Latest
Home » Cerita » Penjemputan nakamura, 1974

Penjemputan nakamura, 1974

Saat itu jam tangan ku mengarahkan jarumnya pada angka 2, siang itu cukup cerah ketika kami sampai di Ternate, Maluku Utara.

Kedatangan ku dan kawan-kawan bukan tanpa tujuan, kami kemari memang ada keperluan analisis dari kantor ku. Aku berperan menjadi Ketua Redaktur dalam Tim ini.

Tujuan kami kemari mengadakan analisis terkait kejadian pasca Perang Dunia kedua, dengan isu yang memang pernah di muat media puluhan tahun silam. Demi mendapatkan informasi yang aktual, kami langsung mendatangi pelaku sejarah.

***

Faizal Abdul Aziz (64 tahun), sebagai narasumber yang masih ada saat ini. Hanya beliau yang dapat kami temui disini untuk dapat memberikan penjelasan terkait isu yang ingin kami angkat. Beliau adalah pelaku sejarah langsung terkait penjemputan seorang Prajurit Kekaisaran Jepang yang tertinggal di hutan Morotai, seorang Prajurit Jepang yang tinggal di hutan selama 30 tahun.

Setelah bincang-bincang perihal tujuan dan maksud kedatangan kami, aku mulai menceritakan hal ihwal yang menjadi maksud kami mendatangi beliau, yakni untuk mengadakan wawancara dan dokumentasi terkait apa yang akan kita diskusikan.

Sambil menyulut rokoknya, ia bercerita dengan suara berat, namun wajah tua yang ramah, ia mulai menceritakan cerita 40 tahun lalu itu.

Asap rokok kretek memenuhi ruang tamu dan bersua dengan keseriusan, kami mendengarkan Faizal memulai bercerita. Tim mulai mencatat dan merekam, terlihat pikiran nya menggapai-gapai ingatan untuk di lontarkan “dulu, memang sudah pernah tersiar kabar ada seorang prajurit veteran Jepang yang yang masih bertahan di hutan Desa Pilowo pulau Morotai, prajurit veteran tersebut bernama Nakamura. setelah Perang Dunia kedua berakhir, lalu kabar itu tersiar ramai sampai ke telinga masyarakat luar pulau.”

Setelah melakukan dialog kami amati setiap lontaran kalimat yang keluar dari bibirnya dengan takzim, dan tim mencatat apa saja yang terlontar dari percakapan ini mengenai informasi tersebut. Lalu “Pada waktu itu, Kapten Lawalata selaku Kapolsek pulau Morotai mendapat pengaduan dari seorang warga desa Pilowo terkait adanya seorang Prajurit Jepang yang bersembunyi di hutan” ucapnya santai.

Dari obrolan ini kami dapat menyimpulkan, kira-kira begini: Pada awalnya Kapten Lawalata tak percaya dengan pengaduan Tuan Luther, namun dengan makin tersiarnya nya kabar tersebut akhirnya pihak Kepolisian mendiskusikan permasalahan ini dengan pihak TNI AU selaku Otoritas yang cukup memiliki wewenang di era Orde Baru. Kapten Lawalata bertemu dengan Komandan Pangkalan Udara TNI AU di pulau Morotai, Kapten Supardi.

Berdasarkan keterangan Luther, awalnya ia tak mengenal prajurit tersebut. Ia dikenalkan oleh ayahnya, Tuan Baicoli.

Awalnya Luther tidak mengetahui bahwa ayahnya berteman dengan seorang prajurit Jepang. Menurut cerita, Baicoli bertemu prajurit tersebut ketika ia sedang berburu babi hutan sebelum memulai pertemanan nya hingga puluhan tahun.

Dari pertemanan itu Baicoli sering mengunjungi prajurit Jepang itu, Nakamura. Mereka sering bertemu dan berburu bersama didalam hutan.

Lambat laun pertemanan mereka kian akrab, Baicoli sering membawakan bahan-bahan makanan, seperti gula, garam, dan teh.

Seperti yang di tuturkan Faizal, awalnya tidak ada yang mengetahui cerita pertemanan Baicoli dengan Nakamura ini, hingga pada akhirnya Baicoli sakit-skitan dan tak mampu lagi ke hutan baik untuk berburu maupun memberikan bahan-bahan makanan serta mengunjungi Nakamura di hutan. Baicoli pun memutar otak. Akhirnya ia memutuskan untuk mewasiatkan kepada anaknya, Luther, agar melanjutkan pertemanan nya dengan Nakamura.

Dengan begitu akhirnya Luther pun melanjutkan pertemanan dengan Nakamura setelah mangkatnya Baicoli. Ia lah yang kini menggantikn ayahnya memberikan bahan-bahan makanan untuk Nakamura di hutan.

Namun nampaknya takdir berkata lain, pada akhir 1974 Luther pun mulai merasakan bahwa hidupnya takkan lama lagi, ia terserang malaria. Karena Luther tidak memiliki anak akhirnya ia memutuskan untuk bercerita kepada sanak saudara. Sebelum akhirnya cerita tersebar luas dikalangan masyarakat desa.

Karena makin beredarnya kabar dan ditakutkan nya pada aksi-aksi tertentu dari warga, Lantas ia laporkan kejadian ini pada Kapolsek Pulau Morotai, Kapten Lawalata.

“Akhirnya dibentuklah tim ekspedisi penjemputan Nakamura di hutan Pulau Morotai, tim berjumlah 20 orang, dengan saya sebagai anggota tim yang di pimpin langsung Kapten Supardi dari TNI AU Ternate” ucap Faizal seraya pemantik membakar ujung keretek nya.

Dari informasi yang kami tangkap, Faizal masih berusia 24 tahun ketika itu, ia di ajak langsung oleh Kapten Supardi. Ia yang ketika itu menjabat sebagai kontributor RRI Ternate dipulau Morotai, menjadi satu-stunya wartawan yang meliput kejadian tersebut.

“Kami berangkat pada tanggal 18 Desember 1974, satu bulan setelah perundingan dan persiapan atas laporan Luther.” Tutur faizal menjelaskan prosesi awal penjemputan Nakamura.

“Perjalanan memakan waktu berjam-jam, kami jalan kaki menerobos hutan dari pagi hingga petang.”

dan Faizal menjelaskan bahwa ternyata penjemputan ini di rahasiakan untuk warga masyarakat, karna pihak tim tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan dari reaksi masyarakat yang berlebihan.

“Setelah melewati hutan, mulai dari pusat kota pulau Morotai hingga ke kawasan hutan di desa Pilowo tempat persembunyian Nakamura, akhirnya kami mendirikan tenda. Kami tidur di hutan.” Iya nampak menggapai-gapai pikiran nya, mengingat kejadian itu sudah 40 tahun yang lalu. Cukup lama.

“Kami mulai mengatur rencana sekenario untuk penjemputan Nakamura.” mengingat Nakamura adalah prajurit Jepang era Perang Dunia Kedua dan sejak 30 tahun lalu tak pernah bertemu masyarakat, tim memang harus merencanakan nya dengan sangat hati-hati.

Kepulan asap bersahutan, riuh dalam hening nya ruangan. kembali kami dapat menangkap cerita bahwa dari salah satu anggota tim, ada seorang Sersan Mayor bernama Hanz Anthony yang fasih berbahasa Jepang. Ia kemudian mengatur siasat, memerintahkan seluruh anggota tim untuk menghafal lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang. Selain itu tim juga membawa bendera Matahari Terbit Jepang, bendera Merah Putih Indonesia, foto Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dan foto Presiden Soeharto.

Setelah berhasil mengatur siasat, pada pagi hari tim penjemput pun kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Setelah melakukan penyisiran area hutan cukup lama, tim menemukan sebuah gubuk yang di duga milik Nakamura. benar saja, setelah tim ekspedisi menunggu beberapa lama dan bersembunyi, Nakamura muncul dari hutan menuju gubuk miliknya.

Tim berhasil mengepung gubuk tersebut, Nakamura terkejut dan nampak perangainya sangat gugup dan takut, ia bersembunyi di balik gubuk.

Sesuai sekenario, lalu tim menyanyikan lagu kimigayo sembari mengibarkan bendera Jepang. Mendengar lagu tersebut, dengan sigap Nakamura berdiri lalu memberikan hormat kepada bendera Jepang. pada saat itu pula Sersan Mayor Hanz Anthony menyergap Nakamura dan tim dari TNI AU menodongkan senjata pada Nakamura. Nakamura menyerah.

Dengan kepiawaian dan kefasihan nya berbicara dengan bahasa Jepang, Sersan Mayor Hanz menjelaskan kepada Nakamura bahwa perang telah usai sejak 29 tahun yang lalu. Jepang, sebagai negara yang di bela nya sudah kalah oleh Sekutu. Mayor Hanz menjelaskan bahwa pulau Morotai sudah menjadi daerah Merdeka yang bergabung dengan negara yang bernama Indonesia. dengan menunjukkan foto Presiden Soeharto dan Bendera Merah Putih, Sersan Mayor Hanz juga menjelaskan bahwa Jepang kini di pimpin oleh Perdana Menteri Kakuei Tanaka, sebagai kepala pemerintahan Jepang.

Faizal menjelaskan kembali “bohong jika penduduk menceritakan bahwa Nakamura berambut gondrong dan acak-acakan serta tubuh yang tidak terawat ketika di temukan! saya yang lihat, tubuhnya terawat, ya, meskipun ketika di temukan pakaian yang di gunakan hanya berbahan karung goni. Namun tubuhnya berisi dan berkulit langsat asia.” Tukasnya pada tim redaksi kami.

***

Kami mencatat dan merekam dengan takzim dan hati-hati.

Dari apa yang dituturkan Faizal kami kembali menangkap kata-katanya. Penjemputan tersebut, lalu tim ekspedisi memeriksa bagian-bagian dari gubuk milik Nakamura, dalam gubuk yang hanya berukuran 2×2 meter dan terbuat dari kayu dan atap tersusun dari dedunan rumbia itu kami menemukan sebuah senjata laras panjang yang telah di simpan nya selama 30 tahun, senjata itu nampak terawat. Dan tim juga menemukan 14 peluru aktif yang terkubur dalam tanah.

Dalam gubuknya itu juga tim menemukan satu botol minyak babi untuk merawat senjata dan sebagai bumbu masak.

Ranjang di gubuknya terbuat dari tumpukan kayu yang telah melengkung, Mayor Hanz menjelaskan bahwa ranjang kayu tersebut memang di buat untuk proses membakar diri yang akan di lakukan Nakamura ketika ia sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa.

Nakamura memanfaatkan kawasan sekitar gubuknya untuk menanami berbagai macam jenis umbi-umbian. Ia membangun pagar yang mengelilingi gubuk dan pekarangan nya.

***

Nakamura di beri pakian seragam oleh TNI AU, dengan kapal Speedboat ia sampai di pelabuhan tanpa perlawanan dari Nakamura.

Tim membawa Nakamura ke kota. Ternyata warga pulau Morotai sudah ramai, penduduk di hebohkan dengan berita penemuan prajurit Jepang di hutan belantara.

“Nakamura ini sudah 30 tahun ya, tidak berjumpa peradaban. jadi sepertinya ia nampak bingung melihat keramaian.” Sambungnya dalam dialog.

Menurut keterangan dokter di Pangkalan TNI AU, Ia baik-baik saja dan sehat.

Berdasarkan keterangan Mayor Hanz, Nakamura sengaja bersembunyi karna ia berpikir bahwa pulau Morotai masih dikuasai Sekutu, menurutnya pesawat Hercules yang sering mondar-mandir di Pangkalan Udara TNI AU pulau Morotai adalah pesawat Sekutu. Jadi ia memilih tetap bersembunyi.

Menurut penuturan Faizal, Nakamura sempat tinggal beberapa hari di Pangkalan Udara TNI AU. Banyak kegiatan yang ia coba lakukan, seperti mencoba menaiki sepeda walau akhirnya jatuh.

Sampai akhirnya prajurit Jepang itu di jemput oleh Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Marsekal Saleh Basarah dari Jakarta dengan pesawat Hercules. Rombongan penjemput menyertakan puluhan wartawan.

Setelah di bawa ke Jakarta bersama rombongan. Nakamura di antar menuju Duta Besar Jepang di Jakarta. Pada awalnya memang Nakamura ingin di kembalikan ke Jepang, namun rencana itu terhalang masalah administrasi, karena sebenarnya Nakamura hanyalah seorang prajurit sukarela atau wajib militer Jepang di Taiwan.

Akhirnya setelah bernegosiasi, Nakamura di pulangkan ke Taiwan. Namun sampai saat ini Faizal tidak mengetahui nasib dan bagaimana kehidupan Nakamura.

Sebenarnya Nakamura adalah pasukan sukarela koloni Jepang. kedudukan jepang yang ketika itu menguasai Taiwan jadi penyebab ikut serta nya Nakamura menjadi Tentara Jepang.

Kami juga mendapat informasi dari pihak lain, namun masih dengan keterkaitan isu yang sedang kami angkat, bahwa menurut LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) sekaligus saksi sejarah, Jepang dahulu menguasai pulau tersebut dengan kekuatan 1000 personel prajurit. Namun, karena letak pulau yang strategis, Sekutu mengirim sekitar 90.000 pasukan untuk merebut pulau Moratai. Pasukan Jepang lari tunggang langgang, termasuk Nakamura. Pasukan yang tersisa melarikan diri kedalam hutan dan bersembunyi selama puluhan tahun.

***

Setelah aku dan tim menelisik, ternyata Nakamura adalah penduduk asli Taiwan, kemungkinan suku Amis. Memang Taiwan ketika itu sedang diduduki pasukan Jepang, dan mereka bercokol di dalam nya.

Lahir tahun 1919, ia terkena Wajib Militer dan masuk dalam Kesatuan Angkatan Darat unit sukarela Takasago Jepang, pada bulan November 1943.

Ia di tempatkan di pulau Moratai indonesia tak lama sebelum perang perebutan berkecamuk pada bulan September tahun 1944, ia dinyatakan tewas pada bulan Maret 1995.

Setelah pulau itu berhasil di rebut Sekutu, nampaknya Nakamura menetap di hutan bersama prajurit yang tersisa hingga dekade 1950-an.

Namun, pada sekitar tahun 1956 Nakamura mengalami keputusasaan untuk menetap bersama dengan prajurit yang lain. Ia memutuskan untuk memisahkan diri. Ia membuat gubuknya sendiri di pedalaman rimba, yang terdiri dari gubuk dan lahan sekitar 20×30 meter.

Dituturkan kembali mengapa Nakamura memisahkan diri dari prajurit yang lain nya. Nakamura mengatakan bahwa mereka mencoba untuk membunuhnya. Namun ada bantahan dari pihak prajurit yang lain, yang di temukan terlebih dahulu pada tahun 1950 bahwa mereka tidak ingin membunuh Nakamura.

Setelah penjemputan itu, Faizal dan media sudah tidak lagi mengetahui atau mengabarkan terkait kehidupan sang prajurit. dimana ia kini, dan masihkah ia hidup kini?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*