku beranikan diri, menegurnya. Seperti biasa dia hanya tersenyum dingin dan sdikit menoleh kearahku dengan kumis dan jenggot lusuh dan keriput yang gerutan nya kentara di sinari lampu sepeda motor  yang lewat sesekali.
Kami berjalan tanpa mengatakan seucap kalimat pun, sampai ada kira-kira setengah jam kami berdua berjalan. Aku ikuti dia, aku menegurnya dalam keberanian yang di selimuti gelap malam. “Mbah mau kemana, mbah?” kakek pun menjawab “mau ke jalan kauman, saya mau pulang” kontan aku menjawabnya tanpa basa-basi “mbah, kebetulan kita satu arah, saya mampir ya, sekalian kerumah mbah? Boleh?” Dia hanya tersenyum, ku anggap itu sebagai jawaban setuju. Tanda mengiyakan.

Akhirnya kami sampai di kediaman nya, yang mungkin lebih cocok dibilang gubuknya, itu hanya berupa rumah dengan lebar 6×4 meter dengan dinding bilik bambu bolong disana-sini.
Akhirnya setelah kami tiba di depan pintu dan dia sandarkan sepeda yang telah gagu itu, cuma ada suara jangkrik dan gemeresak daun kelapa di libas angin malam, alamat mendung telah tiba dan siap mencurahkan airnya. Dia pun menyapaku “ada apa, nakmas?” sambil membuka gembok karatan di pintu rumah gubuknya itu. “Saya Dimas, mbah. Anak desa sebelah” aku menjawab. Dia tanyakan kembali “ada perlu apa Dimas?” tanpa menghiraukan pertanyaan itu, aku bertanya kembali “mbah tinggal sendirian?” dia jawab “iya, kenapa, Dimas?” tanpa diminta gerimis lebat turun. Tak bisa terhindarkan. Dengan agak tergesa kami masuk kerumah kakek itu, pun tanpa diminta aku langsung masuk. “Dimas disini dahulu saja, diluar hujan. Mau minum apa?” dengan ramah si kakek menegur sambil menyalakan damar minyak tanah yang bertengger di pondasi kayu rumahnya “ah enggak usah repot-repot, mbah” jawabku rikuh, ku jawab dengan mata jelalatan menerawang gelap melihat-melihat, dan ku tajamkan penglihatanku sambil mengerenyitkan dahi untuk dapat menembus jarak-jarak yang tak tercapai pandang. “Mbah tinggal sendiri disini, mbah?”, tanya ku penasaran. “iya, saya tinggal sendiri disini, Dimas. Ada apa?”
“Lho,yang lain kemana mbah?” tanyaku setengah kaget sambil memperhatikan si kakek yang masih sibuk mondar mandir. Dia tidak menjawab. Mungkin memang tak mau menjawab.

Rasa heran dan bingung merasuk dalam benak seperti aroma teh panas yang aku hisap pelan-pelan merasuk hidungb hingga otak. Sambil ku tiupi uap panas nya, dan ku genggam dengan kedua tangan ku.
Tiba-tiba saja, seperti di arahkan suatu zat gaib, perhatian ku terpaku pada sebuah figura dengan foto kusam lelaki muda memakai kemeja hitam dan saputangan merah di lehernya, senjata laras panjang yang tergantung di tangan kanan nya dengan moncong di hadapkan ke atas. Aku amati foto itu diam-diam dalam gelap dan remangnya lampu damar minyak. Disitu, dibagian bawah foto tertera tulisan nama: Yuwono.

Perhatian ku cukup sampai disitu, aku tak berani lebih jauh lagi masuk ke pedalaman kakek misterius ini. Hujan pun reda. Aku minta diri dan pamit pulang.

Dalam perjalanan pulang, dengan kaki basah bercampur lumpur genangan air, imajinasi ku pun kembali muncul bersamaan dengan munculnya bintang-bintang setelah hujan reda. Benakku ramai oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dan bimbang yang muncul entah darimana. Meniti temali dalam benak, sampai lupa bahwa aku belum mengerjakan PR!

Aku kebut laju jalan ku, sampailah aku dirumah. Ternyata gerbang dan pintu sudah terkunci dari dalam. Terpaksa aku panjat gerbang itu, dan aku menyelinap berjinjit seperti seorang pencuri dalam rumahku sendiri. Belum lagi aku menyelinap lewat jendela, ibuku menegur ku dari dalam “Dimas!” Pekik nya setengah berbisik “iya bu, ini Dimas” berhenti melangkah dan menjawab dengan setengah berbisik “darimana kamu! Masuk sini lewat depan!”. Aku berbalik arah lalu masuk melalui pintu depan. Beberapa menit aku diceramahi ibuku. Tanpa menunggu ibu datang lagi untuk memarahiku, aku kebut mengerjakan pekerjaan rumah yang besok harus aku setorkan di sekolah.

***

            Pikiran itu datang lagi! dalam pelajaran pun aku tak bisa menempatkan pikiran pada tempatnya.

Dan sore itu aku lihat si kakek tua renta dengan agak bongkoknya yang khas, menuntun sepeda butut yang karatan, dengan sesekali terbatuk dan menyumbat mulutnya dengan kepal. Kantung plastik putih tergantung di setang sepeda, bisa kutebak bahwa isinya adalah obat-obatan. Dia sedang sakit pikirku. Kami pun saling mengangguk menyapa, dia membalasnya. Aku biarkan dia jalan dan ku perhatikan langkahnya yang terbata-bata karna batuk yang tak henti menganggu langkahnya. Lalu hilang di telan sepi.

Pikiran ini, sejak aku pindah ke kota ini, dan bertemu kakek tua itu aku tak bisa mengendalikan nya. Wajahnya, dengan senyum misterius itu, selalu datang tak pernah di undang. Siapa dia? Kemana keluarganya?

Suatu malam, saat mbah kakung sedang mempertemukan kumis bapangnya dengan koran, sama seperti malam-malam yang telah lalu. Aku tanyakan kembali padanya, tak lupa dengan obrolan-obrolan pengantar yang hanya sebagai kiasan. Aku memulainya “kek, Dimas ketemu lagi dengan orang tua itu, Dimas ketemu setiap jalan di gang” mbah kakung menarik napas, dia melipat koran lalu melekatkan pandangnya padaku. Aku kikuk, selalu kikuk ketika mbah kakung menatapku, seakan dia menatap dengan kumisnya. “Masih saja, kenapa? Kamu penasaran? Ada apa dengan kamu, Dimas?” Aku menjawab dengan pandangan mata menjelajah entah kemana. “Dimas cuma ingin tahu kek, Dimas penasaran.” Kakek seruput lagi teh dari cangkir jumbo nya. “Baiklah, kakek akan cerita tentang dia.”

ditaruhnya cangkir jumbo itu di atas tatakan gelas. “Dahulu, jauh sebelum kamu lahir, ada kerusuhan di desa, kerusuhan yang memang berpangkal dari Ibu Kota. Kerusuhan yang bermula dari matinya tujuh Jenderal Besar negara ini. Yang akhirnya meluas hingga ke desa. Matinya jenderal itu dikarnakan pemberontakan orang-orang perusuh dari partai terlarang! partai palu arit! dengan perintah atasan tertinggi, para perusuh itu di tarik dari tempat-tempat  tinggal dan persembunyian nya, lalu jika mereka yang tidak mengaku dan enggan memberitahukan dimana tempat bersembunyi kawannya yang lain, mereka di ‘habisi’ di sungai besar sana”
“dihabisi? Dibunuh, kek?”
Mbah kakung hanya mendeham.
“Dibawa kemana mereka, kek?” kakek menjawab “ke suatu penampungan, untuk di adili,” “dimana tempatnya, kek?” “Di penjara Nusakambangan. Ya, termasuk si tuabangka itu, dia termasuk orang yang ‘terlibat’”.

Dia menaruh kacamata nya dan melipatny di atas meja “kamu kenapa sih, Dimas? Sudah tidur sana besok kan kamu harus sekolah, kakek mau tidur dulu. Ngantuk!”

Aku menekur dalam, kubuang pandangan pada kaki ku yang tergantung di atas lantai dan mengibaskan nya dari nyamuk yang dengan rakusnya menggerumuti kakiku. Ah, nyamuk menjijikan!

Merenung aku dalam gelap kamar, kupandangi atap langit-langit kamar, melesat jauh pikiran ku menembus gelap dan menjelajah dalam ruang tak terbatas. Jauh, gelap, kerlap-kerlip, jauh, jauh, jauh…

***

            Seperti biasa, setiap hari aku lewati hari-hari dengan rutinitas ku, belanja di toko Babah Embing, dan… Bertemu kakek tua itu. Seperti biasa. Tak pantang menyerah aku masuki pedalaman si kakek lebih dalam lagi, ternyata setelah kuperdalam lagi, dia tak sedingin seperti apa yang aku tahu sebelumnya. Dia sebenarnya ramah, hanya masalalu yang aku tak ketahui apa sebenarnya yang menutupi keramahan nya. Sebenarnya dia adalah pribadi yang tangguh dan semangat bekerja keras, dan baik hati. Sering aku dengar dia bernyanyi dengan tembang-tembang dan lirik yang aku tak tahu. Mungkin lagu ketika ia muda, pikirku. Kira-kira seperti ini nyanyian nya: “Tanggal satu Mei perayaan kita, seluruh dunia kaum Proletaris… Proletaris… Proletaaaaarriiss!” Tak banyak aku tahu tentang nyanyian itu, hanya suatu ketika dia menceritakan padaku bahwa lagu tersebut adalah lagu berjudul Mariana Proletaris dari Rusia.

Lalu ada lagi lagu berbahasa inggris yang dia sering nyanyikan ketika ‘nimba’ air mengisi ember-ember untuk dibawanya menyiram kebun singkong di pinggiran rumahnya. Sambil bertelanjang dada, tubuh bongkok, dan tato palu arit di dada peyot sebelah kiri nya, dengan gopah-gopoh, dia nyanyikan: “We shall overcome.. we shale overcome somedaaayyy!” kira-kira begitu, aku tak banyak tanya soal lagu.

“Mbah, kemana istri dan anak mbah?” tiba-tiba dia terdiam, aku kikuk, perasaan salah bicara menyerang ku, dan memang benar, air muka nya berubah murung merenung diam, seakan awan hitam mengepul diatas kepala nya “mereka di culik dan dihabisi oleh para manusia yang mengaku berketuhanan dan berkebangsaan Indonesia, tapi kelakuan seperti iblis! Mereka bantai saudara-saudaranya sendiri, mereka perlakukan seperti anjing kurap! tak ada harga kami di hadapan mereka yang dituduh ‘terlibat’”
Aku terdiam merenung. astagfirullah, aku tak bisa rasakan perasaan nya, itulah masalalu yang memberatkan pedalaman nya dan membuatnya jadi sangat pendiam. Kucoba alihkan lagi pembicaraan dan membantu menata air muka nya.
“Mbah, apa makna tato di dada itu mbah?” benar saja,air muka nya berubah kembali. Tiba-tiba ku tanyakan padanya dengan duduk di bale sambil melihatnya menimba air “haha, Dimas” wajahnya kembali sumringah dengan bongkok nya yang tak mau tegak, dia bercertia dengan sangat berambisi “ini lambang kebanggaan, ini lambang perjuangan, perjuangan kaum kiri memperjuangkan hidup kaum miskin yang lemah dan tertindas! Lambang partai yang di dirikan Tuan Lenin di Rusia dan dikembangkan oleh Semaun di Indonesia ini, mereka takkan pernah tau arah ideologi kami, mereka termakan alur yang dibuat rejim dengan kepentingan politik partikular sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan mereka yang direkonstruksi. Dan kami tak dapat berbuat apapun, begitupun aku,”

“Lalu, kenapa mbah bisa dibebaskan?” tanyaku heran. “Dengan bernyanyi keras dan berteriak-teriak setiap kali aku di periksa, lalu mereka anggap aku gila dan di lepaskan dari cengkaman oleh mereka si tua ini, kira-kira seperti itu, Dimas!” di pikulnya air yang membuat bongkoknya semakin menjadi-jadi. Sembari menaruh ember-ember nya, ia berkata lirih, matanya bersinar penuh harapan, senyumnya bersemangat seakan keriput tiada nampak memberati wajahnya lagi, dan sambil menepuk-nepuk pundakku di berkata “Dimas, jadilah anak yang berguna bagi nusa dan bangsamu. Jangan pedulikan kata orang untuk menghasut dirimu menjadi bukan dirimu, berdirilah pada pijakanmu sendiri, dan tetaplah dipihak orang yang tertindas, bela kepentingan kaum miskin untuk mendapatkan haknya!” Nada nya pun naik turun,  pandangan nya tajam, suaranya lirih namun terdengar seperti petir di telinga ku, tak pernah tertinggal batuknya, seperti keluar langsung dari dalam dada melewati kerongkongan tua yang keriput itu.

Setelah selesai dengan perkataan nya, sesekali ia batuk lagi, tanpa ketinggalan disela-sela perkataan. Dan selalu ada deham keras setelahnya. Ia lanjutkan perkataan nya. “Kaulah kaum muda, Dimas! tugasmu adalah membereskan kaum-kaum tua yang sudah lupa pada tujuan awal Republik! Ingat-ingat itu!”
Aku tak menjawabnya, orang gila, ya, memang dia gila! ambisi dan pemikiran nya yang sangat jauh dan luas dan gaya hidup yang penuh rahasia. Dan, dan, dan..

Setelah bercengkrama dengan kakek tua yang sakit batuknya makin menjadi-jadi itu, aku minta diri untuk pamit pulang. Dan memang matahari terlalu dini untuk menghianati, serta senja nampak terburu-buru. “Saya pamit dulu mbah, sudah sore, mau siap-siap besok mau keluar kota”
“O, ya silakan, Dimas, jangan lupa, ingat pesan.. ohok! Ohok! Ohok!” dia terbata bata, bertarung menguasai obrolan di atas batuk yang menjadi-jadi itu “hmmm.. jangan lupa pesan saya ya, Dimas!”
“baik, mbah, saya ingat pesan mbah” sambil tersenyum aku pamit “assalamualaikum!”
“Walaikumsalam” jawabnya..

***

            Pagi itu pun tiba, jalanan nampak masih berkabut ketika aku dan ibuku sibuk menyiapkan tas dan barang-barang, sedang ayahku sibuk memanaskan mobil dan mengecek mesin,  pun burung-burung sibuk membangunkan temannya untuk menyambut matahari yang malas-malas menunjukkan sinarnya. Pagi itu sangat sibuk meski semua tau, ketika itu masih terlalu pagi untuk sibuk.

Kami berangkat berdua, aku dan ayahku, kami di antar oleh mbah kakung dan ibu sampai pintu gerbang rumah mbah kakung. Aku dan ayahku ini rencana akan bertolak menuju kota Pemalang, tempat kampung halaman ayahku. Untuk menghabiskan libur akhir semester. Dan kami pun berangkat..

Sampai pula kami di kota Pemalang, setelah sampai dirumah eyang, itu panggilang ku kepada bapak dari ayahku, kami langsung menurunkan barang-barang dan dipindahkan ke kamar.

Setelah menginap satu hari, ayah meninggalkan ku dirumah eyang, karna dia masih ada pekerjaan kantor yang tak bisa menunggu barang beberapa minggu untuk diselesaikan. “Ayah tinggal kamu disini ya, Dimas. Kamu liburan disini, temani eyang dan uti mu, nanti ayah jemput kamu setelah liburmu selesai, ayah masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dirumah”

Dua minggu berlalu, aku dan anak-anak setempat cepat sekali akrab, karena anak-anak desa sering berjualan es lilin buatan uti ku, uti adalah sebutanku untuk istri dari eyang dan ibu dari ayahku, dan dijajakan kepada anak-anak sepermainan di desa, aku pun kadang mengantarkan es buatan uti ku itu.

Setelah ayah menjemputku dan kami sampai dirumah mbah kakung, lalu kami pun turunkan pelbagai barang-barang dan oleh-oleh yang dititipkan dari keluarga dan sanak ayahku di kampung halamannya. Kami bercerita tentang desa di daerah kota Pemalang itu dan kehidupanku setelah dua minggu disana. Setelah menata barang dan semua sudah mengatur nafas masing-masing, ibu memanggilku dengan membawa bungkusan kotak dilapisi koran, ku amati bungkusan itu “ini ada titipan dari kakek, yang agak sinting itu, sebelum dia meninggal… ” aku terkejut mendengar ibu. “Ha? Meninggal!?” Aku tertegun, haru, heran, merenung terdiam pandanganku lurus menembusi bungkusan kotak itu, bayangan senyuman dingin tua nya datang lagi, sama seperti saat pertama kali bersua waktu itu. “Iya dia meninggal, kira-kira sepuluh hari yang lalu, Dimas. Dia titipkan bungkusan ini ke tetangga nya dan disampaikan kepada ibu. Dimas hati-hati ya, ibu enggak mau terjadi apa-apa, itu isinya apa?” Aku membukanya, merobek bungkusan itu, ku lihat didalamnya ada buku, ya, buku MADILOG terbitan sekitar tahun lima puluhan “buku apa itu, Dimas?” tanya ibuku memaksa. “Buku madilog, bu.”

Aku masih tak percaya dia telah tiada, serasa baru kemarin keakraban kami tercipta. “Meninggal karena apa, bu?” kutanyakan penyebab kematian nya “dia sakit-sakitan, Dim. Itu buku apa? Awas nanti kamu ketularan gila, Dim!” Tanpa menggubris, ku jamah sampul buku itu, dan aku berjanji dalam hati, aku akan menyimpan nya baik-baik!

***

Satu minggu berlalu tanpa senyuman dingin keriput kakek tua renta itu, tapi wajahnya tak mau hilang di benakku, terus berterbangan dan tak suka diam.

Sepulang sekolah waktu itu, sudah ada niatan dalam hati dan ingin menjenguknya di tempat peristirahatan terakhirnya, sambil nyanyi dengan gumam “we shall over come.. We shall overcome someday!” Dan setelah aku selidiki ternyata lagu itu adalah ciptaan Pete Seeger. Aku menuju makamnya dan ku renungkan kembali apa kata-katanya sambil menatap kuburan mbah Yuwono si tua renta gila yang kini sudah rebah untuk selama-lamanya.
Mataku terpaku, pikiranku tercengang melihat tulisan dipatok kuburannya. Disitu tertulis : Yuwono, lahir: 1910, wafat: 29-3-1990. Perintis kemerdekaan. SK mensos. No: pol 56/61 DK tgl: 3-3-1990. Pugar tgl: 17-8-1990 pmb Cilacap I jawa tengah.
Aku tercengang melihat tulisan itu! Hatiku kaku, pikiranku kembali di gentayangi, antara wajah tua renta dengan senyum dingin dan dengan foto kusam seorang pemuda bersaputangan merah pada leher. Lalu pembantaian itu? Penangkapan itu? Yuwono? Ya! Yuwono! Dialah kakek tua itu! Foto kusam itu adalah dia, tak salah lagi. Aku diam terharu, ternyata dia adalah salah satu orang yang mendirikan negara ini. Dia seorang pendiri negara!

***

Berhari-hari aku berpikir, lama aku terdiam dan melamun memikirkan hal yang baru terjadi belakangan ini, dan yang membuatku tak bisa tidur nyenyak.

Sepuluh hari setelah kejadian itu, menyusul menghadap sang pencipta. Mbah kakungku di panggil yang maha kuasa. Dia meninggal karena serangan jantung, tak ada pertanda apa-apa sebelumnya, dia meninggal ketika sedang sarapan, dengan lidah tergigit sampai mulutnya berlumuran darah karna lidah yang tergigit itu!

Keluarga berkabung, duka menyelimuti keluarga besar kami, pakde dan bude ku semua di beri kabar dan semua berkabung, tapi ada berkah dalam sepeninggalan mbah kakungku ini, semua keluarga bisa berkumpul. Mereka yang selalu sibuk dan tak pernah ada waktu menjenguk mbah kakung ku, sekarang bisa pulang untuk bersedih-sedih dihadapan bangkai orang tua yang tak pernah mereka pedulikan sebelumnya.

Setelah prosesi pemakaman, malam nya kami menggelar yasinan dan doa-doa pengantar kepergian mbah kakung ke alam barzah.
Pada hari ke tiga setelah kepergian mbah kakung, dikamar mbah kakung, ibuku dan kakak-kakak nya membongkar lemari mbah kakung dan berkas-berkasnya. Aku ikut membongkar dan membantu mbersihkan album foto yang sudah usang. Aku bantu membenahi berkas-berkas milik kakekku ini.

Tiba-tiba mataku tertuju pada foto seorang pemuda gagah berkumis, dan pada sebuah daftar nama. Disitu tertera tulisan “SURAT PERINTAH” serta nama desaku dan nama nama orang. Ada sekitar lima puluh nama tertera disitu.
Setelah ku cermati satu persatu nama itu, mataku tertuju pada satu nama; Yuwono. Mungkinkah? Diakah Yuwono itu? Mungkinkah mbah kakung ku? Pembunuh? Ini daftar orang-orang yang terlibat.
Iya, akhirnya aku bisa menyimpulkan sekarang, sinisnya sikap mbah kakung terhadap mbah Yuwono kakek tua renta sebatangkara itu, memang didasari atas kejadian masalalu dan orang-orang yang ‘terlibat’ ini, kakek ku lah eksekutor itu! Akulah cucu nya! Cucu pembunuh!

Pikiran ini terus membayangiku, dan aku merasa sangat bersalah kepada masalalu, kepada mbah Yuwono, bisa jadi yang membunuh istri dan anaknya adalah kakek ku? Astagfirullah…

Setelah lulus SMA, aku dan keluarga keluarga pun pindah kembali ke kota dimana ayah ku bekerja, dan aku memutuskan kuliah diluar kota. Aku ingin benar-benar melupakan suasana desa dan bayang-bayang kejadian masalalu. Aku benar-benar ingin pergi, melupakan dan tak memberikan sredikitpun tempat untuk mereka dalam benakku.
Aku pergi entah untuk sampai kapan untuk kembali lagi ke desa itu, meninggalkan masalalu dan kebusukan nya. Selamat jalan masalalu, selamat jalan mbah kakung, selamat jalan mbah Yuwono..

Majenang,

 

 

 

About Khairil Anhar

Saya Khairil Anhar, sekarang saya mengelola organisasi Perpustakaan Jalanan bersama kawan-kawan saya. Yang memiliki sekretariat dan aktif dalam gelaran setiap Sabtu malam atau Minggu pagi di Taman Kota. Kami menamai organisasi ini dengan nama Pojok Pustaka. Alamat saya dan kepengurusan organisasi ada di Jl. Kantil RT 002/RW 002 Sindangsari, Majenang, Cilacap. Telpon :083112928782 Ig : memanusiakan_manusia email : Khairilanhar2015@gmail.com
x

Check Also

Menabrak Malam

Ia bangun, meraba bola kepala, mengusap helai-helai rambutnya yang hitam sepekat malam yang menjuntai tak ...