Breaking News
Home » Cerita » Menabrak Malam

Menabrak Malam

Ia bangun, meraba bola kepala, mengusap helai-helai rambutnya yang hitam sepekat malam yang menjuntai tak terlalu rapi sebab nampaknya sejak kecelakaan itu belum bersentuhan dengan gerigi-gerigi sisir yang lugu. Ia menabrak malam yang sedang masyuk menari dan menyanyi menghibur diri dari keriuhan rutinitas yang begitu-begitu melulu. Ia coba berpuisi tapi gagal. Kata-kata melesat menuju entah apa dan di mana yang jelas jauh sekali telah keluar dari bola kepalanya. Tak percaya, ia coba meraih jari-jari Si Lugu1dari mulut tas jinjingnya. Kata-kata memang terbaca tapi sama sekali tak berbunyi bagi pemahamannya. Jangan-jangan sesuatu yang mahapenting telah meloncat dari bola kepalanya begitu saja begitu seketika kala kecelakaan itu terjadi. Jangan, jangan…

Benarkah malam sekeji itu padaku, demikian ia meraung-raung dalam hati tak habis pikir malam yang dipuji-pujinya selalu sebab mampu merahasiakan banyak hal kini merenggut apa yang oleh manusia disebut sesuatu yang mahapenting. Benarkah itu kelakuan malam.

“Kinan…” Ciuman mama pada salah satu sisi pipi segera membangunkannya.

“Wajah Kinan lesu, sebaiknya segera mandi, sayang!”

“Mama, apa yang terjadi kalau sesuatu yang mahapenting hilang dari hidup kita?”

“Ada apa? Sebaiknya lekas mandi, mama sudah menengok jadwal, ada kuliah pagi kan hari ini?” Pertanyaan-pertanyaan mamanya sering tak memerlukan jawab.

“Tapi, ma, aku tidak yakin sanggup kuliah pagi ini. Sesuatu yang mahapenting itu…” Kinan bergeming dan melesat menuju kamar mandi. Ia mandi tak khidmat.

“Mama dan ayah tunggu di meja sarapan ya, sayang” Di dalam kamar mandi, Kinan menangguk mengiyakan.

***

”Tentang sesuatu yang mahapenting itu, Kinan, coba kamu perhatikan dengan seksama apa benar hilang semalam atau…” Mama enggan meneruskan kalimatnya.

“Barangkali semalam ialah yang paripurna, ma. Aku curiga sesuatu yang mahapenting itu telah lama hengkang dariku perlahan-lahan, setahap demi setahap, tanpa kusadari”

“Jadi bagaimana, tetap berniat membolos kuliah?” Ayah yang sedari tadi bisu tiba-tiba mengajukan tanya.

“Ingin sekali. Tapi aku musti ke bagian kemahasiswaan untuk mengecek beberapa proposal yang tempo bulan kukirim. Musti mengurus kelengkapan administrasi seorang kawan yang tempo hari berangkat mengikuti pelatihan jurnalistik ke Jakarta supaya memperoleh…sekadar uang ganti transportasi dari universitas. Musti mendata siapa saja yang berniat memiliki kartu pers. Musti, musti…”

“Jadi Kinan pulang agak larut ya, ma, yah. Kinan berangkat dulu”

“Matanya, yah. Pilu sekali” Bisik mama pada ayahnya begitu Kinan melangkah ke luar rumah.

“Praduga ayah, ia benar-benar kehilangan sesuatunya yang mahapenting, ma. Ada saatnya ia akan bercerita pada kita. Sebaiknya kita tidak menampakkan kekhawatiran yang berlebih di hadapannya. Bukan begitu, ma?” Mama mengangguk takzim.

***

Siang demikian meranggas.

Janji bersua dipenuhi. Laporan demi laporan disampaikan masing-masing pimpinan bidang secara bergiliran. Bidang kesekretariatan dalam waktu dekat ini ada dua program kerja yang musti dituntaskan, kliping koran dan pembuatan kartu pers. Semata-mata demi penghematan pengeluaran kas, kartu pers yang dicetak tahun ini akan berlaku selama si pemegang kartu aktif sebagai anggota pers mahasiswa. Pertimbangan tersebut dilatarbelakangi oleh tumpukan kartu pers dari tahun ke tahun yang terus meninggi sebab banyak di antara anggota yang tidak mengambilnya. Barangkali sebab merasa tidak memerlukannya karena tidak pernah bergairah untuk melalukan tugas liputan. Inilah dosa awak-awak pers mahasiswa yang mendarah daging.

Bidang redaksi merutuki kualitas juga kuantitas awak pers mahasiswa yang mumpuni untuk dibebani tugas mengisi laman, menulis edisi khusus, menulis untuk rubrik-rubrik majalah yang tidak sedikit jumlahnya. Sementara jumlah mereka yang menggebu menggelontorkan tenaga dan pikirannya untuk sebuah agenda tahunan pencarian dana dengan embel-embel bazar buku jauh lebih banyak. Jangan dikira cuma bazar buku biasa. Konon serangkaian acara dihelat demi menghisap antusiasme publik. Bedah buku ‘terlaris’ karya penulis eksis diadakan. Seminar-seminar kepenulisan digelar dengan mantra sastrawan-sastrawan ternama. Dekorasi acara cukup menggairahkan untuk menunaikan swafoto di sana-sini. Terbukti tiket-tiket acara ludes dalam hitungan jam seusai pamflet disebarluaskan. Jangan tanya berapa harganya. Untuk bisa mendatangkan aktor-aktris literasi bisalah kau perkirakan sendiri.

Bidang perusahaan membuka laporan dengan derai. Beberapa program kerja jelas tak bisa didanai oleh universitas dan imbasnya tentu saja membiayainya dengan uang kas pers mahasiswa. Laporan pimpinan bidang perusahaan memunculkan berbagai taktik mengolah proposal dana yang hendak diajukan ke universitas. Penggelembungan dilakukan di sana-sini, mengada-adakan apa yang selanjutnya tidak benar-benar ada. Nilai-nilai rupiah dinaikkan untuk masing-masing item yang diajukan. Kami nampak fasih sekali berlaku demikian.

Apa manfaatnya tulisan-tulisan kami bertaring. Dan kehilangan itu kian terasa…

***

Malam yang sendu, di beranda kamar…

Aku baru sadar, bahwa kian tak cocok dengan atmosfir yang demikian organisatoris. Aku muak, sekali muak, muak sekali…Pesan itu terkirim ke akun whatsapp seorang kawan.

“Hahaha, Kinan…Kinan…., kamu telat. Makanya, dulu-dulu aku taubat”

“Banyak sekali yang makin ke sini, kurasa makin….” Kinan tak melanjutkan mengetik kalimatnya dan memilih menghapus seluruhnya. Membalik ponsel dan menjauhkannya dari jangkauan. Pergilah ia ke sudut organik –demikian ia menyebutnya- di halaman rumahnya yang hijau. Berbincanglah ia pada daun-daun yang bergerak lamban diterpa angin yang sangat perlahan. Angin juga membelai helai-helai rambutnya yang hitam sepekat malam yang menjuntai tak terlalu rapi.

“Mama…” Tiba-tiba mama sudah menyandarkan punggung di kursi di sebelahnya seusai menangkupkan jaket padanya.

“Sekar Kinanthi…” Panggilan mama pada namanya yang panjang selalu jadi pertanda akan ada percakapan yang panjang antara mereka. Mata mama menelusup ke matanya. Menakutkan sekali. Ia takut mama mengetahui butir matanya kini nampak keunguan.

“Kalau belum siap cerita, tidak apa-apa.” Mama segera melanjutkan kalimatnya, “Biru ya Kinan…bintang gemintang nampak begitu jelas. Kinan kecil suka sekali mengajak mama dan ayah tiduran di rumput, di bawah bintang-bintang” Kalimat mama kian legawa.

“Sampai pagi, Kinan tak rela berpisah dengan bintang-bintang. Kinan selalu ingin berkawan dengan mereka. Mama dan ayah juga kan…” Kinan melanjutkan ucapan mama, mengenang kalimat-kalimat yang terujar dari mulut kecilnya belasan tahun silam. Lantas Kinan tertidur tak lama setelah terus-menerus menancapkan pandang pada bintang-bintang dan hamparan langit biru yang sayup-sayup mengabu. Ayah akan menggendong Kinan untuk memindahkannya di kamar. Lepas dari gendongan ayah, Kinan menggeliat dan dari raut muka tidurnya hendak menangis tapi tak pernah benar-benar bangun dan memprotes kepindahannya dari halaman rumah beratap langit.  Demikian ingatan mama dan Kinan berpulang.

***

Bagaimana kalau kita bertemu, mari berbincang! Demikian pesan yang masuk ke whatsapp.

“Kok layu sih…” Sementara yang dituju kian beriak air mukanya.

“Gimana, Sekar Kinanthi? Cerita dong, kenapa tiba-tiba begini…”

“Aku baru sadar, aku makin nggak cocok sama…”

“Sebab kerja-kerja yang kamu lakukan selalu berdasar perintah, kamu merasa tak pernah berhak bekerja dengan dirimu sendiri, sesuai kehendak dan kesukaanmu sendiri. Begitu kah?” Yang ditanya mengangguk-anggukan kepala.

“Klasik…” sahut keduanya.

“Oiya, omong-omong, aku jadi ingat teman kita dulu, yang…”

“Yang jauh-jauh hari sebelum pemilihan pemimpin umum telah merancang berbagai program kerja untuk kepengurusan berikutnya, yang justru karena demikian ambisiusnya malah tak memperoleh kesempatan menduduki posisi yang diinginkan, yang di awal kepengurusan baru sempat sesumbar sana-sini sebab kekalahannya mempertaruhkan hidup mati raga dan pikirannya setahun belakangan…”

“Mirip gelaran politik di Senayan”

“Itulah Kinan, kampusmu, tempat menempa kehidupan”

“Ya, ya, harus kuakui, kehidupan politik semerbak di sudut-sudut kampusku”

Dan kisah-kisah asmara picisan diumbar. Rupanya warna-warni macam baju-baju rombeng di pasar. Kesemrawutan asmara campur baur dengan kerja organisasi. Apa manfaatnya mencaci opera televisi yang menayangkan kisah-kisah kehidupan asmara yang serba klise dan murahan.

Sempat menggugat internasionalisasi kampus sebab memicu munculnya aturan pendanaan kegiatan kemahasiswaan yang ketat. Dana-dana besar digelontorkan pada organisasi-organisasi kemahasiswaan yang berhasil menyelenggarakan perhelatan bertaraf internasional, atawa minimal nasional. Pers mahasiswa sebagai salah satu organisasi yang tak muluk-muluk kelabaan. Pontang-panting cari strategi. Sisi-sisi mana saja yang bisa digelembungkan. Akhirnya, upaya kampus memperdaya mahasiswa guna mendongkrak citra di kancah internasional berbalas oleh aksi mahasiswa memperdaya kampus melalui pengajuan proposal dana yang telah digelembungkan. Lantas, apa manfaatnya mengguraukan pejabat-pejabat publik yang tertangkap aparat sebab ketahuan menilap uang rakyat. Sama saja, batinnya.

“Itulah Kinanthi, r e a l i t a…” suara seseorang yang datang dari masa depan membuat cuping telinga Kinan mekar. Siap sedia menerima rangsangan suara dari berbagai penjuru.

“Han…”

“Kamu terlalu nyaman dalam buaian khayal. Utara Bayu, Minke, Yus, Rasus. Kau kira adakah mereka kini? Jika ada, tentu tak banyak. Termasuk kawan-kawanmu di pers mahasiswa, mereka bukan Utara Bayu, bukan Yus. Yang lugu dan tak picisan dalam kehidupannya”

“Itulah r e a l i t a, Sekar Kinanthi”

———————————————————————————————————–

1Novel Voltaire yang dialihbahasakan oleh Ida Sundari Husen. Edisi pertama berbahasa Indonesia terbit pada Januari 1989.  Judul aslinya L’ Ingenu

Solo, 2017

 

 

 

 

About Rizka Nur Laily Muallifa

x

Check Also

Togel

*Oleh; Khairil Anhar Seperti biasa, Aku selalu menuruti perintah ibuku untuk belanja, belanjaan bakal warung ...