Breaking News
Home » Cerita » Gadis Desa

Gadis Desa

Sukaesih, sebenarnya adalah seorang gadis pintar. Ia sekolah di Sekolahan Negeri, yang pada masanya adalah Sekolah unggulan yang sulit untuk dimasuki oleh orang kebanyakan. Pada kelas 1-6, ia selalu ranking tak pernah keluar dari jajaran 5 besar.

Dan Sukaesih tumbuh sebagai gadis yang riang, tak terpungkiri kecintaannya terhadap permainan kanak-kanak bersama kawannya di desa membuat sawah menjadi tempat favorit Sukaesih dan kawan-kawan melepas sore. Meski sebenarnya mampu, ia lebih suka bersekolah dengan bertelanjang kaki, seperti teman-teman desanya dan kebanyakan anak desa.

Namun sejak SMP, ia pindah keluar kota. Lantaran ayahnya yang lulusan MULO –setara SMP saat ini, mengirimnya untuk tinggal bersekolah di tempat saudaranya di luar kota. Ketentuan kerja Rodi di wilayah tempat tinggalnya yang dulu, terpaksa membikin ayahnya membakar ijazahnya untuk lari dari sergapan Tentara Belanda.

Demi menghilangkan kecemburuan sosial kaum Priyayi terhadap pribumi dan orang kebanyakan karena bersekolah dan memiliki ijazah, serta di anggap ingin menghapus strata kaum bangsawan pada masa itu. Dan kini, pasca kemerdekaan seharusnya ayahnya, minimal, bisa menjadi tenaga pengajar yang lumayan mapan. Namun seperti itulah nasibnya. Ayahnya tak mampu untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang lebih tinggi karena masalah ekonomi.

Andai saja dulu ayahnya menjadi tenaga pengajar di sekolah Gubermen, nasibnya takkan seperti ini. Ibunya yang tak bersekolah dan hanya bertani menyebabkan semacam wabah kultural, dipaksanya Sukaesih bertani mengikuti jejak keluarganya. Namun ayahnya, ia berpikir lebih jauh dan terbuka.

Ayah Sukaesih memang berencana mengirim Sukaesih kepada sanak-saudara di kota. Ayahnya memiliki saudara di kota yang terbilang sukses, yang menikah dengan seorang keturunan saudagar dari Arab. Setelah melalui dilema yang cukup memusingkan dan kegalauan yang melelahkan, ayah Sukaesih memutuskan untuk memberangkatnyannya. Dan akhirnya rencana terwujud. Sukaesih pun berangkat.

***

            Kepada anaknya yang nomor tiga, ayah Sukaesih menitipkan amanah. Supaya membawanya, mengantarkan Sukaesih dari terminal dan menemani sampai di kota tujuan.

Pukul 16.30 kira-kira, Sukaesih sampai di Majenang, Cilacap. Lesu nampak bergelayut pada mata kecilnya. Ia di temani abangnya yang nomor tiga turun dari bus, naik dokar sewaan ketika itu. Maklum saja, di kota ini angkutan umum bermotor tak sampai lebih dari pukul 15.00 mereka mangkal.

Begitulah akhirnya dia sampai rumah sanak-saudaranya yang seorang pengepul rempah dan menikah dengan peranakan Arab. Dan peranakan Arab itu adalah seorang bekas wartawan harian kota. Sedang sekarang ia jadi kepala sebuah apotek disini lantaran kantornya di bakar akibat huru-hara. Entahlah, menurut kabar, ia adalah aktivis yang dicari penguasa pada masa itu karena di anggap mengancam keamanan Nasional. Dan kini mereka tinggal damai jauh dari Ibu Kota.

Suatu ketika, Sukaesih teringat. Sebelum keberangkatan, Ayahnya pernah menitipkan bungkusan hitam kecil, ia bilang itu adalah cincin dari nenek Ayah. Ayahnya bilang bahwa ia boleh mengenang ayah-ibunya dengan cincin itu ketika rindu pada mereka. Entahlah, ketika itu tangisnya pecah setelah ibunya memeluk dan menangis. ia takut dan bimbang, terlunta dalam gelombang pikirannya sendiri. Lagi-lagi inilah nasib. Nasib orang yang terlunta di negeri sendiri. Pikirannya melayang cepat melintasi ruang dan waktu, dipenuhi kecemasan dan rasa takut. Ah, gadis sekecil itu mesti di pisahkan dari ayah-ibunya untuk pergi jauh ke kota orang

***

Sukaesih masuk di sekolah favorit di kota nya. SMP Negeri 1. Dan ia tumbuh jadi gadis cantik, mata besar, dan hidung yang tak berlebihan, serta badan yang padat. Rambut semampai lebih panjang dari punggung nya.

Ia kini hidup dengan segala kecukupan, dan sanak-saudaranya itu mencukupi semua kebutuhan yang Sukaesih butuhkan dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri tentu saja. Keadaan yang sangat berbeda tentunya dari kampung halamannya. Namun, keadaan yang berbeda dari kampung halamannya inilah, serta menjadikan ia selalu berkecukupan dalam segala hal, justru membangunkan perasaannya untuk melihat ketimpangan ketika itu.

Pernah ia tak membayarkan uang semester beberapa bulan hingga menunggak hutang di sekolah, tentu bukan tak sanggup membayar. Ketika diketahui ternyata ia memberikan uang semesternya yang untuk beberapa bulan itu kepada kawan satu kelasnya, karena tak tega melihat kawan-kawannya yang salah tiga di kelasnya harus bernasib sama seperti kawan dan dirinya ketika dikampung sana.

Tak pernah punya uang untuk jajan bahkan baju seragam pun mereka minta dari bekas kakak kelas yang telah lulus. Ya, lulus dan jadi kuli bangunan. Akhirnya Sukaesih mendapat surat teguran dari sekolah untuk wali murid.

***

Tiga tahun berlalu, ia masuk melalui gerbang megah dari besi yang di cor tiang gapuranya, masing-masing dengan beton dan tulisan “Kami Datang Untuk Belajar”, tentu saja bagi mereka yang mampu bayar. Ah, mari kita lupakan takdir yang celaka ini, atau kesengsaraan masal yang dibuat-buat ini.

Mungkin ini sebuah takdir Tuhan, atau takdir dari Tuhan-Tuhan baru yang hidup dan berkuasa dari dogma serta manuver untuk menciptakan dalin-dalilnya sendiri.

Tak semua gadis seumurannya bisa melangkah melewati gerbang ini. Asih, teman sekelasnya kini kawin dengan teman satu kelas. Tuti kawan sebangkunya masuk sekolah swasta milik yayasan Kristen, Yanto kini ikut ayahnya jadi petani timun di desa. masihkah harus di tanyakan kemujuran nasib dan takdir?

Ia tumbuh jadi gadis yang di gandrungi banyak lelaki. Dengan keindahan tubuh dan parasnya, ia tak bergeming dari godaan lelaki. Ia tetap menyimpan cita-cita yang di susunnya sejak awal. Namun beranjak kelas 3 SMA, saat itu mungkin jadi saat terindah dalam hidupnya, Ia dipertemukan dengan seorang lelaki. Perawakannya yang tinggi, semampai dengan kumis tipis yang terawat.

Ia, lelaki itu, bekerja sebagai pegawai Perhutani menjabat Mandor Perhutani. Mereka bertemu ketika Sukaesih lewat pulang sekolah melintasi gang yang bersebelahan dengan kantor lelaki itu. Mereka sering bertemu, dan akhirnya keberanian menghampiri lelaki tersebut untuk mengantarkannya pada Sukaesih. Sebagai anak gadis yang cukup idealis terhadap apa yang menjadi tujuannya, awalnya Sukaesih bergeming. Namun tiga bulan waktu berselang, tiga bulan pula lelaki itu mengirim surat pada Sukaesih.

Dan luluh pula hati Sukaesih penasaran. Sukaesih membalasnya, makin sering mereka berkomunikasi. Waktu berlalu, surat tak henti bersahutan, bunga cinta mekar dan mereka menjalin asmara.

***

Cinta bergelora begitu panasnya di dalam kedua hati mereka. Yang memabukkan, yang membikin lupa segalanya.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1, sekolah favorit orang tua para murid di sini, Sukaesih lanjut berkuliah. Ia berkuliah di Universitas di daerah kota tetangga.

Ia ambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, ia pikir ia akan melanjutkan cita-cita ayahnya untuk jadi guru di desa. Cita-citanya untuk membahagiakan ayah, dan keinginan menjadikan desanya lebih maju yang menguatkan ia sampai sejauh ini.

Lelaki itu pun kini berjauhan, namun apalah arti jarak jika asmara menguasai sanubari kedua insan yang saling mencintai. Mereka berkorespondensi, memberi kabar, menceritakan keseharian apa yang mereka lewati. Dan seterusnya.

Suatu hari, pernah lelaki itu mengirim surat kepada Sukaesih, kira-kira begini:

Sukaesih, manisku.
Sedang apa engkau? Aku benar-benar merindukan mu. Wajah mu, rambut panjangmu melambai-lambai
langit malamku. Aku merindukanmu, manisku.

Akankah kita berjumpa?
Jika kau tak keberatan mengizinkan
, aku akan mendatangimu untuk kita bersua minggu depan.

Aku merindukan mu.”

***

Siang itu begitu cerah, Sukaesih menjemput lelakinya di terminal. Menuju kota dan tempat kostnya dengan angkutan umum kota. Mereka berbincang sepanjang perjalananan, saling tatap dan rindu mengepul dari dalam angkutan.

Setelah kejadian itu, sukaesih dan lelakinya lebih sering berjumpa. Lelakinya kini lebih sering mendatanginya.

Suatu ketika, hujan turun saat sukaesih biasa menjemput lelakinya di terminal setelah bersurat dan berjanji akan bertemu hari itu.

Hari itu pukul 16.00 dan langit sudah tak sabar ingin memuntahkan segala kepenatannya seharian tadi. Hujan pun turun, membasahi segala apa yang sentuhnya, termasuk pakaian mereka berdua. Dingin menyerbu sekujur tubuh. mencabik kulit langsat Sukaesih. Menjalar setiap senti kulit mereka, hujan begitu dahsyat menghantam atap halte yang mereka diami.

Hujan baru reda setelah sekitar 30 menit menghajar bumi, cukup untuk membuat selokan di samping jalan dekat halte ruah membanjiri jalanan karena tersumbat sampah yang dibawa turun penumpang angkutan. Kini hanya tersisa cicis  rintik yang belum rampung menyusul temannya menjatuhkan diri ke bumi yang busuk ini. Mereka menuju penginapan dengan becak, maksud baik mengantarkan lelakinya untuk bermalam, karena kontrakan sukaesih tak memungkinkan menampung pria bermalam disana.

Memang hari-hari sebelumnya sukaesih biasa mengantarkan lelakinya itu untuk bermalam disebuah penginapan yang ada di sekitar terminal. Namun hari itu nampaknya memang berbeda.

Hujan gerimis terus mengguyur kota. Mereka kini tinggal berdua dalam ruangan, basah kuyup dan hening yang tercipta tanpa kesengajaan. Lelaki itu mendahului melepas jaketnya dan tanpa menghadap sukaesih dan mengajak nya bicara, seketika sukaesih pun mencopot jaket nya. Ia pakai kaos oblong.

Kulit langsatnya mengkilap terpantul lampu temaram dengan sisa-sisa air hujan yang membuat lepek ujung-ujung rambutnya, memberikan efek kecantikan alami secara tiba-tiba. Alur-alur air hujan menetes di dada dan lengan Sukaesih, serta kaus yang basah memberikan bekas yang kentara pada buah dadanya yang padat berebut besar.

Dengan masih di naungi kerinduan, dua insan itu berbincang kembali. Wajah yang menekur lantai kini berbinar berseri. Tanpa sesuatu yang harus dimulai untuk membuka percakapan, atas nama rindu yang menggebu percakapan pun menghangatkan pertemuan mereka. Mereka kembali bicara. Mereka berbincang di atas ranjangnya. Ah, indahnya memang rindu ini.

Mereka berbincang dan berbincang, dingin tak dirasa lagi, seolah tenaga gaib telah memerintahkan tubuh mereka, nafas pun beradu. Malam yang dingin tiba-tiba memanas, cinta yang tulus, rindu yang murni, dan hasrat yang jujur membuncah dari dada Sukaesih.

Dua insan yang masih muda belia akhirnya menjadi kudapan dalam genangan berahi malam ini. Rindu yang indah.

***

Kini dua bulan berlalu, lelakinya mengirimi sukaesih surat. Ia mendapatkan surat kemarin sore. Dengan bahagia dan selalu tak sabar ia buka dan baca surat itu. Surat itu mungkin nampak mengecewakan, lelakinya memberi kabar jika ia akan dipindahkan tugas keluar jawa dan menyarankan sukaesih mencari lelaki lain supaya bisa terus ada bersama dia.

Terperangah, kaku, menggigil, marah, kecewa. Apa lagi yang bisa di ungkapkan selain perasaan yang memang takkan bisa di ungkapkan nya. Seperti mimpi ia terduduk dalam kamarnya, meraung, ia meraung dalam hatinya “Berengsek! Lelaki berengsek!”.

Tak dirasanya air mata menggenang membentuk mutiara di tepian matanya sebelum akhirnya jatuh menjadi guratan di sepanjang pipi langsat ayunya. Cintanya di campakkan begitu saja. Harapannya sirna sudah, cita-citanya hancur sudah. Sambil mengelus perutnya, ia meraung-raung dalam hati, tak percaya dan membaca kembali beberapa kali surat itu. Diremasnya kuat-kuat surat itu, ia kepalkan tangan meremas dan menangis. Ingin menjerit namun tak kuasa keluar sepatah kalimatpun keluar dari kerongkongannya. Dan iya itu memang tulisan nya! Ia tak salah baca.

Ya, akhirnya gadis desa itu hanya bisa pasrah, berharap semua akan baik-baik saja. Terbayang kembali wajah-wajah orang yang ia sayang. Ayahnya, ibunya, abangnya, orang yang membiayainya sampai sekarang ini, masa kecil yang indah yang tak mungkin kembali lagi. Masa muda yang begitu singkat dan sia-sia, mimpi mimpinya..

***

Ia tak yakin bisa melewati ini semua, hidupnya. Semua berjalan kini dengan kekosongan, kenihilan. Segala apa yang ia lewati kini takkan lagi sama.

Inilah nasib. Kehormatan kini telah raib, Inilah takdir yang di ciptakan oleh manusia. “Apa aku harus kata kepada mereka!?” Pekiknya lirih.

Inilah nasib.. Ia berjalan, keluar kamarnya. Matanya kosong, tatapan nya menekur jalanan, sambil sebelah tangannya memegang buku kuliah, tangan sebelahnya mencengkeram perut. “Kenapa? kau harus hadir sekarang? kenapa? aku bodoh!” Pekiknya dalam hati sepanjang jalan. Ia mengumpat.
ia jalan dan jalan, menekur menangis dan menyesal.

***

Tatapan dan tangis makin membawa ia pada kekosongan menjauh gerbang fakultas, menekur hingga depan gerbang Univeraitas dan jalan raya. Membawanya jauh, jauh dari keramaian. Jiwanya sunyi, gontai. Ia berjalan dan berjalan.. Sepi.. Gelap.. Dingin..

Khairil Anhar, 25 Mei 2017

About Khairil Anhar

Saya Khairil Anhar, sekarang saya mengelola organisasi Perpustakaan Jalanan bersama kawan-kawan saya. Yang memiliki sekretariat dan aktif dalam gelaran setiap Sabtu malam atau Minggu pagi di Taman Kota. Kami menamai organisasi ini dengan nama Pojok Pustaka. Alamat saya dan kepengurusan organisasi ada di Jl. Kantil RT 002/RW 002 Sindangsari, Majenang, Cilacap. Telpon :083112928782 Ig : memanusiakan_manusia email : Khairilanhar2015@gmail.com
x

Check Also

Menabrak Malam

Ia bangun, meraba bola kepala, mengusap helai-helai rambutnya yang hitam sepekat malam yang menjuntai tak ...